JawaPos Radar

Pakde Karwo Dikagetkan Dengan Suara Letusan Saat Pembukaan KPN 2018

14/08/2018, 19:04 WIB | Editor: Budi Warsito
Pakde Karwo Dikagetkan Dengan Suara Letusan Saat Pembukaan KPN 2018
Pembukaan KPN 2018 di Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. (Tika Hapsari/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Karang Pamitran Nasional (KPN) 2018, digelar di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Pembukaan kegiatan nasional itu berlangsung meriah, karena diikuti oleh sekitar 4.120 pembina Pramuka di seluruh Indonesia, Selasa (14/8).

Hadir dalam kesempatan itu, Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, Soekarwo. Gubernur Jawa Timur itu sempat kaget saat mendengar letusan saat akan membuka kegiatan yang menghadirkan pembina dari 417 Kwartir Cabang (Kwarcab) dan 32 Kwartir Daerah (Kwarda) ini.

Suara ledakan itu ternyata bersumber dari kembang api dan mercon yang menandai dibukanya kegiatan. Semua peserta sontak mendongakkan kepala ke langit. "Wah, luar biasa sekali semangatnya. Belum dibuka sudah meletus," katanya diikuti dengan tepuk tangan dan tawa riuh ribuan peserta.

Pakde Karwo Dikagetkan Dengan Suara Letusan Saat Pembukaan KPN 2018
Pembukaan KPN 2018 di Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Laki-laki yang akrab disapa Pakde Karwo ini menjelaskan, kegiatan KPN 2018 ini bagus untuk memajukan Indonesia. "Pertemuan ini sangat strategis untuk memajukan Indonesia. Harus benar menghasilkan sesuatu yang benar-benar mendidik dan memajukan Indonesia," kata Pakde Karwo, membacakan sambutan Presiden RI, Joko Widodo.

Dia bangga KPN 2018 dilaksanakan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Apalagi, Desa Lebakharjo merupakan desa Pramuka dan pernah dua kali menjadi even kepramukaan dengan taraf Internasional.

Selain itu, dia bangga kegiatan ini dipusatkan di Kabupaten Malang karena Lebakharjo menerima para peserta dengan tangan terbuka dan ramah. Warga yang rumahnya dijadikan tempat tinggal para peserta KPN 2018, juga mendapatkan apresiasi positif

"Memang ujung kepramukaan adalah kebahagiaan masyarakat. Tolong masakkan yang enak-enak ya," katanya.

Lebih lanjut ia menyatakan, Era teknologi informasi seperti saat ini jika mampu menguasai teknologi komunikasi maka akan bisa memajukan bangsa. Syaratnya, jika bangsa mampu bahu membahu untuk mengembangkan Indonesia. "Ini energi yang sangat baik untuk membangun Indonesia," katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana, Prof Dr Suyatno menjelaskan, para peserta yang berjumlah ribuan itu ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Mereka berasal dari 32 provinsi di Indonesia.

Para peserta ditempatkan dengan latar belakang asal Kwarda dan suku yang berbeda. Tujuannya, agar semakin melebur. "Menunjukkan kebhinekaan, jadi mengenal dengan lebih dekat," kata Profesor dari Unesa itu.

Dia menjelaskan, tujuan digelar kegiatan ini adalah, agar nantinya para peserta dapat membina dan melatih kualitas kepramukaan. Semua negara katanya, menerapkan prinsip dasar. Namun, yang membedakan adalah inovasi dan kreasi teknik kepramukaan.

"Agar nanti bisa dilanjutkan kepada adik-adiknya, inovasi yang lebih bagus," tegasnya.

Usai upacara pembukaan, penampilan sekitar 1.000 partisipan yang melakukan tari kolosal Garuda Nusantara memeriahkan acara. Mereka berasal dari Pramuka Kwarda Jatim. Tarian ini menggambarkan soal kehidupan di desa Pramuka Lebakharjo serta ketangguhan burung Garuda sebagai lambang negara.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up