JawaPos Radar

Bejat! 14 Santri di Ponpes Ini Dicabuli

14/01/2018, 14:28 WIB | Editor: Kuswandi
pencabulan anak laki-laki
Ilustrasi anak korban pencabulan (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com – Kasus pencabulan anak masih mengintai di depan anak. Setelah sebelumnya kasus pencabulan terhadap 41 anak oleh Wawan Sutiyono alias Babeh di wilayah Polres Kota Tangerang, Banten, menyentak publik. Kini, kasus serupa juga terjadi di wilayah hukum Polsek Natar, Lampung Selatan.

Atas kasus yang terjadi, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) yang dipimpin Ketua Umum Arist Merdeka Sirait mendatangi Polsek Natar, kemarin (13/1). Kehadiran mereka untuk mengawal kasus dugaan pencabulan yang menimpa 14 santri salah satu pondok pesantren di wilayah Kecamatan Natar tersebut.

Kedatangan KPAI ini guna menindaklanjuti laporan dari para korban pencabulan. Mereka meminta Komnas Anak agar turut memantau proses penegakan hukum di Polsek Natar.

Kasus pencabulan tersebut diduga dilakukan oleh tiga pelaku. Yaitu Syaiful warga Jagabaya, Bandarlampung serta Sofwan dan Ubaidillah. Keduanya merupakan warga Tamansari, Natar. Ketiganya bekerja di Ponpes sebagai juru masak dan tenaga pendidik.

”Kedatangan kami ke sini (Polsek Natar) untuk melihat sampai mana proses penyelidikan yang dilakukan oleh Polsek Natar terhadap tersangka pencabulan. Ternyata, ketiganya sudah berada di tahanan Polsek Natar,” ungkap Arist Merdeka Sirait, Sabtu (13/1),dikutip Radar Lampung (Jawa Pos Group).

Menurutnya, Komnas Anak sepekan lalu mendapat laporan dari keluarga korban berinisial IF, JH, dan MP. Mereka melaporkan telah terjadi tindak pidana pencabulan di salah satu Ponpes di wilayah Natar. Dalam laporan yang diterima Komnas Anak, kasus tersebut hingga saat ini belum ada perkembangan.

”Makanya kami ke sini untuk croscheck, apakah benar laporan korban ke Polsek Natar tidak ditindaklanjuti. Kami langsung dijelaskan oleh Kapolsek Natar kalau prosesnya sudah ditindaklanjuti dengan menetapkan tiga orang tersangka. Kami langsung mengecek sel tahanan,” terangnya.

Menurut Arist, pihaknya juga langsung mendalami kasus tersebut. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, korban pencabulan yang dilakukan oleh ketiga pelaku mencapai 14 orang. Seluruhnya merupakan santri laki-laki di Ponpes.

”Usia korban sekitar 14-16 tahun, semuanya laki-laki. Empat orang yang melaporkan ke kami semuanya sudah keluar dari ponpes itu. Tapi, dari 14 korban, masih ada beberapa yang berada di Ponpes,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dalam melakukan aksi pencabulan terhadap korban, ketiga pelaku menerapkan modus bujuk rayu, tanpa ada paksaan sehingga terjadi pencabulan. ”Setelah melakukan pencabulan, para pelaku meminta kepada korban untuk tidak memberitahukan kepada orang lain. Karena korban segan dengan pelaku, makanya korban tidak cerita,” ucapnya.

Arist secara khusus meminta aparat untuk menjatuhkan hukum seberat-beratnya kepada para pelaku. ”Kami minta kepada aparat penegak hukum untuk menghukum ketiga pelaku dengan seberat-beratnya. Karena ini menyangkut masa depan anak,” katanya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang dijelaskan, ancaman hukuman bagi pelaku adalah pidana penjara minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun atau ditambah seumur hidup.

Hukuman yang berat tersebut, dikarenakan para korban merasa depresi dan terganggu psikologisnya. Untuk itu, lanjut Arist, pihaknya akan mencoba mengembalikan psikologis para korban dengan melakukan konseling agar semangat para korban bangkit kembali.

Terpisah, Kapolsek Natar, Kompol Eko Nugroho mengaku sedang menyelidiki dan mengumpulkan barang bukti kasus tersebut. Sayangnya, Eko enggan menjelaskan lebih rinci proses penyelidikan kasus tersebut dengan alasan menjaga nama baik ponpes dan para korban.

”Yang pasti ketiga pelaku sudah kami tahan dari bulan Desember 2017. Tinggal pengumpulan bukti-bukti lain dan berkas agar segera dilimpahkan ke kejaksaan,” tandasnya.

(wnd/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up