alexametrics

Ubah Mindset Bakar Sampah dengan Ciptakan Produk Olahan Berkualitas

14 November 2018, 19:13:00 WIB

JawaPos.com- Kesadaran mengolah sampah di Kabupaten Malang masih rendah. Pandangan kolot soal sampah menjadi benang kusut sulitnya mengajak masyarakat bergabung dalam kegiatan bank sampah.

Ketua Bank Sampah Kabupaten Malang Korwil 7 Siti Susilowati mengungkapkan, sampah yang seharusnya bisa dimanfaatkan, hanya dibakar begitu saja. Sehingga tidak ada sampah yang termanfaatkan dengan baik.  

“Masyarakat itu masih kurang mengerti, ya kesadarannya masih minim. Mindset-nya masih, sampah ae kok digawe iku rusuh, diobong ndek mburi lak wes mari (sampah kok digunakan itu kan kotor. Dibakar di halaman rumah belakang kan selesai),” ungkap Siti, dalam kegiatan pameran produk daur ulang sampah di Pendopo Agung, Kota Malang, Rabu (14/11). 

Tak menyerah begitu saja, berbagai usaha untuk menyadarkan masyarakat dilakukan perempuan berusia 39 tahun tersebut. Mulai dari sosialisasi hingga inovasi menabung sampah dapat sembako. Langkah itu mampu menyedot animo masyarakat di wilayahnya untuk menabung sampah.

Jerih payah Siti bersama rekan-rekannya terbayar lunas. Jumlah anggota bank sampah yang awalnya hanya 15 orang, kini sudah berkembang hingga 500 orang. Mereka tersebar di 11 bank sampah yang ada di korwil 7. Korwil 7 sendiri meliputi Kecamatan Dampit, Sumbermajing Wetan, Turen, Ampelgading dan Tirtoyudo.

Sistematika menabung sampah akan dirupakan uang atau dalam bentuk sembako sesuai nilai sampah yang ditabung. Sistem pengambilannya hanya satu tahun sekali, yakni pada akhir tahun. 

Sampah yang sudah dipilah dari rumah punya nilai lebih mahal. Sistemnya ditabung, lalu diambil dalam bentuk sembako. ”Kalau diuangkan, satu setoran nilainya Rp 11 ribu. Itu nilainya sama dengan 6 kg sampah,” tutur perempuan yang merintis bank sampah sejak lima tahun lalu itu.

Tak hanya Bank Sampah, Siti bersama anggotanya juga memproduksi berbagai produk kerajinan sampah. Misalnya bantal, tas, tempat pensil dan lain-lain. Harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 75 ribu.

Sayangnya pemasaran produknya belum maksimal. “Belum dipasarkan secara meluas, anggota  masih ragu. Sementara ini masih berkutat di lingkup pameran saja. Ke depan masih akan dipatenkan dulu baru diperluas pemasarannya,” ucapnya.

Editor : Dida Tenola

Reporter : (tik/JPC)

Ubah Mindset Bakar Sampah dengan Ciptakan Produk Olahan Berkualitas