JawaPos Radar

UGM Desak Revisi UU Terorisme Segera Disahkan

13/05/2018, 21:48 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Teror Bom Surabaya
()
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah didesak untuk segera mengesahkan revisi Undang-undang tentang terorisme. Hal itu diperlukan agar dalam penanganan pencegahannya bisa tersusun dengan baik.

Dekan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Erwan Agus Purwanto mengatakan, revisi itu nantinya dapat dijadikan sebagai payung hukum dalam pencegahan kasus terorisme. Selama ini, menurutnya telah terjadi fragmentasi dalam penanganan terorisme.

Hal itu disebabkan karena UU yang mengatur pencegahan belum tersusun dengan baik. "Belum disahkan UU ini karena ada semacam tarik menarik ingin menjadi leading sektornya. Saya kira kalau tidak segera, kepentingan nasional menjadi korban," katanya di sela pernyataan sikap UGM merespon aksi terorisme, Minggu (13/5).

Dekan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Erwan Agus Purwanto
Dekan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Erwan Agus Purwanto (dok. Humas UGM Yogyakarta)

Ketika nantinya ada pengesahan, maka harapan ke depannya ada sinergitas yang tercipta. Baik dari TNI, Polri, maupun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). "Sekarang belum jelas pembagiannya, seperti saat di Brimob (teror di Mako Brimob) kemarin," paparnya.

Terpisah, Dosen Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Gugun El Guyanie sekaligus Sekretaris LPBH PWNU DIY mengatakan, terorisme yang meledak karena bom di 3 gereja di Surabaya, Minggu (13/5) tadi tidak boleh diseret dalam pusaran isu politik dan agama.

"Terorisme, siapapun korban dan aktornya, adalah kebiadaban atau extra ordinary crime. Tidak ada kaitannya dengan agama manapun, dan tidak ada kaitannya dengan kelompok politik manapun," katanya dalam rilis yang diterima JawaPos.com, Minggu (13/5).

Ajaran suci semua agama, dikatakannya, mengajarkan cinta damai dan menjunjung tinggi nyawa makhluk Tuhan. "Di dalam Alquran mengajarkan, barangsiapa membunuh satu jiwa, sama saja membinasakan kehidupan seluruh umat manusia. Sebaliknya, barangsiapa yang melindungi satu jiwa, maka sama saja menjaga kehidupan seluruh ciptaan Allah," ujarnya.

Di tahun politik, 1 bulan menjelang pencoblosan, kemudian 1 tahun menyambut Pemilu 2019, isu terorisme sangat potensial untuk dijadikan materi kampanye antar kekuatan politik yang akan bertarung dalam panggung demokrasi.

Tentu ada kelompok yang akan menyudutkan agama tertentu dengan isu jihad. Sebaliknya akan muncul kubu yang menyudutkan pemerintah yang berkuasa dengan tudingan pengalihan isu, lemah dan buruknya kinerja aparatur Polri.

"Sekali lagi, kita semua, yang masih mencintai tanah air, tempat kita lahir, bumi tempat kita bersujud dengan khusyuk, negeri yang indah seperti penggalan surga titipan Tuhan, harus kita rawat dari hama kebiadaban yang bernama terorisme," pungkasnya.

(dho/JPC)

Alur Cerita Berita

Sejumlah Warga Dievakuasi ke Blok D 13/05/2018, 21:48 WIB
Warga Malang Tidak Takut Teroris 13/05/2018, 21:48 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up