alexametrics

Udara Palangka Raya Tak Sehat, Siswa Sekolah Diliburkan

13 Agustus 2019, 17:16:38 WIB

JawaPos.com – Udara di langit Palangka Raya, Kalimantan Tegah (Kalteng), sudah masuk kategori berbahaya. Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memutuskan meliburkan aktivitas belajar mengajar bagi anak Taman Kanak-kanak, murid sekolah dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ini berlaku mulai Senin (12/8).

“Melihat pekatnya asap di hari Minggu, maka kami meliburkan peserta didik,” ujar Kepala Disdik Kota Palangka Raya Sahdin Hasan sebagaimana diberitakan Prokal.co (Jawa Pos Group), Selasa (13/8).

Karena kondisi kabut asap fluktuatif, pihaknya pun belum bisa memastikan sampai kapan siswa diliburkan. “Sifatnya belajar di rumah saja, sebab tidak memungkinkan melihat kondisi kabut asap yang pekat,” ungkapnya.

Koordinator kurikulum SDN 6 Palangka Sumarti mengungkapkan, sebelum dipulangkan, anak-anak didiknya sempat belajar pada pagi harinya. Setelah ada instruksi dengan melihat kualitas udara berbahaya, siswa pun akhirnya dipulangkan.

“Sesuai dengan intruksi yang diterima hari ini dipulangkan tapi besok sekolah kembali namun jika kondisi udara masih sama mungkin akan sama seperti hari ini, kita menunggu intruksi saja besoknya,” ucapnya.

Sementara Surat Kepala Dinas Pendidikan Prov Kalteng No 421/1391/Disdik/VIII/2019 kepada kepala sekolah SMA se-Kalteng menyebut bahwa kabut asap yang pekat berada di wilayah Kota Palangka Raya dan sekitarnya, sedangkan di beberapa kabupaten kondisi aman terbebas dari kabut asap. Karena itu proses pembelajaran SMA/SMK/SLB di kota Palangka Raya diundur awal masuk belajarnya dimulai pukul 07.30 WIB dengan lama jam mata pelajaran 30-35 menit.

Kemudian selama siswa mengikuti proses pembelajaran harus memakai masker. Setiap ruangan diupayakan dipasang kipas angin serta pintu jendela ditutup agar kabut asap tdk masuk ruang belajar. “Kita tidak serta merta meliburkan. Tidak bermodal data sehari sebelumnya,” ujar Sekda Kalteng Fakhrizal Fitri usai mengikuti rapat gabungan Satgas Karhutla.

Pihaknya pun meminta agar Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya berkoordinasi lebih dulu sebelum meliburkan siswa didiknya. “Saya berharap koordinasi dengan kita. Karena satu lokasi, keputusan harus bersama,” kata Fakhrizal.

Sementara sejauh ini Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Pm10 mencapai 495. Artinya kualitas udara di Kota Palangka Raya berbahaya dan jika terhirup dapat mengakibatkan Inspeksi Saluran Pernapasan (ISPA) bagi masyarakat yang mempunyai penyakit seperti Asma. Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya enggan untuk menaikan status siaga menjadi tanggap darurat.

“Sementara untuk kondisi kabut asap di kota fluktuatif. Harus sesuai dengan SOP yang ada untuk menaikan tanggap darurat,” ujar Wakil Wali Kota Palangka Raya Umi Mastikah saat ditemui usai rakor lintas lembaga di kantor BPBD Kota Palangka Raya, Senin (13/8).

Umi menegaskan, dalam rapat itu pihaknya mengkaji bagaimana mengatasi karhutla sebagai upaya dalam peningkatan sinergitas bersama. Sementara Plt Kepala BPBD Kota Palangka Raya Supriyanto menjelaskan, untuk peningkatan status tanggap darurat diperlukan empat indikator yang menjadi faktor utama dalam penilaian pemerintah.

Pertama adalah faktor kesehatan, ekonomi, transportasi, dan pendidikan. “Selama empat faktor ini belum terpenuhi, maka kenaikan status menjadi tanggap darurat belum bisa dilakukan. Saat ini meningkatkan kewaspadaan saja. Yang jelas aspek terganggunya penghidupan dan kehidupan masyarakat menjadi aspek utama kita juga,” jelasnya.

Siapkan Rumah Aman

Sekda Kalteng Fakhrizal Fitri mengatakan, Pemprov Kalteng akan menyiapkan rumah aman atau ruang oksigen. Pemprov sejatinya sudah siap dan sudah menyediakan di RSUD dr Doris Sylvanus. Tapi, nantinya juga akan didirikan di Kantor Dinas Kesehatan Kalteng, Kantor Dinas Sosial, dan puskesmas.

Akan ada pula petugas medis yang mendampingi. “Petugasnya kami siapkan. Karena harus ada. Untuk mencegah keracunan, karena diberi oksigen maksimal 15 menit,” terangnya.

Terpisah, Direktur RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya drg Yayu Indriyati mengungkapkan, jumlah penderita ISPA mengalami peningkatan hampir 50 persen dari bulan sebelumnya. “Sehingga kita menyediakan rumah oksigen dengan enam bed di rumah sakit. Sebelumnya juga Dinas Sosial juga telah membuka rumah oksigen,” ungkapnya.

Keberadaan rumah oksigen tersebut untuk memfasilitasi kepada masyarakat yang membutuhkan layanan akibat sesak napas karena dampak dari kabut asap. Berdasarkan data yang dihimpun hingga 12 Agustus 2019, pasien ISPA mengalami peningkatan. Jika sebelumnya untuk pasien ISPA rawat jalan 34 pasien dan rawat inap 10 pasien, kini penderita ISPA mencapai 51 orang untuk rawat jalan dan 15 orang rawat inap.

Editor : Fadhil Al Birra



Close Ads