alexametrics

Kecam Pentas Lumba-lumba, Aktivis dan Mahasiswa Gelar Demo

15 Januari 2019, 21:29:19 WIB

JawaPos.com – Aktivis pencinta satwa dan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau (UR) melakukan aksi demonstrasi di depan Purna MTQ Pekanbaru, Riau, Selasa (15/1) sore. Hal itu dilakukan karena puluhan orang ini mengecam diadakannya pentas lumba-lumba di tempat tersebut.

Menteri Lingkungan BEM UR Aulia Putra dalam orasinya mengatakan bahwa, pentas lumba-lumba ini merupakan eksploitasi terhadap hewan berkedok edukasi. “Bukan pendidikan tapi penyiksaan terhadap satwa dilindungi,” teriaknya dengan pengeras suara.

Dalam aksi ini, mahasiswa UR mengeluarkan 4 pernyataan sikap. Di antaranya, mengecam dan menolak berbagai tindakan eksploitasi terhadap satwa dilindungi, mendesak pemerintah untuk menutup sirkus satwa karena merupakan eksploitasi. 

Kemudian, mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mencabut izin sirkus keliling terhadap lumba-lumba karena bertentangan dengan Permen LHK Nomor 92 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi, mengimbau masyarakat untuk tidak terlibat dalam kegiatan sirkus.

Sementara itu, aktivis pencinta hewan Violetta Nur Hasan mengatakan, aksi ini merupakan bentuk penyuaraan dari masyarakat dan pencinta hewan agar pentas ini dapat berhenti. “Artinya kami akan berhenti jika di Indonesia tidak ada lagi pertunjukan lumba-lumba,” pintanya.

Dalam hal ini, berbagi komunitas nantinya akan melakukan edukasi ke sekolah-sekolah dan media sosial serta media massa agar tidak ikut andil dalam pentas lumba-lumba. “Saya minta kepada warga, cerdas mencari informasi. Jadi harus tahu aktivitas terlarang dan tidak membenarkan masyarakat untuk menonton,” sebutnya.

Menurut Violetta, pentas lumba-lumba sangat menyengsarakan hewan itu. Sebab, lumba-lumba dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi tanpa mempertimbangkan keadilan dan kesejahteraannya.

“Pengangkutan tidak layak dan sangat sempit. Dan saat pengangkutan diberikan spon basah. Mereka diangkat dari satu kota ke kota yang lain. Ini bukan habitat mereka. Dipertontonkan ke publik semata-mata untuk uang. Lumba-lumba bisa beratraksi beberapa kali dan mereka diberikan air bukan dari habitat asli. Itu sudah merusak pemandangan mereka,” tegasnya.

Dengan berbagai alasan itu, Violetta meminta agar pemerintah lebih bijak. Dengan cara tidak memberikan izin lagi untuk menampilkan atraksi hewan apapun. Terlebih lagi, pentas lumba-lumba ini akan dilangsungkan selama sebulan. Mulai dari Sabtu (12/1) hingga 17 Februari mendatang.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Virda Elisya



Close Ads
Kecam Pentas Lumba-lumba, Aktivis dan Mahasiswa Gelar Demo