JawaPos Radar | Iklan Jitu

Perbaikan Faskes Diharapkan Kurangi Kematian Ibu dan Anak di Jatim

15 November 2018, 17:35:59 WIB | Editor: Budi Warsito
Perbaikan Faskes Diharapkan Kurangi Kematian Ibu dan Anak di Jatim
Diskusi yang digelar United States Agency for International Development (USAID) membahas tingginya angka kematian ibu dan anak di Jawa Timur. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tingginya angka kematian ibu dan anak di Jawa Timur (Jatim) menjadi perhatian United States Agency for International Development (USAID). Untuk mengatasi hal itu, digelar diskusi untuk menekan angka kematian ibu dan anak.

Pada diskusi tersebut, USAID melansir data tingginya angka kematian ibu dan anak di Jatim. Menurut data, angka kematian ibu mencapai 255 kasus hingga Juni lalu. Diprediksi, angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding pada 2017 yang hanya mencapai 529 kasus.

Sedangkan angka kematian bayi usia 0 hingga 28 hari pada periode yang sama, mencapai 2134 bayi. Angka tersebut, diprediksi meningkat hingga dua kali lipat sepanjang 2018 atau lebih tinggi dibanding 2017 lalu yang hanya mencapai 3234.

Data tersebut juga melansir beberapa kota dengan angka kematian ibu dan anak tertinggi di Jawa Timur. Jember menjadi kota dengan kasus tertinggi. Sementara, menyusul 4 kota lain seperti Surabaya; Pasuruan; Mojokerto; dan Sidoarjo.

Regional Manager Jalin USAID Jawa Timur, Purwida Lilik mengatakan, ada solusi selain aspek medis dari pemerintah. Cukup efektif untuk menekan angka kematian tersebut. "Supaya, para ibu lebih aware tentang pemenuhan gizi yang akan berdampak positif kepada bayinya sejak dalam kandungan,"kata Purwida kepada JawaPos.com, Kamis (15/11).

Pemerintah katanya, dapat melakukan pembenahan terhadap fasilitas kesehatan yang ada. Misalnya, dengan membangun rumah tunggu bagi ibu yang sudah memasuki masa kehamilan lebih dari 7 bulan (hamil tua).

"Supaya nggak bolak-balik rumah sakit lalu pulang ke rumah. Terutama, para ibu yang kurang mampu dan berasal dari luar daerah. Si ibu dan pendampingnya dibiayai melalui BPJS," jelasnya.

Selain itu, pemerintahan di tingkat pedesaan juga dapat mencegah kematian ibu dan anak saat sebelum melahirkan dengan menyediakan ambulan. Misalnya, satu ambulan untuk satu desa.

Kemudian, pemerintah juga dapat melakukan cara dengan memberi pengetahuan dan pelatihan tambahan kepada para perawat. Tak hanya penanganan saat proses melahirkan. Tapi juga penanganan selama beberapa bulan setelah melahirkan

Sebab, masa nifas, mendominasi kematian ibu dan bayi. Yakni, mulai sejak ibu melahirkan bayinya, hingga 42 hari atau 6 minggu kemudian. "Biasanya, saat menangani ibu yang akan melahirkan, perawat selalu menunggu dokternya dahulu. Itu kan terlalu lama," kata Purwida.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up