alexametrics

Pelayanan UGD Puskesmas Sedati Buruk, Bayi Meninggal

15 Mei 2019, 17:01:12 WIB

JawaPos.com – Peristiwa yang menimpa sang anak, Muhammad Iqbal Abdurrazaq, tak akan pernah hilang dari ingatan Bambang Hidayat. Peristiwa yang terjadi pada Senin (6/5) tersebut membuat pria 47 tahun itu kehilangan anak bungsunya. Meski sudah ikhlas, dia mengaku kecewa dengan pelayanan Puskesmas Sedati. ”Semula, anak saya mengalami demam tinggi dan sesak napas,” katanya saat diwawancarai kemarin (14/5).

Pada pukul 05.00, warga Desa Pepe tersebut berinisiatif membawa Iqbal ke UGD Puskesmas Sedati. Bayi 5 bulan itu digendong Parsih Muryawati, istrinya. Setiba di sarana kesehatan tersebut, petugas sempat memasang slang oksigen. Lalu, bayi itu diberi obat turun panas melalui dubur. Bambang sempat meminta masker oksigen untuk bayi. ”Katanya tidak punya. Saya juga disarankan membawa Iqbal ke RSUD Sidoarjo,” paparnya.

Saat ditanya tentang ambulans, petugas puskesmas menyatakan tidak ada. Khawatir dengan kondisi sang bayi, dia lantas mengendarai motor bersama istri menuju rumah sakit. ”Sesampai di RS, dokter menyatakan anak saya sudah tidak selamat sekitar pukul 06.30,” ucapnya pelan.

Menurut dia, tak semua puskesmas memiliki pelayanan unit gawat darurat (UGD) 24 jam. Karena di Puskesmas Sedati ada UGD, dia mengira, Iqbal bakal mendapatkan penanganan yang cepat dan optimal. Ternyata, hanya ada dua perawat yang berjaga di UGD. ”Saya pikir ada dokter umumnya. Ternyata belum ada,” ujarnya.

Dia berharap kematian anak keenamnya tersebut mendapatkan rida di sisi Allah. Dia sekeluarga berusaha tabah dan ikhlas. Dia berharap pihak puskesmas memberikan layanan terbaik kepada masyarakat.

Kejadian itu menjadi sorotan anggota DPRD Sidoarjo. Salah satunya Ketua komisi D Usman. Dia bersama beberapa anggota dewan lain berkunjung ke Puskesmas Sedati kemarin. Mereka bertemu Kepala Puskesmas Sedati drg Fauzi Bassalamah. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan. Di antaranya, perlu ada evaluasi kinerja karyawan. ”Kalau kinerjanya buruk, berarti tidak siap bekerja. Laporkan ke dinas. Minta ganti. Cari yang siap saja,” tegasnya.

Setelah ditinjau, lanjut dia, kebutuhan tenaga medis dan nonmedis belum optimal. Misalnya, sopir ambulans tidak stand by 24 jam. Tenaga dokter juga kurang. Hanya ada 5-6 dokter. Karena itu, pihak puskesmas harus melakukan pembenahan. ”Perlu disiapkan dokter jaga di UGD,” ucapnya.

Menurut dia, banyak dokter yang kurang berminat bekerja di puskesmas. Sebab, gaji yang diterima masih minim dari asas kepatutan. Yakni, Rp 2,5 juta per bulan. Karena itu, perlu ada perubahan masalah gaji tenaga dokter agar sesuai strata pendidikannya. ”Kita akan bahas ini,” janjinya.

Selain evaluasi kinerja karyawan, dia menyarankan pihak puskesmas berkomunikasi dengan keluarga pasien. ”Harus selesai masalahnya. Karena ini akan berpengaruh pada pelayanan ke depan,” lanjutnya.

Kepala Puskesmas Sedati menyatakan, segala rekomendasi yang diberikan dewan akan ditindaklanjuti, terutama pendekatan dengan keluarga pasien. Dia bakal menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Terkait pelayanan, dia akan meminta rekomendasi dinas untuk dapat menambah dokter yang siap berjaga di IGD. ”Kami bakal berbenah,” ujarnya.

Terkait kasus yang dialami Bambang, Fauzi menampik saat disinggung tidak adanya masker ukuran bayi. Menurut dia, masker tersebut ada. Nah, selama berobat, petugas sudah melakukan penanganan cepat dengan pemberian bantuan oksigen dan obat penurun panas. ”Suhunya turun menjadi 39 derajat Celsius,” katanya. Kemudian, bayi itu dirujuk ke RSUD Sidoarjo. ”Suratnya belum diberikan karena harus ada persetujuan keluarga dulu. Nah, mereka pulang, tapi tidak balik-balik lagi ke sini,” tambahnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : oby/c13/ai