JawaPos Radar

Romo Syafii:Tindakan Bom Bunuh Diri Itu Merugikan NKRI

14/05/2018, 00:29 WIB | Editor: Budi Warsito
Romo Syafii:Tindakan Bom Bunuh Diri Itu Merugikan NKRI
Polisi berjaga di lokasi ledakan bom di Surabaya, Minggu (13/4). (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Ucapan belasungkawa atas peristiwa ledakan bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Surabaya terus mengalir, Minggu (13/5). Selain ucapan belasungkawa, kecaman juga ditujukan untuk para pelaku yang diduga komplotan teroris.

Anggota DPR RI Komisi III, Fraksi Gerindra, Raden Muhammad Safii mengatakan keprihatinannya yang mendalam atas peristiwa yang merenggut nyawa dan puluhan orang terluka itu.

"Saya prihatin terhadap dua pristiwa teroris yang terjadi di dalam waktu yang berdekatan yakni, di Mako Brimob Kelapa Dua, dan di tiga gereja di Jawa Timur. Seharusnya peristiwa itu tidak harus terjadi," ujar pria yang akrab disapa Romo ini, Minggu (13/5).

Ia menyatakan, ternyata masih ada saja manusia biadap yang kemudian melakukan tindakan-tindakan yang merugikan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain keprihatinan atas peristiwa yang memakan korban meninggal dan luka-luka, ia juga prihatin karena kejadian itu terjadi di di tempat-tempat di bawah pengawasan kepolisian.

Seperti Rutan Mako Brimob yang bisa dikatakan itu adalah tempat yang aman. Dengan jeruji besi yang kuat, di bawah pengawalan aparat kepolisian yang ketat. Tamu-tamu yang diperbolehkan mengunjungi warga binaan itu diseleksi dengan sangat, sangat, sangat ketat.

"Karena saya pernah kesana. Bahkan ketatnya penjagaan, makanan yang dibawa oleh para tamu, tidak boleh disampaikan kepada warga binaan.

Tapi peristiwa kerusuhan itu terjadi, logika akal sehat saya tidak bisa mencari menyebab lain, kecuali karena kelalaian atau ketidak profesionalan Polisi itu sendiri," paparnya.

Kemudian terang Romo, diperistiwa berikutnya adalah di tiga gereja di Surabaya. Seluruh warga negara Republik Indonesia mengetahui bahwa, satu-satunya rumah ibadah yang terus dijaga aparat kepolisian itu adalah gereja, bukan mesjid, bukan Vihara.
Ia menjelaskan, tentu ini dilakukan untuk memberi rasa aman kepada warga kristiani dalam melaksanakan ibadah di dalam gereja mereka. Walaupun dipertanyakan, rasa aman dari ancaman seperti apa.

"Tapi justru, di tempat yang dikawal Polisi inilah, peristiwa terorisme atau juga bom itu terjadi. Lagi-lagi saya melihat, penyebabnya adalah kelalaian dan ketidak profesionalan kepolisian," kata Romo.

Menurutnya, yang perlu diketahui oleh masyarakat, pengawalan yang dilakukan aparat kepolisian itu tidak ada yang gratis. Itu semua dibiayai oleh APBN, uangnya rakyat Indonesia.

"Tentu yang kita harapkan dari tugas itu adalah, munculnya kepastian aparat kepolisian melaksanakan UU Nomor 2 Tahun 2002, untuk melindungi, melayani dan menganyomi masyarakat. Tapi ternyata, penggunaan uang APBN itu, apa yang diamanahkan UU tidak bisa diwujudkan oleh aparat kepolisian," terangnya.

"Atas hal itu, jadi saya melihat ada ketidak profesionalan dari aparat kepolisian itu sendiri," imbuhnya.

Ia pun berharap, pihak kepolisian dan berbagai pihak lainnya kedepan bisa lebih baik lagi. Agar hal serupa bisa dideteksi lebih dini, sehingga tidak memakan banyak korban.

(bew/JPC)

Alur Cerita Berita

Sejumlah Warga Dievakuasi ke Blok D 14/05/2018, 00:29 WIB
Warga Malang Tidak Takut Teroris 14/05/2018, 00:29 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up