alexametrics

Setahun Bom Surabaya, Hubungan Lintas Iman Makin Erat

Upaya Hapuskan Trauma Tahun Lalu
13 Mei 2019, 17:13:38 WIB

JawaPos.com – Setahun sudah metropolis blast (bom Surabaya) berlalu. Meski sempat membuat kacau situasi, Surabaya terus bertahan. Tidak jatuh dalam sektarian. Arek Suroboyo membuktikan bahwa bom sekadar menggoyang, tapi tidak menghancurkan. Malah, hubungan sosial antaragama makin erat. Aparat juga semakin erat bergandengan dengan masyarakat.

Karena itulah, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro tidak memiliki peringatan khusus terkait peristiwa kelabu setahun lalu tersebut. Kemarin (12/5) aktivitas ibadat rutin setiap Minggu di GKI Diponegoro berlangsung normal. Kebetulan, temanya sama dengan kejadian 13 Mei 2018. Yakni, tentang ibu. Tema itu memang sudah dijadwalkan tiap tahun pada Minggu kedua Mei. “Kalau pas 22 Desember (Hari Ibu), sudah fokus ke Natal,” ujar Ketua Bidang I Urusan Ibadah Daniel Theophilus Hage.

Daniel ingat betul, tema ibadat saat insiden bom kala itu adalah Allah yang Berhati Ibu. Namun justru tak disangka, sesuatu yang sangat bertolak belakang terjadi di depan gerejanya. Puji Kuswati, pelaku bom bunuh diri, mengajak serta kedua anak perempuannya: Fadhila Sari, 12; dan Famela Rizqita, 8. Ketiganya tewas di lokasi kejadian.

Daniel yang kala itu menjabat ketua majelis GKI Diponegoro juga merasa bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi. Dukungan dari berbagai kalangan terus berdatangan. Dari situlah, dia mengambil hikmah atas peristiwa kelam tersebut. Hubungannya dengan para pegiat lintas iman semakin erat. “Bahkan, sama ojek online yang dulu ikut bantu juga masih baik sampai sekarang,” tuturnya.

Hal serupa terjadi di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan, Jalan Arjuno. Ibadat raya sesi I berakhir di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan pukul 07.56 kemarin. Ratusan jemaat berbon­dong-bondong keluar dari pintu samping dan lantai 2 gereja.

Pagi itu, setelah memimpin doa penutup, Pdt Yonathan Biantoro Wahono masih sibuk melayani jemaat. Yang datang kepadanya untuk meminta doa. Sambil memegang kepala jemaatnya menggunakan tangan kanan, dia membacakan doa keselamatan dan kelancaran.

Tidak ada yang istimewa dalam ibadat raya yang rutin diselenggarakan setiap Minggu tersebut. Semuanya berjalan lancar. Normal seperti biasa. “Kami tidak punya peringatan khusus untuk memperingati peristiwa bom tahun lalu,” ucapnya kepada Jawa Pos Minggu (12/5).

Pengurus gereja juga membentuk beberapa tim. Salah satunya tim besuk. Tugas mereka setiap hari berkeliling ke rumah jemaat untuk memberikan doa dan semangat.

Sementara itu, Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) memanfaatkan momen tersebut untuk menguatkan keimanan jemaatnya. Kini, peristiwa satu tahun silam itu justru membuat jemaat gereja SMTB semakin bersatu. Menguatkan iman dan menyambung silaturahmi lintas agama. Kegiatan tersebut akan dipusatkan hari ini pada pukul 15.30 di SMTB.

Pastor SMTB Romo I.Y. Sumarno mengatakan, peringatan satu tahun peristiwa iman pada 13 Mei 2018 tersebut akan digunakan untuk rosario. Yakni, mendoakan para korban meninggal akibat bom bunuh diri. Kegiatan rosario itu akan diikuti umat Katolik.

Kemudian, dilanjutkan misa kudus untuk umat. Dalam misa kudus tersebut, para tokoh lintas agama juga diundang. Mulai agama Islam, Khonghucu, Buddha, Hindu, hingga kepercayaan. Ada pula penampilan seni yang akan dilakukan masing-masing perwakilan agama. “Acara misa kudus besok (hari ini, Red) untuk mengenang sekaligus memperingati peristiwa iman di mana bom bunuh diri tersebut terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela,” katanya.

Lakukan Doa Bersama Antar Pemuka Agama

GEDUNG Mapolrestabes Surabaya menjadi saksi bisu bagaimana satu keluarga teroris meledakkan bom di pintu gerbang markas kepolisian tersebut. Hari ini (13/5) genap satu tahun sejak peristiwa memilukan itu terjadi.

Ledakan di Mapolrestabes Surabaya sejatinya terjadi pada 14 Mei 2018. Namun, sehari sebelumnya, ada tiga ledakan dahsyat di tiga gereja berbeda di Kota Pahlawan. Puluhan korban berjatuhan. Ada yang mengalami luka ringan, berat, sampai meninggal dunia.

Di Mapolrestabes Surabaya ada empat anggota kepolisian yang menjadi korban. Mereka adalah Bripda M. Taufan, Bripda Rendra, Aipda Umar, dan Briptu Dimas Indra. Empat polisi yang bertugas di pos penjagaan itu terkena ledakan bom yang dibawa Tri Murtiono, Ernawati, dan ketiga anaknya. Untung, para anggota mengenakan rompi antipeluru dan hanya mengalami luka-luka. Dalam peristiwa tersebut Tri dan Erna meninggal di tempat.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandy Nugraha mengajak para tokoh lintas agama berkumpul untuk berdoa bersama Sabtu (11/5). Yang hadir para tokoh dari agama Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha. Doa dipanjatkan untuk korban yang meninggal maupun keluarga yang ditinggalkan. “Semoga para korban diberi tempat yang terbaik di akhirat dan semoga keluarga korban selalu diberi ketabahan dan keikhlasan” ujarnya.

Sandy mengaku sengaja mengumpulkan tokoh dari berbagai agama. Itu menjadi salah satu wujud toleransi antarumat beragama. Artinya, sesama manusia harus saling menghormati dan menghargai meski berbeda keyakinan.

Menurut Sandy, peristiwa bom tersebut dipicu adanya pihak yang tidak bisa menoleransi perbedaan. Masuknya paham radikal menjadi salah satu penyebab. Padahal, perbedaan harus menjadi tumpuan untuk merajut persatuan. “Justru kekuatan kita ada pada perbedaan tersebut. Baik suku, agama, maupun kebudayaan,” tuturnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (elo/din/ayu/adi/c9/c6/ano)



Close Ads