JawaPos Radar

Kapal Indonesia Dilarang ke Filipina

Dua Nelayan Diculik Kelompok Abu Sayyaf

13/09/2018, 05:50 WIB | Editor: Estu Suryowati
Kapal Indonesia Dilarang ke Filipina
ILUSTRASI. Perahu nelayan bergeladak rendah sangat rawan disatroni perompak. Dua nelayan WNI diculik kelompok separatis asal Filipina, Abu Sayyaf, pada Minggu (2/9). (dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kasus penculikan Warga Negara Indonesia (WNI) yang dilakukan oleh kelompok separatis yang berasal dari Filipina kembali terjadi. Diketahui, dua WNI yang diculik itu merupakan nelayan bernama Samsul Saguni, 40, dan Usman Yusuf, 35.

Keduanya diculik saat berlayar di perairan Pulau Gaya Semporna, Sabah Malaysia pada Selasa (11/9), sekira pukul 02.00 WITA. Buntut peristiwa itu, Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tarakan memberlakukan larangan untuk berlayar ke perairan Filipina.

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Partroli Syaharuddin mengungkapkan, larangan berlayar bagi kapal berbendera Indonesia ke perairan Filipina sudah diberlakukan sejak adanya telegram yang disampaikan oleh Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai pada 2016 lalu.

"Ini sesuai telegram Nomor 129 Tahun 2016 dan sampai saat ini belum dicabut," tuturnya dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Kamis (13/9).

Syaharuddin menuturkan, telegram dikeluarkan semenjak terjadinya penculikan WNI yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf dan kondisi perairan Filipina yang dianggap masih sangat rawan.

Larangan tersebut diutamakan terhadap kapal tugboat yang sering membawa batu bara dengan menggunakan tongkang melalui jalur perairan Filipina.

"Untuk jalur lain, kami pasti minta petunjuk dulu ke pusat untuk mengetahui sampai di mana pelarangan tersebut. Apakah nanti memungkinkan mereka menggunakan jalur perairan yang aman, sehingga kita bisa menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB)," jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kapal yang rawan didatangi oleh kelompok separatis adalah kapal yang memiliki geladak rendah. Geladak yang rendah membuat perompak mudah menaiki kapal.

Tidak hanya itu, kapal dengan kecepatan di bawah 5 knot juga menjadi incaran para kelompok separatis. "Kalau kapal geladaknya tinggi sangat sulit untuk dinaiki ke atas kalau ada percobaan perompakan," bebernya.

Sementara itu, Kepala Fungsi Sosial dan Budaya Firma Agustina membenarkan adanya kejadian penculikan terhadap dua WNI di daerah Semporna, Sabah Malaysia. Namun untuk keterangan resmi, ia belum bisa menyampaikan. Sebab, masih dilakukan koordinasi dengan pihak keluarga korban.

"Untuk keterangan dari KRI Tawau, belum ada dulu. Karena untuk penyampaian penculikan semua disampaikan ke Kemenlu," kata Firma Agustina.

Terpisah, keluarga korban penculikan yang berada di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) Ani menyampaikan, salah satu korban yang diculik adalah keluarga yang sejak lama kerja di Malaysia. "Kami di kampung dapat telepon dari temannya bahwa Hamdan alias Usman diculik saat berada di kapal," kata Ani.

Dia sangat berharap ada upaya untuk menyelamatkan korban penculikan tersebut. Sebab, istri Hamdan sedang berada di Sulbar dan memiliki satu anak. Selama ini Hamdan bekerja untuk keluarganya di kampung.

"Semoga cepat ditemukan, apalagi saat diculik Hamdan sedang kondisi sakit, sesuai informasi yang kami terima dari Tawau, Malaysia," ujarnya.

(jpg/ce1/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up