JawaPos Radar

Sidang Lanjutan Dimas Kanjeng

Rp 35 Miliar Ditukar Uang Afrika Kedaluwarsa

15/08/2018, 17:09 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Dimas Kanjeng Taat Pribadi
Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat menghadiri sidang lanjutan kasus penipuan di PN Surabaya, Rabu (15/8). (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan yang dilakukan Dimas Kanjeng kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (15/8). Sama seperti sidang sebelumnya, pria bernama asli Taat Pribadi itu mendapat dukungan dari para santrinya.

Mengenakan batik hijau dan dengan gaya rambut klimis, Dimas Kanjeng tetap menunjukkan raut wajah yang tenang. Dia kemudian dipersilakan untuk duduk, tanpa didampingi pengacara.

Pada sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jatim Rakhmad Hari Basuki dan M Nizar mendatangkan tiga saksi. Mereka adalah M Ali, Nur Asmi Abas, dan Budi Prayogo. Ali merupakan santri Dimas Kanjeng yang memberikan setoran mahar sebesar Rp 35 miliar.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi
Uang jaminan dari Dimas Kanjeng di dalam koper yang dihadirkan JPU. (Dida Tenola/JawaPos.com)

JPU juga menghadirkan tiga koper berisi mata uang asing yang merupakan jaminan dari Dimas Kanjeng. "Saudara bisa jelaskan bagaimana proses penyetoran uang ini?" tanya M Nizar kepada Ali.

Ali kemudian mulai memaparkan awal mula dirinya menyetor uang Rp 35 miliar. Semuanya berawal saat dirinya ingin mendirikan cabang padepokan di Kudus. Ali sempat menanyakan tentang legal formal status yayasan kepada beberapa pengurus padepokan Dimas Kanjeng. "Beberapa persyaratan yang dari yang bersangkutan (Dimas Kanjeng, Red), kami lakukan," terang Ali.

Persyaratan itu yakni Dimas Kanjeng meminta dana talangan alias mahar. Karena nilainya yang besar, Ali kemudian meminta jaminan kepada Dimas Kanjeng.

Ali lantas diberi tiga koper berisi uang. Menurut Dimas Kanjeng, uang itu akan berlipat menjadi Rp 60 miliar asal Ali menuruti persyaratan lainnya. Syaratnya adalah Ali tidak boleh membuka tiga koper sebelum diperintahkan.

Kendati begitu, Ali mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak menginginkan uang dilipatgandakan. "Saya cuma ingin program keumatan bisa dipertanggungjawabkan. Kami berharap bisa dibangunkan pondok pesantren," imbuhnya.

Ali akhirnya ditunjukkan isi koper saat dimintai keterangan di Mapolda Jatim. Isi salah satu koper tersebut uang dolar AS asli. Namun jumlahnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan Dimas Kanjeng.

Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana kemudian meminta jaksa untuk menunjukkan uang tersebut. Para saksi termasuk Dimas Kanjeng juga turut menyaksikan.

Saksi Abas menjelaskan, dirinya sempat ikut saat pembuktian keaslian uang di Bank Indonesia. Total satu koper senilai Rp 800 juta. Sedangkan dua koper lagi tidak ada nilainya.

Selepas persidangan, JPU Rakhmad Hari Basuki mengatakan bahwa uang dolar yang terbungkus plastik itu benar-benar asli. Namun Dimas Kanjeng rupanya punya siasat yang mengarah pada tindak pidana penipuan. "Jadi uang yang dibungkus plastik, di depan sama belakang nilainya USD 100. Tapi yang tengah nilainya cuma USD 1," papar Hari Basuki.

Selain dolar AS, satu koper beriskan mata uang dari negara-negara Afrika. "Tapi uang itu sudah tidak berlaku di negara asalnya atau dengan kata lain edisi lama," lanjutnya.

Seperti diketahui, Dimas Kanjeng dijerat Pasal 378 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. Dalam dakwaan tersebut, Dimas didakwa melakukan penipuan terhadap M Ali senilai Rp 35 miliar. Sidang selanjutnya akan digelar 29 Agustus mendatang.

(did/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up