alexametrics

Dusun Produktif di Gunungkidul, Menjadikan Lidah Buaya Bernilai Jual

17 Februari 2019, 16:45:09 WIB

JawaPos.com – Hampir setiap pekarangan rumah milik penduduk di Dusun Jeruk Legi, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dipakai untuk bertanam lidah buaya. Sebuah dusun yang mengembangkan tanaman lidah buaya jenis Aloe Chinensis Baker yang dijadikan produk bernilai jual.

Usaha ini memang baru dirintis pada 2014 silam. Namun saat ini warga setempat sudah bisa menuai hasil kerja kerasnya dengan omzet per bulannya mencapai Rp 18 juta dari produk yang dijual, yakni berupa keripik dan minuman.

Upaya menjadikan dusun yang produktif ini tak lepas dari peran seorang pemuda di sana bernama Alan Efendhi, 30. Ia tertarik untuk budi daya tanaman jenis ini ketika masih bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Jakarta.

Alan berselancar di internet kemudian mendapati ada orang yang membudidayakan lidah buaya di Pontianak, Kalimantan Barat. Hal yang semakin menarik baginya, cuaca dan kondisi geografisnya tak jauh berbeda dengan di kampung halamannya, di Dusun Jeruk Legi, Desa Katongan.

“Saya kemudian berpikir untuk mengembangkannya di Gunungkidul. Saya beli bibit di Sidoarjo, karena kalau ambil dari Pontianak takutnya busuk,” katanya, Minggu (17/2).

Alan kemudian membeli 500 batang lidah buaya. Namun saat dikirim ke Gunungkidul hanya sisa sekitar 350 batang saja, sisanya busuk. Setelah ditanam dari jumlah itu kisaran 150 barang yang mampu berkembang. “Ibu saya awalnya kaget, kenapa beli tanaman ini,” katanya.

Merasa tanaman budi dayanya berkembang, ia pun terus melangkah dengan mulai belajar memanfaatkannya. Mengolahnya menjadi minuman dan juga keripik. “Dari tanaman ini kami olah menjadi keripik dan minuman bernama nata de aloevera,” katanya.

Setelah 2 tahun berjalan dan hasilnya sudah terlihat, beberapa warga di kampungnya pun mulai berangsur ikut mengembangkan tanaman ini. Terutama para ibu-ibu di sana yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT).

Ada sedikitnya 100 orang yang ikut dalam pengembangan ini. Alan kemudian membagikan masing-masing 50 batang lidah buaya untuk ditanam di pekarangan rumah mereka.

Pada 2017, Alan kemudian memilih keluar dari tempatnya bekerja. Untuk lebih berfokus pada budi daya tanaman lidah buaya yang dirintisnya. Saat ini ia bersama warga setempat telah berhasil memproduksi 300 sampai 500 cup minuman de aloevera dengan harga Rp 2 ribu per cup.

Sedangkan keripik masih tak tentu jumlah produknya, namun telah dijual seharga Rp 10 ribu. Dari produksi ini ia dan kelompok tani telah mendapatkan penghasilan kotor sebesar Rp 18 juta per bulan.

Pada 2018 pun ia bersama warga mulai melakukan inovasi. Yakni juga membukanya untuk wisata edukasi. Mereka yang berkunjung ke dusunnya dapat belajar mengenai bagaimana budi daya lidah buaya, dari mulai cara penanaman hingga pengolahan menjadi produk bernilai jual.

Terpisah Kepala Desa Katongan, Jumawan mengatakan, pihaknya berencana mengembangkan tanaman lidah buaya ini ke dusun-dusun di sekitar Dusun Jeruk Legi. “Kami mendorong upaya masyarakat dalam keikutsertaannya di sektor pembangunan desa,” ucapnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Ridho Hidayat

Copy Editor :

Dusun Produktif di Gunungkidul, Menjadikan Lidah Buaya Bernilai Jual