JawaPos Radar | Iklan Jitu

Isak Tangis Warnai Pemakaman Jenazah Korban Runtuhan Tembok Sekolah

14 November 2018, 16:42:16 WIB | Editor: Budi Warsito
Isak Tangis Warnai Pemakaman Jenazah Korban Runtuhan Tembok Sekolah
Pelepasan jenazah Yanitra Octavizoli siswi kelas 3 SMA 14 Pekanbaru saat akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kerja, Pekanbaru, Riau, Yaya jadi korban dari runtuhnya tembok SDN 141 Pekanbaru, Rabu (14/11) siang. (Virda Elisya/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Seketika isak tangis pecah ketika jasad Yanitra Octavizoli, siswi kelas 3 SMA 14 Pekanbaru, dimasukkan ke dalam liang lahat di Taman Makam Pahlawan Kerja, Pekanbaru, Riau, Rabu (14/11) siang.

Yaya sapaan akrab gadis berusia 17 tahun ini, merupakan salah satu korban jiwa dari insiden runtuhnya tembok SDN 141 Pekanbaru, Rabu sekitar pukul 07.00 WIB. Ia dinyatakan meninggal dunia 30 menit setelah tertimpa reruntuhan tersebut.

Korban memang sempat dibawa ke RS Syafira. Namun, nyawanya tak dapat ditolong. Yaya kemudian dikembalikan ke rumah duka sekitar pukul 10.00 WIB. Tenda biru dan bendera putih tampak berdiri di halaman rumahnya. Warga sekitar dan teman-teman sekolah Yaya juga sudah berada di kediaman.

Isak Tangis Warnai Pemakaman Jenazah Korban Runtuhan Tembok Sekolah
Pemakaman Yanitra Octavizoli siswi kelas 3 SMA 14 Pekanbaru di Taman Makam Pahlawan Kerja, Pekanbaru, Riau, korban dari runtuhnya tembok SDN 141 Pekanbaru, Rabu (14/11) siang. (Virda Elisya/JawaPos.com)

Setelah proses pemandian dan pengkafanan, Yaya dibawa menggunakan ambulans usai Salat Zuhur ke masjid Sidratul Muntaha yang berada di dekat rumahnya untuk di salatkan. Kemudian dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kerja yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumahnya.

Ayah korban, Jhon Kennedy mengatakan, setiap pagi korban yang tinggal di Jalan Abidin Nomor 17, Kecamatan Bukitraya ini, memang selalu melewati sekolah yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahnya.

Sekolah tersebut dilaluinya karena setiap pagi korban mengantar adiknya yang sekolah di SDN 48. Dimana sekolah adik korban, satu komplek dengan SDN 141.

"Dia sekalian sekolah, sekalian lewat aja," kata Jhon usai memakamkan anak pertamanya itu.

Jhon yang mengenakan baju koko warna putih, peci hitam dan celana hitam tampak sangat lesu. Terlihat bekas tanah pemakaman anaknya masih menempel di baju dan celananya.

Bekas tetesan air matanya juga masih menempel di pipinya. Matanya memerah karena menangisi kepergian anak gadisnya itu. Ia sama sekali tak menyangka putri tercintanya akan meninggalkan dirinya selama-lamanya. "Kalau firasat nggak ada, biasa aja," ujarnya.

Kabar duka tersebut diterima Jhon dari guru korban. Saat itu, suami dari Lily ini baru saja mengantarkan anaknya yang lain ke sekolah. "Dapat kabarnya dari gurunya, saya pun habis ngantar anak tadi. Pulang antar anak datang gurunya, pas saya kejar ke sekolah rupanya sudah (tertimpa reruntuhan)," kata dia.

Adik Yaya, Rasyad Agus Triono F, 11, siswa kelas V SDN 48 Pekanbaru juga menjadi korban dari peristiwa tersebut. Berbeda dengan kakaknya, Rasyad hanya mengalami luka pada paha kanannya. "Kondisi adeknya itu mau bawa ke rumah sakit," sebutnya.

Sementara itu, Dr Muammar Aqib Mufti dari RS Aulia Hospital mengatakan, kondisi Rasyad sendiri diperkirakan mengalami trauma pada bagian luar paha kanannya.

Dr Mufti datang ke rumah Yaya setelah mendapat telepon untuk pergi kesana memeriksa kondisi Rasyad. "Kami hanya dihubungi disuruh datang ke rumah duka. Tadi periksa adeknya saja. Asumsi saya hanya trauma otot. Kami sarankan dibawa ke Aulia. Harapan kami hanya trauma otot. Tapi kalau ada retak atau lainnya akan kita berikan tindakan lebih lanjut seperti operasi. Kalau hanya trauma akan diberi terapi saja," sebutnya.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up