JawaPos Radar | Iklan Jitu

Honorer 23 Tahun Mengabdi, Diupah Rp 500 Ribu Per Bulan, Itu Pun Harus Memelas

12 Desember 2016, 22:00:00 WIB | Editor: Ilham Safutra
Honorer 23 Tahun Mengabdi, Diupah Rp 500 Ribu Per Bulan, Itu Pun Harus Memelas
Ilustrasi (Amri Rachman Dzulkifri/Bandung Ekspres/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com MEDAN - Nasib yang diterima tenaga honorer K2 di Kota Medan Sumatera Utara (Sumut) sangat memeriskan. Meski sudah lama mengabdi, namun jasanya belum dihargai setingkat upah minimum kota (UMK).

Seperti yang diungkapkan tenaga honorer K2, Lediawati. Dia dan rekan-rekannya tenaga honorer lainnya sangat berharap kebijaksanaan dan kerendahan hati pihak eksekutif serta legislatif untuk mengalokasikan gaji tenaga honorer di APBD 2017 mendatang.

"Kami sangat berharap agar kiranya semua tenaga honor gajinya bisa diusulkan sesuai UMK Kota Medan di APBD 2017," ujarnya kepada Sumut Pos (Jawa Pos Group), Senin (12/12).

Selama ini, imbuh Lediawati, gaji mereka baik sebagai guru maupun tenaga honorer di kecamatan dan kelurahan, dibayarkan per tiga bulan sekali. Itu pun seperti menunggu belas kasihan dari kepala sekolah ataupun lurah dan camat di mana mereka mengabdi.

"Umumnya kami diberi honor Rp 500 ribu perbulan. Terkadang itu harus memelas dulu kepada kepala sekolah atau lurah sebagai pimpinan di tempat kami bekerja," ujar wanita yang sudah 23 tahun mengabdi sebagai staf di Kelurahan Selayang itu.

Di samping mendapat perhatian dari sisi gaji, dia dan tenaga honorer K2 lainnya yang berjumlah sekitar 332 itu bisa diprioritaskan menjadi PNS.

"Sudah dua puluh tahunan lebih juga loh bang, kami masih seperti ini saja. Kami tahu sudah kalah dalam tes CPNS 2013 lalu, setidaknya gaji kami dibuat UMK dan ditampung di APBD. Kami sangat berharap sekali," ujarnya memelas.

Diketahui, sebanyak 332 honorer K2 asal Kota Medan yang umumnya berprofesi guru, gagal seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada 2013 silam.

Pascaberakhir masa berlaku Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56/2012 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Desember 2014 membuat nasib para honorer K2 semakin tidak jelas.

Hal ini menimbulkan kegalauan terkait nasib dan status honorer K2 yang tersisa. Mereka diliputi perasaan kekhawatiran dan kegalauan akan pemecatan dari instansi masing masing.

Belum lagi tingkat kesejahteraan yang juga sangat memprihatinkan, yaitu antara Rp 150 ribu-Rp 300 ribu perbulan.

Ditambah lagi, dengan peraturan yang tidak membolehkan guru honor bekerja di sekolah negeri untuk mengikuti sertifikasi.

Kondisi diperparah dengan adanya UU nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mencantumkan batasan usia maksimal untuk diangkat menjadi PNS adalah 35 tahun.  (**/iil/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up