JawaPos Radar | Iklan Jitu

Sri Rela Berdesakan Sambil Gendong Anak Demi Sembako dari Mensos

14 Februari 2019, 17:40:59 WIB
Sri Rela Berdesakan Sambil Gendong Anak Demi Sembako dari Mensos
Sri Wahyuni saat berdesakan di antrean. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita membagikan seribu paket sembako untuk warga kurang mampu di Lapangan Benteng Kota Medan, Kamis (14/2) siang. Masyarakat yang hadir terlihat sangat antusias.

Antrean panjang terjadi, masyarakat sempat berdesakan untuk menukarkan kupon dengan paket sembako berisi beras; gula; dan minyak.

Dari depan antrean, beberapa orang petugas mencoba mengatur masyarakat. Teriknya matahari menambah peluh masyarakat yang mengantre karena sudah menunggu sejak pagi.

Sri Rela Berdesakan Sambil Gendong Anak Demi Sembako dari Mensos
Sri Wahyuni saat berdesakan di antrean. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Dibarisan antrean, begitu banyak orangtua paruh baya. Mereka yang masih kuat tetap ikut mengantre. Sebagian lainnya, hanya mampu duduk dan menunggu karena tidak kuat untuk berdesakan.

Dalam antrean, terlijat ada seorang perempuan muda yang menggendong anaknya. Dia rela berdesakan di dalam barisan. Beberapa kali dia mencoba menenangkan anaknya yang terus menangis.

Keringat di keningnya terus mengucur. Anaknya yang masih balita kepanasan dan hanya diteduhi dengan sebuah tas jinjing yang sedikit lusuh.

Perempuan itu diketahui bernama Sri Wahyuni, 35, warga Jalan Sei Serayu, Kecamatan Medan Sunggal. Setelah berjibaku dengan yang lainnya, Sri akhirnya mendapat barisan depan.

Dia langsung menyodorkan sebuah kupon dan ditukarkan paket sembako dan satu kotak nasi. “Ini baru pertama kali. Satu sisi senang juga lah bang dapat begini. Tapi maunya sering,” ujar Sri sambil mengusap keringatnya.

Perempuan beranak empat itu mengaku, sebelum kegiatan pembagian, Kepala Lingkungan (Kepling) di wilayah mereka sibuk melakukan pendataan. Padahal selama ini tidak pernah.

“Cemanalah, kami juga bingung, bantuan raskin juga enggak pernah dapat. Malah yang punya mobil kok dapat,” ungkapnya ketus.

Selama ini, Sri memang hidup di bawah taraf hidup sehjahtera. Suaminya hanyalah seorang penarik becak motor. Bantuan-bantuan dari pemerintah memang begitu dibutuhkan.

Selain Sri, Ijah, 65, warga lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Bantuan-bantuan yang harusnya untuk masyarakat miskin tidak sampai ke mereka. Bantuan dari Mensos juga baru pertama kali diterima.

“Ini sembakonya paling lima hari sudah kandas. Kalau bisa tiap bulan lah ada dapat kayak gini,” ujar Ijah.

Bantuan lainnya yang cukup dikeluhkan adalah, Badan Penyeleggara Jaminan Sosial (BPJS). Ijah pernah merasakan bagaimana saat dia belum sembuh dari sakitnya, namun diusir dari rumah sakit. Padahal dia menggunakan BPJS.

“Belum lagi sembuh, udah disuruh keluar saya. Jadi apa gunanya BPJS itu,” tukasnya kesal.

Bantuan-bantuan sosial dari pemerintah yang begitu banyak, memang sering kali tak tepat sasaran. Jajaran paling bawah sebagai operator lapangan masih pilah-pilih penerima bantuan.

Agus Gumiwang sempat menyinggung soal itu. Dia meminta masyarakat melaporkannya jika ada kejadian seperti itu. Karena, Kementerian Sosial sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk melakukan pengawasan terhadap penyelewengan bantuan.

“Kami sudah bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk membantu agar pelaksanaan program-program yang ada di kami berjalan dengan baik,” ujarnya.

Masalah yang lain ditemui Kemensos adalah, update data dari daerah. Sampai sekarang, ada 30 persen pemerintah daerah yang tidak melakukan update data.

“Karena mereka tidak pernah updating maka kami hanya bisa memakai data hasil sensus BPS empat tahun lalu. Padahal data itu kan dinamis,” tandasnya.

Editor           : Budi Warsito
Reporter      : prayugo utomo

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up