alexametrics

Penderita Campak Terus Bertambah, Status KLB Ditetapkan di Kapuas

15 September 2018, 11:20:31 WIB

JawaPos.com – Korban penyakit campak terus bertambah setiap harinya di Kalimantan Tengah. Hingga Jumat malam (13/9), tercatat sudah 49 yang terkena campak di Kapuas. Empat korban tambahan ditemukan pihak Dinas Kesehatan Kapuas. Di Pulau Kupang 3 kasus, dan Pulau Telo 1 kasus.

Status kejadian luar biasa (KLB) ditetapkan, karena dalam sepekan ditemukan 18 kasus. Lalu bertambah 17 kasus lagi. Kemudian, dalam tiga hari terakhir bertambah 14 kasus.

 “Kemungkinan besar akan terus bertambah lagi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Apendi, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kapuas dr Tri Utami, Kamis (13/9).

Untuk saat ini belum bisa dikatakan rubella, sebelum hasil dari laboratorium tersebut keluar. Masih dikategorikan campak klinis, karena gejala keduanya hampir sama. Satu-satunya pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan imunisasi dan diberi obat.

Lantaran virus tersebut cepat menular melalui udara, maka masyarakat yang belum terkena dampaknya diharapkan segera melakukan imunisasi. Sekarang pihaknya terus melakukan koordinasi dengan provinsi.

“Terkait dengan status KLB ini, masyarakat diharapkan waspada dan jangan ragu untuk melakukan imunisasi. Bagi yang sudah terkena, untuk sementara waktu dianjurkan tidak ke sekolah dan berkantor. Tingkatkan daya tahan tubuh. Jika ada gejala demam, keluar merah-merah, segera periksakan ke dokter terdekat,” imbuhnya.

Penderita Campak Terus Bertambah, Status KLB Ditetapkan di Kapuas

Terpisah, kasus campak menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalteng. Begitu juga dengan rubella. Kasusnya terus bertambah selama tahun 2018 ini. Plt Kepala Dinas Kesehatan Kalteng Yayu Indriaty menjelaskan, orang yang rentan terpapar virus campak adalah mereka yang belum diimunisasi campak.

Sebab, daya tahan tubuh mereka rendah terhadap virus. Bahkan orang yang pernah diimunisasi campak juga masih bisa terkena, walaupun dampak akan lebih ringan.

“Yang sudah pernah diimunisasi saja masih bisa terkena virus campak. Apalagi yang belum imunisasi. Tentu rentan,” ujar Yayu kepada Kalteng Pos, Kamis (13/9).

Dia mengungkapkan, dua virus tersebut memiliki gejala yang tak jauh berbeda. Ciri-cirinya sama. Seperti demam, batuk kering, pilek, sakit tenggorokan, mata merah meradang, dan beberapa ciri lainnya.

“Orang yang terkena campak bisa saja membawa virus rubella. Dua hal ini berdekatan sekali. Cirinya sama. Namun ketika diperiksa di laboratorium, bisa saja negatif campak, namun positif rubella. Tetapi jarang yang terkena campak ingin periksakan diri untuk tahu lebih lanjut, karena biayanya mahal. Bisa sampai Rp600-700 ribu untuk cek campak. Belum lagi pemeriksaan rubellanya,” kata wanita berjilbab ini.

Penderita Campak Terus Bertambah, Status KLB Ditetapkan di Kapuas

Dia mengungkapkan, orang atau anak yang terkena campak baru mau diperiksa lebih lanjut, ketika sudah terjadi kecacatan, keguguran, dan sebagainya. Jika belum mengarah pada hal tersebut, belum mau lakukan pemeriksaan.

“Biasanya mau periksa ini kalau sudah keguguran, cacat anaknya, atau abortus. Tiga orang yang terkena rubella di Kalteng, disebabkan hal itu,” imbuhnya.

Yayu menjelaskan, Dinkes Kalteng sebenarnya memiliki data yang mengarah pada banyaknya kasus rubella di Kalteng.

“Kalau curiga rubella banyak. Sebab ada kelainan-kelainan yang mirip penderita rubella. Hanya saja belum bisa memastikan. Seperti tuli-dengar karena gangguan telinga, gangguan mata, cacat bawaan, dan beberapa hal lain. Kalau dikejar itu memang bisa ketemu,” jelasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : uni/ndo/ce/ram

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Penderita Campak Terus Bertambah, Status KLB Ditetapkan di Kapuas