JawaPos Radar

Ratusan Pelayat Iringi Pemakaman Korban Bom Surabaya di Solo

15/05/2018, 17:15 WIB | Editor: Budi Warsito
Ratusan Pelayat Iringi Pemakaman Korban Bom Surabaya di Solo
Sejumlah pelayat tampak mengantar korban bom Surabaya, Sri Puji Astuti di TPU Bonoloyo, Solo, Jateng, Selasa (15/5). (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Korban bom Surabaya, Sri Puji Astuti,67, dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Bonoloyo, Solo, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (15/5) siang. Ratusan pelayat tampak mengiringi pemakaman korban bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), yang terjadi Minggu (13/5) pagi.

Tidak sedikit dari para pelayat yang meneteskan air mata saat teringat kenangan bersama almarhum. Pemakaman berlangsung sekira pukul 13.00 WIB. Ratusan pelayat yang mengantar jenazah hingga ke peristirahatan terakhir merupakan saudara, kerabat maupun umat dari GPPS.

Keponakan almarhum, Nuryani,57, menuturkan, sedikitnya 70 umat GPPS turut mengantarkan almarhum. "Yang menghadiri pemakaman sekitar 70 umat. mereka naik bus dan juga tiga mobil," terangnya dengan mata berkaca-kaca, Selasa (15/5).

Ratusan Pelayat Iringi Pemakaman Korban Bom Surabaya di Solo
Sejumlah pelayat saat mengangkat peti jenazah korban bom Surabaya, Sri Puji Astuti di TPU Bonoloyo, Solo, Jateng, Selasa (15/5). (Ari Purnomo/JawaPos.com)

Raut kesedihan masih tampak jelas di wajah Nuryani. Bahkan, air mata terlihat terus menetes dari mata Nuryani. Nuryani masih tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Sri Puji 10 Mei lalu menjadi pertemuan yang terakhir.

Tapi, dirinya juga sempat merasakan firasat akan kepergian adik dari ibu kandungnya tersebut. Nuryani mengatakan, bahwa sebelum meninggal, beberapa kali Sri Puji berpesan kepada dirinya maupun adik-adiknya agar memakamkan dirinya di TPU Bonoloyo, Solo.

"Pesannya, jika meninggal agar dimakamkan di Bonoloyo, Solo, berdekatan dengan kakaknya yang tidak lain ibu saya. Karena memang dia asli Solo," ucapnya.

Nuryani juga sempat menceritakan mengenai kondisi terakhir tantenya itu sebelum meninggal. Bahwa sebelum meninggal, korban sempat dirawat di RSAL dr Ramlan. Korban sempat mengeluh tidak kuat menahan rasa sakit.

"Perawatan itu untuk mengeluarkan serpihan bom di dada dan juga wajahnya. Mungkin sudah tua sehingga beliau tidak kuat menahan sakit dan meninggal, Senin (14/5) dini hari," tandasnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up