JawaPos Radar

Melirik Bisnis Bus Remote Control Rakitan Tangan Ulet Joko Sumarno

Berawal dari Sekedar Hobi

13/09/2018, 05:25 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Bus Remote Control
Joko Sumarno dan bus miniatur buatannya. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this

Kehidupan seorang Joko Sumarno, warga Jalan Lamongan Barat No. 8 RT 08 RW 05, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang, memang tak bisa dipisahkan dari angkutan umum yang namanya bus. Merasa tak cukup dengan menjadi sopir kendaraan kendaraan besar itu, Joko kemudian mencipta bus sendiri miliknya. Bagaimana kisahnya.

Tunggul Kumoro, Semarang

Berawal dari sekedar hobi, Joko pun akhirnya bisa menciptakan kendaraan roda empat, bus bukan sembarang bus. Kendaraan roda empat versi Joko ukurannya jauh lebih kecil dan bahkan bisa dikendalikan dari jarak jauh. Kendaraan yang dibuat pria berusia 36 tahun itu tak lain adalah miniatur bus remote control bernama 'Tanggul Karoseri RC Bus'.

"Awalnya dari hobi merakit miniatur bis dari yang belum bisa jalan (tanpa remote control), tapi terus saya posting di medsos ada orang yang lihat malah terus kepingin. Akhirnya mulai saya geluti jual beli sejak empat tahun lalu," ujar Bapak dua anak itu saat dijumpai di kediamannya, Semarang, Rabu (12/9).

Bertahun-tahun menggeluti hobi yang menghasilkan ini, Joko pun akhirnya semakin kewalahan. Mengingat profesi sebagai sopir bus tetap ia lakoni. Sementara pesanan sendiri kian hari semakin banyak.

Waktu pengerjaan pun menjadi semakin panjang, apalagi ketika ia memutuskan untuk berinovasi dengan membuatkan busnya pengendali jarak jauh. "Setelah berapa lama, saya mikir untuk buat tipe Super High Deck yang model RC (Remote Control), dari yang tipe quick drive atau cuma digas lurus. Dari situ, makin banyak yang minat. Sebulan bisa bikin tiga buah, tapi masih molor-molor karena saya satu-satunya pengrajin RC Bus di Semarang," sambungnya.

Untuk membuat mahakaryanya makin diminati seperti sekarang ini, jalan terjal harus dilalui Joko. Seperti saat miniaturnya masih dalam tahapan model quick drive. "Banyak yang komplain, katanya gasnya nggak stabil. Tapi terus saya perbaiki," curhat sopir bus PO Laju Prima ini. 

Berkat keuletannya ditambah pemahamannya akan mesin selama menjadi sopir bus, jadilah versi yang lebih mutakhir. Dimana tarikan gasnya sudah bisa diatur dan bisa melaju dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam dan kuat di tanjakan. Bahkan dengan ukuran yang lumayan, yakni 60x12x13 sentimeter, 

"Sudah sering dicoba dulu di sirkuit Marina. Ya kalau kopdar sesama komunitas RC, tempat saya bisa diadu. Cuma ya itu, waktu pengerjaan jadi lebih lama dan butuh tenaga tambahan," aku lelaki yang mengaku sudah lima tahun menjadi sopir bus tersebut.

Bersama tiga rekannya, dia mulai membagi tugas. Mereka yang berada di bengkel perakitan Tanggul Karoseri RC Bus, di Kawedangan, Boja, berperan sebagai pembuat rangka, dan tukang cat. Sementara Joko adalah bagian mesin dan finishing detail lainnya.

Dari pengerjaan yang sudah tak lagi molor itulah, keuntungan yang diakuinya tidak seberapa itu sudah mulai stabil. Dari satu unit terjual, Joko dan rekan-rekan bisa meraup hingga satu sampai dua juta rupiah.

"Skalanya kan beragam, dari skala satu banding 15 sampai 20. Harganya juga bervariasi dari empat sampai enam juta. Tapi kan memang bahan bakunya juga nggak murah. Bisa sampai tiga jutaan itu. Paling mahal ya untuk bahan baku RC-nya yang selama ini saya beli online. Tapi kalau untuk busnya, kayu, mika, triplek, cat akrilik, dan sebagainya di toko juga ada," katanya lagi.

Tak sedikit yang membeli berasal dari komunitas penyuka kendaraan remote control. Namun banyak juga penghobi dari komunitas busmania. "Yang jelas yang beli orang-orang tua. Dan paling laku model miniatur adiputro. Semakin tidak minta interiornya dibuat detail, semakin banyak untungnya," tambahnya.

Terhitung ada beberapa varian yang bisa Joko dan rekan-rekan ciptakan. Mulai dari seri keluaran Jetbus, Euro 3, Setra, dan lain sebagainya. "Walau ini cuma bisnis sampingan, tapi sudah dibawa ke pameran mainan anak juga di bagian miniatur RC. Kemarin, pernah di Jakarta, Jogja, Salatiga dan Semarang tentunya," tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up