JawaPos Radar | Iklan Jitu

Jelang Pemilu, BI Malang Antisipasi Peredaran Uang Palsu

14 Januari 2019, 18:58:39 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang Azka Subhan Aminurridho
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang Azka Subhan Aminurridho. (Fisca Tanjung/ JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com- Mendekati Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang mewaspadai peredaran uang palsu (upal). Pada momen tersebut perputaran uang rupiah di tengah masyarakat semakin kencang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan, kemungkinan beredarnya upal menjelang Pemilu bisa saja terjadi. "Potensi peredaran uang yang tidak sesuai dengan ciri-ciri aslinya di Malang menjelang pemilu cukup besar. Namun saya belum melakukan pemetaannya," ujarnya, Senin (14/1).

Oleh karena itu, pihaknya terus meningkatkan sosialisasi pengenalan ciri-ciri keaslian uang rupiah ke masyarakat. Cara itu dipakai untuk mengantisipasi peredaran uang palsu. "Sejauh ini kami memang belum ada strategi khusus, yang jelas menguatkan sosialisasi," kata pria yang baru dilantik sebagai Kepala KPwBI Malang ini.

Sosialisasi tersebut menyasar seluruh kalangan. Antara lain pelajar, pedagang, hingga pekerja kantoran. Dengan adanya sosialisasi tersebut Azka berharap agar masyarakat bisa melapor apabila menemukan upal. Tujuannya, agar peredaran upal bisa diantisipasi.

Selain sosialisasi, pihaknya juga akan berusaha menyediakan pecahan uang yang lebih banyak. "Sama seperti ketika persiapan momen-momen tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri dan Natal," imbuhnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data KPwBI Malang, temuan uang palsu saat menjelang Pilwali pada Mei tahun lalu sekitar 893 lembar pecahan uang palsu. Upal tersebut terdiri dari berbagai pecahan. Namun pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu paling mendominasi temuan upal.

Sementara itu, sepanjang 2017 KPwBI Malang setidaknya telah menemukan 5.385 lembar upal. Jumlah tersebut berasal dari laporan bank sebanyak 5.307 lembar dan laporan masyarakat 78 lembar.

Temuan upal pada 2017 memang lebih sedikit dibanding tahun 2016, yakni sebanyak 6.320 lembar temuan upal. Pihaknya pun terus berusaha untuk mengurangi temuan upal di masyarakat.

Editor           : Dida Tenola
Reporter      : Fiska Tanjung

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini