JawaPos Radar

Uniknya Jamaah Kloter Sapu Jagad, Pakai Caping untuk Penanda

15/08/2018, 19:05 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Calon Jamaah Haji
PAKAI CAPING: Sejumlah jamaah calon haji menggunakan caping saat akan berangkat ke tanah suci. (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Dalam pelaksanaan ibadah haji, kadang menyuguhkan hal yang unik dan nyentrik. Salah satunya adalah penggunaan penanda bagi calon jamaah haji (CJH). Tidak jarang kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) sengaja memilih benda yang bisa digunakan sebagai penanda. Bisa berbentuk syal, kain, penutup kepala atau penanda lainnya.

Hal ini dilakukan, untuk mempermudah koordinasi atau pun pengawasan jamaah saat berada di tanah suci. Mengingat, nantinya ada banyak jamaah yang berbaur menjadi satu di tanah suci.

Dengan adanya penanda ini, maka ketua rombongan atau pendamping bisa dengan mudah menemukan jamaahnya. Terlebih jika ada jamaah yang tersesat di tanah suci, maka proses pencariannya akan lebih mudah. Hal inilah yang mendasari CJH dari kelompok terbang (Kloter) 95 atau Kloter Sapu Jagad dari Kabupaten Cilacap.

Untuk identitas kelompoknya, jamaah menggunakan sebuah caping. Yakni topi berbentuk kerucut yang biasa dipakai petani saat di sawah. 

Caping yang dipakai jamaah berwarna hijau lengkap dengan identitas negara Indonesia. Caping ini sudah mulai dikenakan jamaah saat masuk ke Embarkasi Donohudan, Solo. Pemandangan ini tentunya terlihat unik, mengingat selama ini sepertinya belum ada yang memilih caping sebagai penanda kelompoknya. Jamaah yang menggunakan caping adalah jamaah yang tergabung dalam KBIH Al Munawarah, Cipari, Cilacap. 

Menurut salah satu jamaah, Dairobi, caping ini selain sebagai penanda juga bisa digunakan untuk melindungi jamaah saat panas menyengat. "Jadi nanti saat di tanah suci, kami tidak kepanasan. Dan ini ciri khusus untuk jamaah dari Kabupaten Cilacap," urainya, Rabu (15/8).

Selain itu, penggunaan caping itu sendiri sebagai promosi dari KBIH yang belum lama ini berdiri. Dengan begitu, maka yang melihat akan mengetahui mengenai KBIH. "Ini ingin tampil beda saja, " katanya. 

Sementara itu, Kasubbag Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Donohudan, Solo, Afief Mundzir menuturkan, penggunaan penanda tersebut diperbolehkan. Dan PPIH tidak pernah melakukan pelarangan bagi jamaah yang menggunakan penanda tertentu.

"Tidak ada pelarangan, karena ini bisa digunakan sebagai identitas jamaah dari Indonesia. Atau kalau tidak nanti juga bisa ditukarkan dengan barang milik jamaah lain dari negara berbeda," ungkapnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up