alexametrics

Bukan Insiden yang Pertama, Dua Bocah Meninggal Terkena Granat Lontar

16 Februari 2019, 09:14:35 WIB

JawaPos.com – Belum kering pusara makam Muhammad Ibnu Mubarok, bocah korban ledakan granat yang tertinggal di tempat latihan menembak Korem 061/Suryakancana, kini kabar duka menghampiri keluarga Muhammad Doni. Remaja berusia 14 tahun tersebut mengembuskan napas terakhir Kamis malam (14/2) di RSUD Leuwilian.

Itu sekaligus menambah jumlah korban meninggal pascainsiden meledaknya granat lontar di Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, menjadi dua orang.

Sebelumnya, Mubarok, Doni, dan Khoirul Islami menjadi korban ledakan granat lontar. Insiden terjadi ketika ketiganya sedang bermain di pekarangan rumah Mubarok. Di antara tiga anak itu, Mubarok yang lebih akrab dipanggil Barok mengalami luka paling serius.

Bukan Insiden yang Pertama, Dua Bocah Meninggal Terkena Granat Lontar
Suhara, mendampingi anaknya Khairul Islami, 10, yang menjadi korban ledakan di RSUD Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/2). Saat insiden itu Khairul selamat. Dua temannya meninggal. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Petugas medis tidak dapat menyelamatkan nyawa Barok ketika dibawa ke RSUD Leuwiliang. “Datang pun sudah tidak bernyawa,” kata Andika Herdiansyah, dokter jaga di rumah sakit itu, kemarin.

Luka di kepalanya kelewat parah. Pihak keluarga langsung memakamkan Barok. Rupanya, duka masih belum berhenti. Doni menyusul kepergian Barok. Sebenarnya, pelajar kelas IX SMP itu sempat ditangani dan akan dioperasi. Malang, dia meninggal sebelum tindakan medis itu dilaksanakan.

Kini hanya Khoirul Islami korban yang selamat. Pelajar SD berusia 10 tahun itu masih dirawat di rumah sakit yang sama. Tungkai dan lengan kiri bocah yang biasa dipanggil Arul tersebut terkena ledakan granat lontar. Beruntung, tubuh bagian atas tidak banyak terkena serpihan granat. “Untuk luka terparahnya terkena di bagian kedua lututnya,” ucap Andika.

Kemarin Bupati Bogor Ade Yasin menjenguk Arul di RSUD Leuwiliang. Dalam kesempatan tersebut, Ade memastikan bahwa instansinya bakal bertanggung jawab atas insiden ledakan granat lontar itu.

Walaupun insiden tersebut terjadi tanpa disengaja, Ade menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. “Kami bertanggung jawab untuk mengobati sampai selesai, sampai sembuh,” terangnya.

Lebih lanjut, Ade mengungkapkan bahwa Pemkab Bogor akan berkoordinasi dengan aparat keamanan. Baik TNI maupun Polri. Khususnya dengan Korem 061/Suryakancana. “Kami khawatir ada sisa-sisa (amunisi senjata api, Red) yang masih ada di situ,” imbuhnya.

Kepala Desa Ciaruteun Ilir Supandi. Pria yang biasa dipanggil Pandi itu menyampaikan, masyarakat Desa Ciaruteun Ilir memang biasa memunguti sisa-sisa latihan tembak. Biasanya mereka mengincar selongsong peluru untuk dijual.

Kemarin Jawa Pos juga sempat melihat langsung lokasi latihan tembak itu. Tempatnya terbuka. Masyarakat bebas keluar masuk area latihan meski sudah terpasang papan petunjuk berisi imbauan agar tidak ada yang sembarangan beraktivitas di sana.

Pantauan Jawa Pos, sama sekali tidak tampak pembatas atau penghalang antara permukiman penduduk dan lokasi lapangan tembak. Tidak heran, banyak warga setempat yang bebas keluar masuk area latihan tersebut.

Bahkan, menurut warga setempat, insiden tersebut bukan yang pertama. Namun, peristiwanya sudah sangat lama.

Kepala Penerangan Korem 061/Suryakancana Mayor Infanteri Ermansyah mengatakan, insiden ledakan granat lontar di Desa Ciaruteun Ilir menjadi atensi instansinya. “Yang jelas, menjadi bahan evaluasi ke depan,” imbuhnya.

Meski demikian, mereka tidak mungkin serta-merta membangun tembok atau pembatas di lokasi latihan tembak itu. Sebab, area tersebut merupakan daerah latihan militer. Bukan area masyarakat sipil. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (syn/c10/git)

Copy Editor :

Bukan Insiden yang Pertama, Dua Bocah Meninggal Terkena Granat Lontar