JawaPos Radar | Iklan Jitu

Sebelum Bohong Dianiaya, Ratna Sarumpaet Tertipu 'Uang Raja Pajajaran'

12 November 2018, 18:20:37 WIB | Editor: Erna Martiyanti
Sebelum Bohong Dianiaya, Ratna Sarumpaet Tertipu 'Uang Raja Pajajaran'
Jajaran Ditkrimum Polda Metro Jaya mengamankan empat pelaku penipuan bermodus 'Uang Keturunan  Raja Pajajaran' beserta plakat Istana Kepresidenan Palsu, Senin (12/11). (Wildan Walid/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Sebelum ditetapkan menjadi tersangka kasus penyebaran berita bohong, ternyata tersangka Ratna Sarumpaet menjadi korban penipuan 'Uang Raja Pajajaran'. Ratna diiming-imingi oleh D, 55, dan R, 55, akan mendapatkan bagian jika membantu pelaku mengambil uang sebesar Rp 23 rriliun yang tersimpan di World Bank.

Maksud hati dapat untung, Ratna Sarumpaet malah jatuh buntung. Dia tertipu uang sebesar Rp 50 juta rupiah yang sudah ditransfer ke rekening milik pelaku. Fakta tersebut terendus saat tim penyidik Ditkrimum Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan kepada Ratna.

Aktivis kemanusiaan itu menyebut kepada penyidik bertemu dengan dua orang berinisial D dan R di sebuah hotel di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sebelum Ratna Sarumpaet menyebarluaskan drama kebohongan penganiayaannya.

Sebelum Bohong Dianiaya, Ratna Sarumpaet Tertipu 'Uang Raja Pajajaran'
Jajaran Ditkrimum Polda Metro Jaya mengamankan empat pelaku penipuan bermodus 'Uang Keturunan  Raja Pajajaran' beserta plakat Istana Kepresidenan Palsu, Senin (12/11). (Wildan Walid/JawaPos.com)

"Jadi ceritanya Bu RS ini diperiksa oleh tim penyidik. Dia menyebutkan bertemu dengan D dan R. Dari hasil pengembangan itu, kami mendapati kedua orang tersebut merupakan pelaku penipuan. Kedua pelaku sempat dipanggil oleh penyidik sebagai saksi," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono di Ditkrimum PMJ, Senin (12/11).

Argo menjelaskan, modus operandi penipuan berkedok 'Uang Raja Pajajaran' yang tersimpan di World Bank dan Bank Singapura itu, sangat rapih dan sistematis. Sejauh ini sudah empat tersangka yang dibekuk jajaran kepolisian.

Kedua tersangka lain yaitu, H dan A. Menurut Argo, para pelaku memiliki peran masing-masing untuk mengelabuhi dan meyakinkan korban agar tertarik dengan ajakan mereka.

Kepada korbannya, para pelaku merupakan seorang trader yang dapat menerbitkan instrumen Bank berupa Stand by Letter of Credit (SBLC) yang diterbitkan dari Bank Swasta senilai 50 Juta Euro atau Rp 800 miliar untuk proyek dalam jumlah besar.

Dalam hal ini, kata Argo, untuk mendapat fasilitas instrumen bank tersebut, tersangka meminta kepada korban untuk menyerahkan dana sebesar Rp 940 juta. Salah satu korban yang melapor kejadian tersebut adalah, TNA.

"Korban itu mau membantu pencairan uang Rp 23 triliun kepada tersangka, alasannya karena ingin diganti. Kemungkinan masih banyak korban lain," ujar Argo.

Tak tanggung-tanggung. Untuk mengelabuhi para korbannya, pelaku R berpura-pura menjadi pegawai staf kepresidenan, lengkap dengan plakat Istana Negara, kartu identitas Interpol dan dokumen yang meyakinkan korban.

Dari hasil pengembangan, terungkap bahwa tersangka lain D mengaku-ngaku sebagai anggota BIN Mayor Jenderal Angkatan Laut. Sementara tersangka H meyakinkan korban bahwa R keturunan Raja Pajajaran.

"Ada juga tersangka A yang mengaku sebagai pegawai PT ABK. Sementara, kita sedang mencari tersangka lain berinisial TT yang masih DPO," terangnya.

Atas perbuatan jahatnya, keempat pelaku dijerat dengan pasal darurat Pasal 378 KUHP dan 372 KHUP dengan ancaman penjara paling lama empat tahun.

(wiw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up