JawaPos Radar

Cerita Kater Kampung Rambutan Soal Maraknya Aksi Kriminalitas

15/06/2018, 01:35 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Cerita Kater Kampung Rambutan Soal Maraknya Aksi Kriminalitas
Ilustrasi Terminal Kampung Rambutan. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Terminal Kampung Rambutan seringkali dikenal dengan wilayah yang rawan Kriminal baik copet maupun pemalak. Namun, berbeda dengan saat ini seluruh masyarakat baik pedagang, petugas, maupun pengunjung lebih aman dan nyaman.

Ternyata Kepala Terminal Kampung Rambutan, Emiral Augus Dwinanto mengubah sistem keamanan yang ada. Bermodal dengan mau merangkul warga sekitar dirinya pun membentuk grup Keluarga Besar Terminal Kampung Rambutan.

"Saya ingin melibatkan masyarakat. Makanya mereka kita jadikan relawan, untuk kebersihan tiap hari nyapu tiap minggu rutin ada kerja bakti, bahkan Jumat kami adakan pengajian," ujar Emiral kepada JawaPos.com, Kamis (14/6).

Hal ini bermula dari kegelisahan Emiral terhadap banyaknya laporan atas tindak kejahatan yang sering terjadi di Terminal Kampung Rambutan. Tim yang dibentuk Emiral ini bertugas menjadi pemantau langsung dari dirinya.

"Masyarakat perlu pertolongan, mereka siap menolong. Ketika mereka saya gabung jadi keluarga besar Terminal Kampung Rambutan mereka sekarang jadi mata dan telinga saya untuk melayani masyarakat," tuturnya.

Dirinya melihat baik warga, pedagang, petugas, dan pengunjung bisa saling menguntungkan dan membutuhkan satu sama lain. Bahkan dibentuknya grup tersebut menjadikan rasa kekeluargaan di Terminal Kampung Rambutan menjadi lebih kuat.

"Jadi kalau ada masyarakat yang curiga ada hal yang nggak bener, intimidasi, pemalakan lawan aja atau teriak minta tolong pasti ditolong sama temen-temen," terang Emiral.

Dirinya melihat perkembangan setelah setahun lebih, orang-orang tersebut lebih terpupuk rasa memiliki Terminal Kampung Rambutan. Bahkan, saat ini mudah mengenali mereka yaitu dengan rompi yang tertera nomor dan nama.

"Tadi tim kami itu dilengkapi rompi ada nomor dan nama yang tertera, jadi kalau ada yang macem-macem catat saja nanti kita sidak untuk bertanggung jawab. Malah kalau ada pedagang yang nggak pakai rompi di Terminal tinggal lapor terus kita tindak lanjuti," tegasnya.

Emiral membagikan kisah, bahwa pernah ada seorang Ibu yang berasal dari Pontianak ingin pulang ke kampung halamannya di Madiun. Namun, para pedagang melihat ibu ini tidak memiliki ongkos sehingga ada inisiatif para pedagang untuk membantu.

"Akhirnya ditegur sama para pedagang mau kemana. Karena tergerak sosial, temen-temen ngumpulin uang sehingga ibu itu dapat tiket ke Madiun dan tambahan uang sedikit. Mereka semakin erat begitu, sudah terjadi urunan uang buat yang nggak mampu mudik, jadi lebih bermanfaat," terang Emiral.

Walau baru dibentuk 2016 awal, Emiral melihat banyak perubahan yang terjadi. Preman yang biasanya berkeliaran sudah menjadi relawan yang membantu dan mengarahkan penumpang. Pedagang yang dulu sering mencopet juga setelah dibina menjadi taubat. "Sebetulnya mereka baik-baik tapi karena ada oknum-oknum jadinya mereka nggak jelas," tegasnya.

Namun dirinya bersyukur atas kerja keras dan kerja sama yang baik, keluarga Terminal Kampung Rambutan wilayahnya menjadi lebih aman. Bahkan, preman-preman yang dulu berkeliaran berinisiatif mengadakan ronda malam di Pintu Keluar. Tidak lain tidak bukan untuk membuat Terminal Kampung Rambutan ramah pengunjung.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up