JawaPos Radar | Iklan Jitu

Modal HP Jadul, Pria Pencatut Jawa Pos Sudah Tipu 21 Kantor Pemerintah

12 Oktober 2018, 02:30:59 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Kasus Pemerasan
Didik sendiri mengaku sudah melakukan aksi ini selama kurang lebih 2 tahun, sebelum akhirnya dia berhasil diamankan oleh Satreskrim Polres Batu, Rabu (10/10) lalu. (Fisca Tanjung/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Apa yang dilakukan oleh Didik Purwanto, 55, warga Jalan Kelapa Gading, Kelurahan Rembang, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar ini terbilang nekat. Hanya bermodalkan handphone (HP) jadul dan mencatut nama Jawa Pos, pria pengangguran ini sudah menipu dan memeras pejabat di 21 kantor pemerintah kota (pemkot) maupun pemerintah kabupaten (pemkab). 

Didik sendiri mengaku sudah melakukan aksi ini selama kurang lebih 2 tahun, sebelum akhirnya dia berhasil diamankan oleh Satreskrim Polres Batu, Rabu (10/10) lalu.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Batu, AKP Anton Widodo menyampaikan, penangkapan pelaku berawal dari laporan Kasi Pelayanan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Bambang Iswondo yang menerima SMS berisi penghinaan pada Selasa (3/9) lalu.

Kasus Pemerasan
PEMERASAN: Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Anton Widodo (baju putih) menunjukkan barang bukti kejahatan dan tersangka sewaktu rilis kasus di Mapolres Batu, Kamis (11/10). (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

"SMS tersebut berisi umpatan dan hinaan. Bahkan korban disebut PKI," ujarnya, Kamis (11/10). 

Dia menyampaikan, pelaku telah melakukan aksi serupa di sejumlah kantor pemkab, pemkot, bahkan universitas. Modusnya, beberapa orang dan kantor pemerintahan serta universitas ditelefon dan dimintai bantuan dengan maksud untuk biaya operasi jantung Mas ARY. "Jika tidak direspon, dia (pelaku) akan mengirimkan SMS berupa umpatan dan hinaan," kata dia. 

Beberapa kantor yang sudah pernah ditelefon dan dimintai uang antara lain Kantor Gubernur DIJ, Kantor Gubernur Jateng, Kantor Gubernur Jatim, Pemkab Bantul, Pemkab Gunung Kidul, Pemkab Lamongan, Pemkab Magetan, Pemkab Ngawi, Pemkot Surabaya, Pemkot Sidoarjo, Pemkab Trenggalek, Pemkab Jombang, Pemkab Kediri, Pemkot Kediri, Pemkab Madiun, Pemkot Madiun, Pemkab Malang, Pemkab Ponorogo, Pemkab Blitar, Pemkot Blitar, dan Pemkot Batu. Selain itu juga ada Universitas Brawijaya Malang. 

Anton menyampaikan, dalam melakukan aksinya, pelaku hanya bermodal HP jadul yang tidak dilengkapi dengan aplikasi media sosial. "Lewat HP saja. Dia tidak pernah face to face atau door to door," terangnya. 

Menurut keterangan, pelaku menjalankan aksinya tersebut setelah kenal dengan seseorang yang juga mengaku wartawan. "Awalnya kenal orang yang ngaku wartawan. Kemudian dikasih tips lakukan pemerasan dengan cara seperti itu. Akhirnya ketagihan," kata dia. 

Selama dua tahun terakhir, pelaku telah memeras korbannya hingga total puluhan juta. Uang tersebut pun digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi mengingat dirinya yang menjadi pengangguran. 

Mayoritas, lanjut Anton, aksinya dilakukan di kawasan Jawa Timur. "Sekali minta, jumlahnya bervariasi. Ada yang Rp 100 ribu, Rp 500 ribu, sampai Rp 1 juta," pungkasnya.

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up