JawaPos Radar

Kembali ke Fitrah

Makna Idul Fitri Momentum Kebersamaan Orang-Orang Tercinta

15/06/2018, 09:30 WIB | Editor: Budi Warsito
Makna Idul Fitri Momentum Kebersamaan Orang-Orang Tercinta
Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani (HSG) (Dok pribadi)
Share this image

JawaPos.com - Hari Raya Idul Fitri tentunya memiliki makna mendalam bagi umat muslim sedunia. Terlebih, bagi keluarga besar Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani (HSG).

Menurutnya, perayaan hari besar umat Islam tak sekedar momen saling memaafkan kepada sesama manusia. Akan tetapi, Idul Fitri adalah hari menumbuhkan sikap toleransi kehidupan keluarga.

Di hari raya lebaran, baginya, Idul Fitri merupakan hari cinta kasih yang patut dirayakan dengan orang-orang berbeda keyakinan.

Makna Idul Fitri Momentum Kebersamaan Orang-Orang Tercinta
Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani (HSG) (Dok pribadi)

Sebagai mualaf yang terlahir dari kedua orang tua beragama Budha. Harry menilai, Idul Fitri adalah momentum kebersamaan orang-orang tercinta di sekelilingnya. Tanpa mengenal batasan agama dan keyakinan.

"Makna Idul Fitri adalah esensi hidup saling menerima dan saling mengasihi. Bagiku, Idul Fitri adalah merayakan kehidupan lebih harmoni di dalam keluarga, saling menyayangi. Agama bukan jadi pemisah hubungan keluarga," ujarnya kepada JawaPos.com, Senin (11/6).

Kendati keluarga besar dan sang ibu masih beragama Budha, ia mengungkapkan, esensi makna Idul Fitri tak berkurang. Tradisi sungkem dan sikap saling toleran di rumahnya tidak mengaburkan makna saling memaafkan satu sama lain.

Meskipun berbeda keyakinan dengan ibunda tercintanya, hubungan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tak pernah pudar. Terlebih, momentum Idul Fitri dimaknainya sebagai merayakan keharmonisan keluarga.

Merayakan Idul Fitri sudah menjadi hari spesial bagi keluarganya. Terutama, tradisi sungkem usai Salat Ied, Harry dan kedua anaknya, Diora Kayla Gani dan Cleofas Aleandro Gani menyiapkan kado spesial yang disiapkan kepada neneknya.

Tak kalah dengan kedua cucunya, sang nenek pun memberikan hadiah spesial berupa mainan. Tak ketinggalan, angpao pun disiapkan untuk diberikan kepada anak-anak saat lebaran.

Keceriaan suka cita merayakan hari raya Idul Fitri di rumah, menjadi momen tak terbayar bagi keluarganya. Sekat-sekat perbedaan sama sekali mengikis kehidupan harmoni keluarga kecilnya.

Bagi pria bermata sipit itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa manusia terlahir dari suku apa, di daerah mana, dan dibesarkan dengan agama apa. Baru setelah tumbuh dewasa, semua orang memilik hak untuk menentukan apa yang menjadi keyakinan hidupnya.

"Pilihan menentukan keyakinan adalah hak semua orang. Berbeda keyakinan bukan berarti harus hidup terpisah. Idul Fitri adalah merayakan kembali menjadi manusia. Menjadi manusia, artinya mengasihi sesama, tanpa permusuhan," ujarnya.

(wiw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up