JawaPos Radar | Iklan Jitu

Potret Kemiskinan

Mbah Joyo, Nenek Sebatang Kara yang Tinggal di Rumah Nyaris Roboh

14 Desember 2018, 15:26:21 WIB
Mbah Joyo
MEMPRIHATINKAN: Mbah Joyo dan Aris tetangganya, saat hendak keluar rumahnya yang sebagian sudah roboh, Jumat (14/12). (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.comKondisi memprihatinkan terlihat di rumah Samiyem atau yang akrab disapa Mbah Joyo. Rumah yang terletak tepat di timur perlintasan kereta api itu nyaris roboh. Bahkan 80 persen bangunan rumah semi permanen tersebut sudah roboh.

Meski begitu, Mbah Joyo itu tetap saja menempatinya. Padahal untuk masuk ke dalam rumahnya cukup susah. Karena pintunya sudah ambruk dan sebagian dalam rumahnya tertutup tiang. Tidak hanya tiangnya saja yang sudah roboh, genting pun sudah berhamburan di lantai.

Tidak ada peneduh dari hujan yang sewaktu-waktu turun. Akan tetapi, nenek sebatang kara yang sudah berusia 75 tahun itu tidak sedikit pun merasa was was. "Tidak apa-apa, tidak kedinginan. Ya kalau hujan tetap tidur di dalam," urainya saat ditemui JawaPos.com, Jumat (14/12).

Mbah Joyo
Selama ini nenek yang asli dari Slogohimo, Wonogiri itu hidup sebatang kara. Tidak ada kerabat maupun saudara. (Ari Purnomo/JawaPos.com)

Saat ini, Mbah Joyo tercatat sebagai warga Lemah Abang, RT 2 RW 21, Kadipiro, Banjarsari, Solo. Sudah sekitar 10 tahun ini Mbah Joyo menempati rumahnya yang berada di atas tanah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero. Tetapi, Mbah Joyo tidak begitu saja bisa menempati rumahnya tersebut. 

"Dulu membeli seharga Rp 300 ribu, lalu saya bangun rumah ini dan saya sudah tinggal di sini lebih kurang 10 tahun," ungkapnya.

Kenekatan Mbah Joyo menempati rumah yang nyaris roboh bukanlah tanpa alasan, tetapi karena ketiadaan uang untuk sekadar berpindah rumah. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Mbah Joyo hanya mengharapkan bantuan dari para tetangganya. 

Selama ini nenek yang asli dari Slogohimo, Wonogiri itu hidup sebatang kara. Tidak ada kerabat maupun saudara. "Kalau dulu sempat bekerja jadi tukang petik lombok, tapi sekarang sudah tidak ada lagi pekerjaan. Jadi tidak ada pemasukan," ungkapnya.

Salah seorang tetangga Mbah Joyo, Aris Supriyadi, 42, mengatakan, para tetangga prihatin dengan kondisi Mbah Joyo. Kerusakan rumah Mbah Joyo sudah berlangsung sejak dua minggu yang lalu. Dan sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah atau yang lainnya.

Karena merasa prihatin itulah, Aris dan juga tetangga lainnya mengunggah kondisi Mbah Joyo dan rumahnya. "Harapannya agar ada kepedulian dari pihak lain, sehingga perbaikan rumah. Karena selama ini belum ada bantuan, hanya para tetangga yang membantu untuk memenuhi kebutuhannya," katanya. 

Aris menambahkan, sebenarnya pihak tetangga maupun gereja setempat sudah menawarkan tempat untuk ditinggali Mbah Joyo. Akan tetapi, tawaran tersebut ditolak dengan alasan tidak ingin merepotkan orang lain. "Nanti warga berencana akan melakukan kerja bakti memperbaiki rumah Mbah Joyo agar bisa lebih layak ditempati," terangnya. 

Terpisah, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo menyampaikan, dirinya ingin memastikan dulu mengenai kondisi rumah Mbah Joyo tersebut. Jika memang rumah tersebut merupakan tanah resmi maka dirinya akan langsung memberikan bantuan. "Ya dicek dulu, rumahnya resmi enggak, bersertifikat, kalau memang resmi akan langsung kami berikan bantuan," ucapnya.

Editor           : Sari Hardiyanto
Reporter      : (apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up