alexametrics

Jika Tiket Pesawat Murah, Organda Sumbar: Transportasi Darat Bisa Mati

16 Januari 2019, 12:56:18 WIB

JawaPos.com – Kenaikan tiket pesawat di penerbangan domestik beberapa pekan terakhir sempat heboh di tanah air. Berbagai unsur pun menjerit atas kondisi tersebut. Protes keras pun dilayangkan oleh berbagai unsur di Sumatera Barat (Sumbar).

Mulai dari konsumen, ASITA hingga Gubernur Sumbar Irwan Prayitno pun turut geram atas kebijakan tersebut. Sebab, menurutnya, kenaikan tiket pesawat dapat melemahkan kunjungan wisatawan ke tanah Minang yang kini terus bersolek.

Alhasil, jeritan terhadap mahalnya harga tiket tersebut didengar dan Indonesia National Air Carrier Association (INACA) akhirnya menurunkan harga tiket penerbangan domestik hingga 60 persen.

Penurunan harga tiket pesawat ternyata mendapat reaksi berbeda dari pihak Organisasi Angkatan Darat (Organda) Sumbar. Menurut Ketua Ketua Organda Sumbar, Budi Syukur, kenaikan harga tiket pesawat tidak serta merta mengancam pariwisata Sumbar.

Kenaikan itu katanya, bisa digunakan untuk mengukur realita kunjungan wisatawan asing ke Sumbar. “Minat kunjungan wisatawan asing, justru bisa diukur ketika tarif penerbangan domestik tinggi. Di sisi lain, ongkos penerbangan luar negeri tetap normal. Katanya, segmen pariwisata kita pelancong luar negeri,” katanya, Rabu (16/1).

Menurut Budi, pariwisata domestik, rasa-rasanya tidak akan mati jika ongkos penerbangan mahal. Sebab, kebanyakan wisatawan domestik ke Sumbar justru menggunakan jalur darat. Seperti dari provinsi tetangga, Jambi, Bengkulu, Pekanbaru, Medan, hingga Aceh.

“Infrastruktur sudah bagus, wisatawan dari provinsi tetangga tetap bisa menggunakan jalur darat kok,” bebernya.

Budi mengakui, sejak dua bulan terakhir, usaha angkutan bus Padang-Jakarta dan Padang-Medan kembali “bergairah” karena jumlah penumpang yang meningkat cukup signifikan.

“Data Organda untuk masing-masing PO yang biasanya hanya memberangkatkan satu bus sehari, sekarang bisa memberangkatkan tiga hingga empat bus untuk jurusan Padang-Jakarta dan Padang-Medan. Ini dampak postifnya, tapi disatu sisi kita tidak ingin maskapai penerbangan menjerit sendiri. Makanya kita minta harga tiket itu yang ideal,” tegas Budi.

Ketika harga tiket pesawat murah, terang Budi, pengusaha bus pun menjerit. Pasalnya, pengusaha bus sudah menginvestasikan dananya yang sangat besar di bidang tersebut. Dengan harga tiket pesawat murah, tentunya penumpang akan melirik pesawat dibandingkan bus.

“Harga satu bus ada sekitar Rp 2 miliar. Berapa investasi yang ditanamkan pengusaha bus? Kalau tiket pesawat murah, mereka rugi. Siapa yang mau bertanggungjawab? Sekarang kita minta pemerintah tetapkan harga ideal saja agar pesawat dan bus sama-sama untung,” ujarnya.

Kendati begitu, pihak Organda mengaku sepakat jika harga tiket pesawat terbang dipatok sesuai keterjangkauan ekonomi masyarakat. Namun, Organda tidak sepakat jika tarif pesawat terlalu murah. Sebab, cenderung mematikan transportasi darat yang selama ini telah merasakan tekanan berkurangnya jumlah penumpang.

Penetapan tarif penerbangan harus realistis sesuai dengan nilai wajar. Jangan sampai demi memburu konsumen, memangkas komponen lain yang bisa membahayakan keamanan dan keselamatan penumpang.

“Misal Padang-Jakarta untuk penerbangan ekonomi di angka Rp800 ribu sampai Rp1 juta itu wajar. Angkutan darat bisa mengimbangi di angka Rp300 sampai Rp400. Jika ongkos penerbangan sudah mendekati tarif bus, itu rentan mematikan. Ini yang juga perlu dilihat pemerintah,” harapnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Riki Chandra



Close Ads
Jika Tiket Pesawat Murah, Organda Sumbar: Transportasi Darat Bisa Mati