JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pengakuan Saat Sidang Lanjutan di PN Makassar

Bos Abu Tours: Keuangan Jebol karena Subsidi Buat Promo Tak Terkontrol

14 Januari 2019, 18:26:50 WIB
sidang abu tours
CEO Abu Tours Hamzah Mamba (memakai peci putih). (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com- Sidang lanjutan Abu Tours kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Senin (14/1). Pada sidang tersebut CEO Abu Tours Hamzah Mamba yang tunjuk memberikan keterangan dalam kapasitasnya sebagai terdakwa.

Hamzah membeberkan seputar perkara yang menjeratnya. Khususnya soal pencucian uang 86 ribu lebih jamaah yang tersebar di 15 provinsi. Dia mengakui bahwa separo uang jamaah itu disalahgunakan untuk membeli sejumlah aset pribadi.

"Selisih uang saya gunakan juga untuk membangun dan mencicil kantor perusahaan di berbagai daerah," beber Hamzah Mamba dalam persidangan.

Hamzah Mamba meringkas perjalanan seputar perusahaan Abu Tours yang mulai beroperasi melayani travel umrah pada 2012. Termasuk saat perusahaan dilaporkan ke polisi karena gagal memberangkatkan jamaah ke Tanah Suci pada awal 2018.

Hamzah mengaku memberangkatkan 1.891 jamaah umrah pada 2012. Jumlah itu meningkat jadi enam ribu jamaah setahun berselang. Polda Sulsel sebelumnya menyebut ada 96 ribu jamaah Abu Tours yang gagal berangkat hingga perusahaan bermasalah pada akhir 2017.

Seluruh jamaah direkrut dengan berbagai tawaran promo paket umrah yang lebih murah dibandingkan perusahaan travel lain. Agar rekrutan jemaah lebih banyak, Abu Tours bekerja sama dengan mitra dan agen.

"Mitra kami beri Rp 500 ribu untuk per jamaah yang mereka dapatkan. Jadi jumlah jamaah makin banyak, karena mereka yang pulang (umrah) akan memanggil keluarga atau kerabatnya," tambah Hamzah.

Hamzah menyatakan mengeluarkan paket umrah reguler seharga Rp 16 juta hingga Rp 17 juta. Untuk menarik minat masyarakat, ditawarkan paket promo dengan jumlah kursi terbatas. Harganya variatif untuk perjalanan sembilan hari, antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.

Dalam perjalanannya melalui paket promo, jamaah sebenarnya hanya membayar harga tiket pesawat yang fluktuatif. Sedangkan biaya lainnya, terutama visa dan akomodasi, ditanggung oleh perusahaan dengan skema subsidi silang. Pada 2015 terjadi perang harga murah antara travel umrah yang berdampak terhadap Abu Tours.

"Keuangan jebol karena subsidi untuk promo tidak terkontrol. Di sisi lain, kami juga harus terus mempertahankan cash flow perusahaan di tengah-tengah perang harga dengan (perusahaan) yang lain," lanjutnya.

Hamzah juga menyebut perusahaannya telah merugi sejak 2016 akibat menanggung subsidi silang paket promo. Total kerugiannya mencapai Rp 400 miliar. Hingga perusahaan ditutup, kerugian mencapai Rp 700 miliar.

"Perusahaan kewalahan karena uang setoran jamaah yang masuk belakangan kami gunakan untuk menutupi kerugian di awal. Tidak ada cara lain, karena Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah Sulsel melarang merekrut jamaah baru," tambahnya.

Setiap bulan, omzet Abu Tours dipotong 7 persen. Pemotongan ini sebagai keuntungannya selaku pemilik perusahaan, serta membiayai keperluan operasional kantor dan lain-lain.

Pada 2012, nominal yang dipotong bernilai Rp 3 miliar lebih. Sedangkan tahun 2017, meski perusahaan merugi, ditarik potongan Rp 7 miliar per bulan. Secara pribadi, keuntungan yang didapat dan dianggap sebagai gajinya selaku CEO sekitar Rp 45 juta per bulan.

Sedangkan istrinya Nursyariah Mansyur yang juga komisaris ABU Tours, dapat Rp 32 juta. Selanjutnya sidang akan digelar kembali pada Kamis, 17 Januari mendatang.

Editor           : Dida Tenola
Reporter      : Sahrul Ramadan

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up