JawaPos Radar

Polrestabes Surabaya Usut Dugaan Makar Mahasiswa Papua

16/08/2018, 10:15 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Kombes Pol Rudi Setiawan
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan saat memberikan keterangan resmi, Rabu (15/8) malam. (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pemeriksaan kasus dugaan pembacokan oleh mahasiswa Papua berlanjut di Polrestabes Surabaya. Rabu (16/8) malam, polisi menjemput 49 mahasiswa dari asramanya di Jalan Kalasan 10, Surabaya. Mereka diangkut dengan truk Sabhara ke Mapolrestabes Surabaya.

Hingga Kamis (16/8) pagi, proses pemeriksaan untuk mencari pelaku masih berlangsung. "Semuanya masih diperiksa. Belum ada yang dipulangkan," sebut sumber internal JawaPos.com di kepolisian.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menegaskan, pengangkutan mahasiswa Papua sudah sesuai prosedur dan undang-undang yang berlaku. "Intinya polrestabes profesional. Ini negara hukum. Hukum harus ditegakkan," tegas Rudi dalam keterangan resminya, Rabu (15/8) malam.

Rudi juga membeberkan akar mula keributan antara mahasiswa Papua dengan gabungan ormas. Dia memastikan bahwa kedatangan ormas ke asrama mahasiswa Papua untuk memberitahu surat edaran Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, terkait pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Kemerdekaan RI.

Anehnya, para mahasiswa tersebut menolak mengibarkan bendera. "Ada yang tidak mau memasang bendera Merah Putih. Di wilayah indonesia tidak mau mengibarkan bendera, itu sesuatu yang terpisah dengan penganiayaan," imbuh Rudi.

Ditanya wartawan soal dugaan makar dari mahasiswa Papua, Rudi belum mau memberikan keterangan secara detail. Dugaan makar muncul saat para mahasiswa yang diangkut ke atas truk Sabhara meneriakkan Papua merdeka.

"Kami proses terpisah untuk masalah makar, sekarang (fokus) penganiayaan. Rekaman itu (saat mahasiswa berteriak Papua merdeka, Red) bisa disimpan untuk barang bukti," tutur alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1993 tersebut.

Seperti diberitakan, keributan antara gabungan ormas dengan mahasiswa Papua terjadi pada Rabu (15/8) siang. Pemicunya karena tidak dikibarkannya bendera Merah Putih. Massa ormas hendak menyosialisasikan pemasangan bendera karena menjelang perayaan Kemerdekaan RI. Pedoman mereka adalah instruksi Wali Kota Surabaya yang mengimbau untuk mengibarkan Merah Putih mulai 14-18 Agustus mendatang.

Namun kedatangan massa ormas membuat para penghuni asrama berusaha mempertahankan diri. Salah satu anggota ormas diduga terkena luka bacok oleh salah seorang mahasiswa.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up