JawaPos Radar

Pengerjaan Tol Semarang-Batang Tersendat, Baru 74 Persen

131 Bidang Lahan Belum Dibebaskan

16/04/2018, 14:11 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Proyek Tol Semarang
Proyek pengerjaan tol Semarang-Batang. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Proyek pembangunan jalan tol Semarang-Batang terus dikebut. Selain percepatan pembangunan jalan tol, hal ini juga dilakukan guna mengejar target operasional agar bisa dilalui kendaraan pada lebaran mendatang.

Akselerasi proyek dilakukan dengan penambahan jumlah pekerja. Kepala Seksi Keuangan dan SDM PT Waskita Karya, Idi Heryadi selaku pelaksana proyek tol Semarang-Batang mengungkapkan, penambahan jumlah pekerja dilakukan pada pada seksi IV di wilayah Kendal dan seksi V di Kota Semarang. Dimana sebelumnya dipekerjakan 600 orang menjadi 1.000 orang.

Pihaknya selain menambahkan jumlah pekerja, juga menurunkan tambahan alat kerja. Seperti crane ekskavator, dump truck dan lainnya. Untuk jam kerja, lanjut Haryadi juga ikut ditambah hingga malam hari.

"Ini dilakukan guna mengejar target sampai Lebaran besok. Tetapi, dari realita lapangan, Lebaran nanti jalan tol baru bisa fungsional dengan satu jalur," kata Haryadi, saat ditemui di lokasi proyek, Senin (16/4).

Pembangunan seksi IV sendiri memiliki panjang jalan 13 km. Sedangkan seksi V sepanjang 10,4 km. Dari pembangunan yang sudah dilakukan, saat ini baru mencapai 74 persen.

Berdasarkan jadwal pekerjaan, seharusnya pembangunan sudah mencapai 90 persen. Atau dengan kata lain ada keterlambatan pengerjaan sekitar 15 persen dari dua seksi tersebut.

"Karena ada kendala di lapangan, meliputi adanya beberapa lahan yang belum terbebaskan. Yaitu makam dan masjid, baik di wilayah Kota Semarang maupun di Kendal," katanya lagi.

Sementara itu, Kepala Seksi Administrasi Kontrak PT Waskita Karya, Ronald Aldriano memaparkan, kendala lahan yang belum terbebaskan yaitu makam di Klampisan, Ngaliyan. Kemudian masjid Al-Mustaghfirin di Beringin juga ada lahan milik warga.

Disebutkannya, terdapat 131 bidang lahan yang belum terbebaskan tersebar di Desa Magelung, Menjalin, Kertomulyo, Sumbersari, Nolokerto, Sumberrejo. "Tapi telah ada proses konsinyasi di PN Kendal," imbuhnya.

Lewat keterangannya, makam di Klampisan, Ngaliyan, ada 1.300 titik. Proses relokasi makam yang merupakan tanah wakaf tersebut tinggal menunggu waktu lantaran tak ada lagi pihak yang merasa keberatan, terlebih sudah ada lahan pengganti untuk itu.

Meski begitu, relokasi belum bisa dilakukan karena lahan pengganti masih berupa dataran rendah. Sehingga, pihaknya masih harus melakukan pengurukan terlebih dahulu sebelum memindahkan makam satu per satu. Dibeberkannya kembali, pihaknya memperkirakan mampu memindahkan sekitar 70 buah makan per hari.

"Jadi setidaknya butuh waktu sebulan untuk relokasi seluruh makam di Klampisan," tandasnya.

Untuk relokasi masjid Al-Mustaghfirin di Beringin, proses administrasi sudah berjalan. Relokasi bisa dilangsungkan saat proses pembangunan masjid pengganti tak jauh dari lokasi awal usai. "Sedangkan lahan warga dalam sengketa sudah dilakukan konsinyasi di PN Semarang," tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up