JawaPos Radar

Dinas Pendidikan Diminta Melarang Peredaran Buku IPS Terkait Yerusalem

13/12/2017, 14:24 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Buku Pelajaran Yerusalem
Buku IPS: Buku pelajaran pendamping yang dipermasalhkan karena dianggap salah, Rabu (13/12). (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sejumlah pihak ikut bersuara terkait buku pelajaran SD yang tengah viral di media sosial lantaran memuat tulisan Ibu Kota Israel adalah Yerusalem.

Salah satu protes datang dari Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS). Mereka mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Solo agar melarang peredaran buku IPS Terpadu tingkat SD kelas 6 terbitan Yudhistira tersebut.

Apa yang disajikan dalam buku tersebut, menurut mereka merupakan sebuah kesalahan dan dikhawatirkan dapat menyesatkan pemikiran anak-anak.

Buku Pelajaran Yerusalem
Buku yang mencantumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel (Istimewa)

Mengingat, selama ini Israel beribukota di Tel Aviv dan bukan Yerusalem seperti yang dicontohkan dalam pelajaran di halaman 56 tersebut.

Aksi protes tersebut dilakukan LUIS dengan mendatangai Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Rabu (13/12).

Sekjen LUIS, Yusuf Suparno, menjelaskan kedatangannya adalah untuk melakukan audiensi dengan Disdik terkait beredarnya buku tersebut. Dalam audiensi yang juga diikuti oleh Kepala Disdik, Etty Retnowati tersebut, LUIS mengajukan beberapa permohonan.

"Pertama kami ingin meluruskan sejarah, karena Yerusalem bukan ibukota Israel. Kemudian kami juga meminta kepada pemerintah agar menarik peredaran buku tersebut, dan yang ketiga kami ingin agar penerbit mengajukan permohonan maaf melalui media cetak maupun elektronik," ungkap Yusuf kepada JawaPos.com, Rabu (13/12).

Tidak hanya itu, Yusuf juga menilai bahwa beredarnya buku IPS tersebut sebagai sebuah keteledoran pemerintah. Mengingat buku untuk kelas 6 SD tersebut ternyata sudah dicetak sejak tahun 2006 lalu. "Kesalahan ini sudah sangat fatal, dari sisi akidah ini sudah salah. Yerusalem itu Kota Suci dan ini jelas sudah menciderai umat Islam. Kami juga ingin mencari pengarangnya yakni Budi Hartawan, sebenarnya apa yang diinginkannya," ungkapnya.

Yang lebih fatal, kata Yusuf, adalah kesalahan ini bisa menyesatkan siswa SD. Karena mereka tahunya ibukota Israel adalah Yerusalem bukan Tel Aviv.

Sementara itu, Kepala Disdik Kota Solo, Etty Retnowati, mengatakan bahwa laporan ini sudah disampaikan kepada Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo. "Kami sudah sampaikan kepada Pak Wali dan beliau menyetuju untuk melarang penggunaan buku tersebut di wilayah Solo. Baik itu di SD negeri maupu swasta," terangnya.

Etty juga mengatakan, bahwa peredaran buku dari penerbit Yudhistira tersebut tidak melalui Disdik. Ini karena buku IPS itu hanya sebagai buku pendamping saja dan bukan buku wajib. "Itu kan dari guru yang merekomendasikan, bukan dari Disdik yang mewajibkannya. Jadi itu hanya buku pendamping saja," katanya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up