JawaPos Radar

Saldo Puluhan Nasabah Bank di Kediri Raib Secara Misterius

Ratusan Ribu hingga Jutaan Rupiah

13/03/2018, 10:55 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
skimming, hati-hati di atm, ATM
Ilustrasi transaksi di mesin ATM. Diduga, raibnya saldo rekening nasabah di Kediri karena kejahatan skimming yang dipasang di mesin ATM (TONI SUHARTONO/INDOPOS)
Share this image

JawaPos.com - Elvina Khoiru kaget bukan kepalang Minggu (11/3). Warga Kediri, Jawa Timur, itu mendapat notifikasi melalui SMS bahwa dia telah melakukan transaksi melalui kartu debitnya Rp 504.146,49. Meski SMS tersebut diterima pada pukul 21.02, dia langsung meluncur ke ATM untuk mengecek saldo.

Benar saja, ketika dicek ke ATM, saldonya telah berkurang Rp 504.146,49. Padahal, dia tidak melakukan transaksi apa pun. Ketika menerima SMS notifikasi, dia sedang bersantai dengan keluarga.

skimming, hati-hati di atm, ATM
Ilustrasi transaksi di mesin ATM. Diduga, raibnya saldo rekening nasabah di Kediri karena kejahatan skimming yang dipasang di mesin ATM (TONI SUHARTONO/INDOPOS)

"Jumlah pengambilannya agak aneh. Tidak bulat, senilai Rp 504.146,49," katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (12/3).

Merasa dia jadi korban pembobolan rekening bank, keesokan harinya, Senin (12/3), sekitar pukul 12.30, warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadiluwih, itu mendatangi BRI KCU Ngadiluwih. Di sana ternyata sudah ada belasan nasabah yang bernasib sama dengan dia. Mereka mengaku saldonya menyusut meski tidak melakukan transaksi apa pun.

"Saya melapor (pembobolan rekening, Red). Dan katanya mau diproses paling lama sekitar 40 hari kerja," lanjut Elvina kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Kemarin, total nasabah yang melapor ke BRI KCU Ngadiluwih 16 orang. Mereka berasal dari tiga kecamatan, yakni Ngadiluwih, Ringinrejo, dan Kras. Lantaran peristiwa itu terjadi di beberapa wilayah, ada kemungkinan jumlah nasabah yang ber­nasib serupa semakin banyak.

Jumlah uang yang didebit secara misterius berbeda-beda. Mujiat misalnya. Warga Desa Ngadiluwih itu baru tahu rekeningnya berkurang ketika hendak melakukan pengambilan kemarin siang. Saat itu dia berencana mengambil uang Rp 5 juta dari total dana Rp 50 juta yang ada di rekeningnya. Ternyata, upayanya itu ditolak mesin. Tidak bisa diproses karena melebihi batasan pengambilan hari itu.

Karena saat itu melakukan transaksi di ATM yang ada di BRI KCU Ngadiluwih, Mujiat langsung menuju petugas. Dia me­nanyakan mengapa tak bisa melakukan transaksi pengambilan. Ternyata, setelah petugas melakukan pengecekan, sebelumnya ada penarikan Rp 10 juta.

"Bingung (uang) saya kok tiba-tiba hilang," keluh Mujiat.

Berbeda dengan Elvina yang mendapat notifikasi lewat SMS, Mujiat tak mendapatkannya. Karena itulah, hingga berencana melakukan pengambilan, dia tak tahu bila ada transaksi misterius di rekeningnya.

Bank BRI Cabang Kediri membenarkan adanya laporan kehilangan saldo secara misterius itu. Menurut Pimpinan Bank BRI Cabang Kediri Dadi Kusnadi, pihaknya telah menelusuri penyebab hilangnya uang nasabah tersebut. Untuk sementara ini, dugaannya adalah kejahatan perbankan dengan teknik skimming. Yaitu, penyadapan data ATM nasabah melalui alat yang dipasang di mesin ATM. "Sehingga pada saat dilakukan transaksi, PIN-nya bocor," jelas Dadi.

Sebenarnya, lanjut Dadi, pihaknya sudah melakukan antisipasi adanya kemungkinan kejahatan dengan skimmer tersebut. Tim ATM dari Bank BRI jauh sebelum kejadian sudah melakukan pembersihan dan penertiban. Melihat adakah hal-hal yang mencurigakan di mesin ATM.

"Sebagaimana diketahui, skimmer itu kecil sekali. Maka, kami selalu melakukan penertiban," ungkapnya.

Terkait dengan kasus itu, Dadi mengatakan, laporan nasabah yang uangnya hilang sebenarnya sudah ada sejak Jumat (9/3). Namun, saat itu hanya ada beberapa orang. Sejak saat itu mereka sudah melakukan upaya penelusuran. Bila ditotal dengan yang melaporkan kemarin, jumlah nasabah yang uangnya hilang bisa mencapai puluhan orang.

Dadi menambahkan, ada kemungkinan pelaku adalah sindikat yang juga melibatkan orang di luar negeri. Itu bisa dilihat dari nominal uang terambil yang tidak bulat. Tapi, ada pula angka di belakang koma. Namun, tetap saja kejahatan tersebut melibatkan orang lokal.

"Ketika dolar atau mata uang asing dikonversi menjadi rupiah, hasilnya memang tidak bulat," terang Dadi.

Pihak Bank BRI menegaskan akan mengganti uang nasabah yang hilang. Namun, nasabah tersebut harus melapor terlebih dahulu ke customer service (CS) Bank BRI. Dengan menyebutkan aduan, nomor rekening, dan jumlah uang yang hilang di tabungan. Nanti pihak bank memberikan kode trouble ticket.

"Dana yang digunakan untuk mengganti uang nasabah dari BRI pusat," jelas Dadi.

Dadi belum berani menjamin rentang waktu pengembalian uang ke nasabah. Apakah cepat atau lambat. Menurut dia, pihaknya akan melihat situasi yang ada terlebih dahulu. Bisa saja pengembalian uang itu berlangsung cepat. Misalnya, ada nasabah yang melapor pada Jumat dan sudah diganti Senin.

Namun, dia mengakui, sistem yang ada belum berjalan maksimal. Itulah yang membuat waktu pengembalian uang nasabah masih relatif.

Soal upaya hukum, Dadi mengatakan bakal bekerja sama dengan berbagai pihak.

"Bisa jadi pihak polisi dan FBI. Karena ini sudah jaringan internasional," terangnya.

Sementara itu, untuk pengamanan nasabah, pihak BRI mengimbau nasabah untuk mengganti PIN. Mereka bisa meminta bantuan teller atau petugas CS. Bahkan, untuk kenyamanan, pihak nasabah bisa memblokir PIN. "Bagi yang belum mengetahui jumlah saldo, maka dilakukan pengecekan," ujarnya.

BRI Matikan Fitur Transaksi Luar Negeri

Dari Jakarta, Direktur Digital BRI Indra Utoyo menyatakan, kasus kehilangan uang nasabah di Kediri sedang diselidiki. Dia menduga hal tersebut disebabkan praktik skimming yang dilakukan sindikat internasional. Modusnya adalah menggandakan kartu ATM nasabah.

"Atas kejadian tersebut, kami sedang melakukan investigasi, baik dari sisi jumlah korban maupun jumlah kerugian yang muncul. Jika memang nasabah BRI terbukti menjadi korban skimming, BRI akan mengganti uang nasabah tersebut," katanya.

Selain itu, BRI sudah menonaktifkan fitur untuk transaksi di luar negeri atas kartu yang terindikasi skimming. Secara umum, lanjut Indra, skimming merupakan kejahatan yang terjadi di dunia perbankan dan bukan hanya BRI. "Kejahatan seperti ini umumnya terorganisasi."

Tindakan pencegahan BRI untuk transaksi luar negeri khususnya ditujukan pada beberapa negara Eropa yang menjadi sarang kejahatan skimming. Transaksi yang ditutup sejauh ini adalah layanan debit. Itu dilakukan perseroan sambil terus memonitor munculnya pola skimming baru dari negara lainnya. "Terkait skimming, sejauh ini kami terus berkoordinasi dengan bank lain dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk meningkatkan pencegahannya," tambah mantan direktur PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) itu.

Indra mengimbau nasabah agar tidak panik serta ikut aktif mencegah terjadinya skimming. Caranya, memperhatikan dengan saksama slot tempat memasukkan kartu automated teller machine (ATM), apakah ada yang mencurigakan atau tidak. Nasabah perlu menutup tangan pada saat mengetik nomor PIN di keypad mesin ATM agar tidak terbaca kamera tersembunyi.

Nasabah di Jakarta Juga Rentan

Pernytaan Bank BRI bahwa kejadian di Kediri mungkin disebabkan skimming dianggap aneh oleh pakar TI Abimanyu Wahjoehidayat. Sebab, semestinya bank sejak awal bisa memastikan, apakah seorang nasabah itu terkena skimming atau tidak.

Abimanyu menegaskan, skimming bukanlah suatu kemungkinan, melainkan sebuah kepastian. "Pihak bank itu bisa me­ngetahui dengan melakukan tracing (penjejakan) dari log yang ada. Tapi, kalau dia bisa ngomong 'kemungkinan', berarti dia sendiri tidak cukup secure atau tidak cukup lengkap log-nya. Sehingga pas kejadian kayak begini, dia tidak bisa memeriksa, transaksi itu terpakai dari mana, lewat mana, kapan, dan lain sebagainya," paparnya.

Sementara itu, kasus layanan perbankan yang tidak aman juga terjadi di Jakarta. Seorang nasabah yang tinggal Kawasan Jakarta Selatan pada 1 Maret tiba-tiba mendapat notifikasi transaksi Ayopop sebesar Rp 10.650. Saldo tidak berkurang karena notifikasi itu berisi permintaan angka one time password (OTP).

Karena merasa kartu debitnya bocor, nasabah bernama Wira tersebut melapor ke Bank BRI. Di sana dia diminta mengganti kartu debit. Namun, setelah kartu debit diganti, peristiwa serupa terjadi. Melapor untuk kali kedua pada keesokan harinya, dia diminta mengganti rekening.

Kasus di Jakarta itu, menurut Abimanyu, bisa disebabkan beberapa faktor. Ada kemungkinan nasabah ceroboh karena tidak menjaga datanya sendiri. Namun, bisa juga disebabkan peretas server atau fasilitas komunikasi yang digunakan untuk transmisi data ketika petugas TI dari suatu aplikasi mem-back up data.

"Ini kalau backup-nya tidak diproteksi dan tidak ada SOP (standard operating procedure) untuk perlindungan data, mungkin ya jebolnya dari situ," jelasnya.

c1/fud/ rin/idr/c10/ang

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up