alexametrics

Impian Jokowi Jadikan Ciliwung dan Citarum Bersih Bukan Perkara Mudah

16 September 2018, 08:53:44 WIB

JawaPos.com – Lawatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Korea Selatan menyisakan pekerjaan rumah (PR) bagi sejumlah kementerian dan pemerintah daerah. Pasalnya Jokowi ingin agar Sungai Ciliwung di Jakarta dan Citarum di Jawa Barat seindah Sungai Cheonggyecheon, Seoul.

Padahal kondisi kedua sungai tersebut saat ini cukup memprihatinkan. Mulai dari banyaknya sampah, bangunan liar di sepanjang bantaran sungai, kondisi air yang tercemar, serta talinnya. Sehingga butuh kerja keras untuk mewujukannya keinginan Presiden tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Pemprov DKI Jakarta, tidak mudah mewujudkan impian Presiden Jokowi untuk membuat Sungai Ciliwung seindah Sungai Cheonggyecheon, Korea Selatan. Sebab, membutuhkan waktu yang lama untuk memprosesnya.

Impian Jokowi Jadikan Ciliwung dan Citarum Bersih Bukan Perkara Mudah
Penataan Sungai Ciliwung. (Dok. JawaPos.com)

Sekretaris Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Rodia Renaningrum menyatakan, aliran Sungai Ciliwung tidak hanya di DKI Jakarta, maka pihaknya akan merangkul Pemerintah Daerah lainnya seperti Jawa Barat dan Tangerang. Sehingga, bisa dilakukan penataan dari hulu ke hilir.

“Saya bilang istilahnya ngawinin Pemprov DKI, Jawa Barat, Tangerang sana kan. Kali Ciliwung bentangannya panjang kan dari ujung ke ujung, cuma DKI dapat yang di tengahnya, di hulu sama di hilir kan enggak,” katanya.

Butuh Waktu 30 Tahun Jadikan Ciliwung Bersih

Sekretaris Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Rodia Renaningrum menyatakan, upaya-upaya bersama perlu dilakukan oleh Pemprov DKI dan masyarakat. Mulai dari kebiasaan pembuangan sampah hingga pada program yang jelas dan terinci oleh Pemprov DKI.

“Ya kalau seperti Korea Selatan yang saya tahu sih 30 tahun baru beres. Itu pun harus dengan komitmen semua jajaran, semua lini. Bukan bebannya satu SKPD saja,” kata Rodia di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Jumat (14/9).

Menurutnya, jika infrastruktur dibangun sedemian rupa namun masyarakat tidak peduli, akan sia-sia saja. Jadi, Rodia menekankan perlu adanya pembinaan untuk masyarakat agar timbul rasa memiliki bersama terrhadap sungai dan kali di sekitarnya.

“Kita bangun infrastruktur, tapi kalau masyarakatnya nggak care ya sama juga bohong. Sekarang mau seberapa banyak uang yang kita keluarkan untuk infrastruktur, kemudian masyarakat tidak ikut menjaga, gimana?” tegasnya.

Penataan Ciliwung dan Citarum Jadi Program Nasional

Dalam penataan Sungai Ciliwung dan Citarum seperti yang diimpikan Presiden Jokowi, kini Pemerintah Pusat mulai merangkul berbagai pihak untuk bekerja bersama. Bahkan, Pemerintah Pusat telah menyatakan bahwa penataan Sungai Ciliwung menjadi program prioritas nasional.

Kepala Bagian Penataan Kota dan Lingkungan Hidup (PKLH) Kota Jakarta Selatan, Bambang Eko Prabowo mengatakan beberapa waktu lalu, pihaknya diundang ke Kantor Staf Presiden untuk membicarakan naturalisasi sungai Ciliwung.

“Kami sempat konsultasi dengan Kantor Staf Presiden, sama Deputinya kami sampaikan kalau diberikan DKI membebaskan seperti itu mungkin akan lama menaturalisasi Ciliwung. Jadi, kami diberikan waktu sebulan sering komunikasi menata Ciliwung sendiri,” tuturnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/9).

Bambang menilai semua ini harus dikerjakan secara terintegrasi dan terpadu baik antar Kementerian di Pemerintahan Pusat dan antar Pemerintah Daerah yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

“Jadi kemarin diusulkan untuk semuanya satu yang mengarahkan. Jadi dari hulu ke hilir masing-masing menganggarkan, jadi bareng semuanya serempak, nggak masing-masing nanti nggak ketemu lagi kayak Citarum,” kata Bambang.

“Sebab, kemarin ditegaskan Citarum dan Ciliwung jadi prioritas nasional sekarang. Jadi kalau memang ok konsepnya bisa menurut saya (seperti sungai di Korea Selatan),” terangnya.

Senada dengan Bambang, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSSC) Bambang Hidayah pun mengutarakan Presiden melalui Sesjen Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Monardo telah membicarakan kelanjutan program Sungai Ciliwung ini.

“Jadi sudah mengundang kami dan instansi terkait yang terkait dengan masalah Daerah Aliran Sungai seperti kehutan Perhutani, LH, Perkebunan. Jadi menyatu dalam satu program yaitu revitalisasi DAS. Jadinya ke Ciliwung bersih, Citarum saja sudah dimulai. Selanjutnya, prioritas ke Sungai Ciliwung,” kata Bambang saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (15/9).

Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung Baru 16 Km

Dalam menata Sungai Ciliwung bukanlah perkara yang mudah. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), Bambang Hidayah menjelaskan upaya normalisasi masih berjalan.

Bambang menyebutkan dari 2013 total target normalisasi yang ditetapkan adalah sepanjang 33 km. Sedangkan, sampai saat ini tahap penyelesaian baru sampai 16 km dari yang ditargetkan.

“Jadi target penyelesaian 33 km dari 2013, tapi memang sampai saat ini progressnya baru 16 km yang telah dinormalisasi,” jelasnya saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (15/9).

Faktor yang paling mengikat lamanya waktu proyek normalisasi diakui Bambang karena lamanya pembebasan di sepanjang sungai Ciliwung. Selama ini, pihaknya mengaku menunggu Pemerintah Daerah terkait untuk membebaskan lahan.

“Begini kita mau ajukan (normalisasi) jika Pemprov DKI sudah melakukan pembebasan lahan. Namanya juga membebaskan lahan kan perlu waktu,” terangnya.

Untuk diketahui, proyek normalisasi sungai Ciliwung terbagi menjadi empat ruas. Ruas dari hulu yakni Jembatan Condet-Jembatan Tol TB Simatupang dengan target pembuatan tanggul 7,58 baru terealisasi 3,47 km. Bagian hulu ini meliputi Kelurahan Pejaten Timur, Kelurahan Tanjung Barat dan Kelurahan Gedong.

Selanjutnya, ruas Jembatan Kalibata-Jembatan Condet yang meliputi Kelurahan Rawajati, Kelurahan Pejaten Timur, dan Kelurahan Balekambang, terealisasi 3,10 km dari rencana 7,55 km.

“Untuk ruas Kampung Melayu-Jembatan Kalibata dengan rencana 8,82 km baru terealisasi 4,67 km. Kelurahannya ada Kebon Baru, Bidara Cina, Cikoko, Pengadegan dan Cawang,” terangnya.

Ruas yang terakhir, ada pada Pintu Air Manggarai-Jembatan Kampung Melayu yang meliputi Kelurahan Bukit Duri dan Kampung Melayu terealisasi 4,95 km dari rencana 9,74 km.

Editor : Erna Martiyanti

Reporter : (rgm/JPC)


Close Ads
Impian Jokowi Jadikan Ciliwung dan Citarum Bersih Bukan Perkara Mudah