alexametrics

Cerita Keluarga Para Pelaku Terorisme Bom Surabaya

Ibu-Anak Terpisah dan Merasa Takut Dikucilkan
13 Mei 2019, 16:31:41 WIB

Pelaku bom bunuh diri tidak hanya menyengsarakan masyarakat, tetapi juga keluarga. Para keluarga pelaku itu mengalami banyak kesulitan.

Wahyu Zanuar Bustomi-Eko Hendri, Surabaya

TIDAK ada yang bisa melawan garis Ilahi. Termasuk tiga anak dan istri almarhum Dedi Sulistiantono alias Teguh, terduga teroris bom Surabaya yang tewas tertembak di tempat kosnya di Jalan Sikatan 4/6A, Surabaya, 15 Mei 2018. Bagaimana tidak, kini ibu dan anak itu harus terpisah.

Mereka tak dapat bertemu. Mereka hanya bisa berjumpa melalui surat. Orang tua mana yang tidak merindukan anaknya untuk bisa bertemu. Begitu juga sebaliknya. Namun sayang, perasaan rindu Diva, Farin, dan Haikal dengan ibunya, Yanti, hanya mampu dituangkan dalam secarik kertas. Itu pun terjadi pada Januari lalu.

Perjalanan surat dari tiga anak tersebut untuk sampai ke ibunya pun tak mudah. Sebab, keberadaan Yanti belum diketahui secara pasti. Dia berpindah ke lokasi baru setelah penangkapan suaminya tersebut. ”Alhamdulilah ada wali murid yang masih komunikasi baik dengan Bu Yanti,” ucap Siti Muniro, guru mengaji Haikal, Sabtu (11/5).

Surat itu dibawa langsung dari Jakarta mengingat Diva dan dua adiknya kini sedang diasuh di tempat khusus. Menurut Iro, sapaan akrab Siti Muniro, tulisan anak-anak tersebut dibawa langsung oleh pengasuhnya.

Dengan didampingi polisi, pengasuh yang membawa surat itu menuju ketua RT TKP penangkapan Teguh. Tujuannya, menyampaikan pesan yang ditulis Diva, Ferin, dan Haikal. Sebab, selain menulis surat untuk ibunya, tiga anak tersebut menyurati teman akrab masing-masing. Termasuk memberikan surat khusus untuk Iro. ”Kalau surat yang untuk saya ini ditulis Diva,” jelasnya.

Membacanya pun tak boleh sembarangan. Semua orang yang diberi surat dikumpulkan di rumah Didik, ketua RT 4, RW 2, Manukan Wetan, Tandes. Setelah tiga sahabat mereka berkumpul, barulah surat tersebut dibagikan sesuai permintaan Diva, Farin, dan Haikal

Pesan yang dituliskan Diva untuk Iro tidak panjang, tetapi menyentuh hati. Isi suratnya, Diva yang selaku anak tertua menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Iro. Sebab, dia dan dua adiknya sudah ditemani pada malam kejadian penangkapan orang tuanya itu. Maklum, perempuan 43 tahun dan suaminya tersebut ikut mendampingi hingga mereka dibawa ke polda.

Bahkan, yang membuat mata Iro memerah adalah Diva masih mengingat sandal dari dirinya saat di Detasemen Gegana, Satuan Brimob Polda Jatim. ”Sandal dari Ibu Iro untuk saya dan adik masih kami simpan. Makasih banyak ya Bu,” tulis Diva di surat tersebut.

Yang membuat Iro kepikiran hingga sekarang, setelah penangkapan orang tuanya atau malam sebelum berpisah, Diva sempat menyenderkan kepalanya ke Iro. Diva mengaku malu, sedih, dan ingin belajar di pondok. Maklum, Diva dan adiknya saat itu sudah tak bersekolah. Hanya Haikal yang les dan belajar mengaji di rumah Iro. Itu pun masih berlangsung dua bulan.

Selain itu, Jawa Pos bersilaturahmi ke rumah adik kandung Dita Oepriarto (otak bom Surabaya, Red)untuk kali kedua. Sekilas kediamannya seperti tahun lalu. Yakni, berukuran kecil dengan pagar tertutup rapat. Rumah tersebut tampak sepi jika dilihat dari jalan.

Adik Dita yang bernama Dentri tinggal di Jalan Tembok Dukuh 5/15 bersama keluarganya. Di hunian itu juga ada ibu Dita, Sumijati. Sehari-hari, mereka memiliki usaha laundry pakaian yang cukup sukses.

Berbeda dengan setahun lalu, Dentri lebih tertutup. Perempuan tersebut menolak diwawancarai. Apalagi mengungkit-ungkit masa lalu kakaknya. Dia menganggap masalah itu sudah selesai. ”Mohon maaf. Saya tak bisa bicara lagi,” katanya, lantas menangis. Dia berkali-kali meminta maaf. Dentri juga memjelaskan bahwa ibunya masih shock. Sumijati tak bisa diajak mengobrol.

Seperti yang dikatakan Dentri setahun lalu, keluarga mereka memang sangat terpukul dengan ulah Dita.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (*/c20/ano)