JawaPos Radar

Kuasa Hukum Fran Minta Barbuk Pesawat Dihadirkan di Persidangan

Kasus Candaan Membawa Bom di Pesawat

12/09/2018, 05:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Kuasa Hukum Fran Minta Barbuk Pesawat Dihadirkan di Persidangan
Citra Novita AP, pramugari senior Lion Air JT-687 memberikan kesaksian dalam sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di PN Mempawah, Senin (10/9). (Ocsya Ade CP/Rakyat Kalbar/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Pengadilan Negeri (PN) Mempawah kembali menggelar sidang lanjutan kasus candaan bom yang melibatkan terdakwa Frantinus Nirigi, pada Senin (10/9). Itu merupakan sidang keenam dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Mempawah.

Sidang yang dimulai pukul 13.30 WIB hingga pukul 21.30 WIB ini sempat berlangsung alot. Pasalnya, ada beberapa keterangan dari sejumlah saksi yang berbeda antarsatu sama lainnya.

Dalam persidangan perkara yang terjadi di pesawat Lion Air JT-687 saat akan lepas landas dari Bandara Internasional Supadio Kubu Raya itu, sejatinya JPU akan menghadirkan sebelas saksi. Namun hanya sembilan saksi yang bisa hadir dan memberikan kesaksian.

Kuasa Hukum Fran Minta Barbuk Pesawat Dihadirkan di Persidangan
Kuasa hukum Fran, Andel minta ketegasan kesaksian dari saksi Cindy setelah mendengarkan kesaksian dari Edi dalam sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di PN Mempawah, Senin (10/9). (Ocsya Ade CP/Rakyat Kalbar/Jawa Pos Group)

Mereka adalah lima pramugari dan co-pilot pesawat Lion Air JT-687, serta pihak sekuriti Bandara (Avsec). Saksi pertama yang dimintai keterangan adalah pramugari atas nama Cindy Veronika Muaya.

Cindy merupakan pramugari pertama dan yang berhadapan langsung dengan Fran sebelum semua peristiwa 28 Mei itu terjadi. Dalam kesaksiannya, Cindy menyebut, kala itu jaraknya dengan Fran hanya sekitar satu langkah.

Saat itu, sebut Cindy, dia melihat Fran datang ke dalam pesawat dan terlihat kebingungan ketika melihat bagasi di atasnya untuk menyimpan barang yang dibawanya. Cindy pun saat itu juga baru selesai merapikan bagasi penumpang lainnya.

Cindy kemudian meminta Fran untuk meletakkan barang bawaannya ke bagasi. "Bapak silakan barangnya diletakkan di sini, hati-hati," ungkap Cindy dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Rabu (12/9).

Lanjut Cindy memberikan kesaksian, saat meletakkan tas tersebut, sambil tersenyum Fran mengatakan bahwa di tasnya ada bom. "Di tas ada bom. Saya mendengar itu sangat jelas, sangat pasti dan fasih. Saya langsung bilang, Bapak jangan bercanda seperti itu dalam pesawat," ucap Cindy.

Kemudian, Cindy juga memberitahukan hal tersebut ke pramugari senior, Citra Novita Anggelia Putri. Juga kepada Edi Subaidi, sekuriti Bandara (Avsec).

Edi juga dijadikan saksi dalam perkara ini. Sebab, dia yang pertama kali melakukan pemeriksaan terhadap Fran usai menerima laporan dari Cindy.

Dalam kesaksiannya, Edi menyebutkan bahwa Fran tidak ada menyebutkan kata bom saat peristiwa tersebut. Fran, kata Edi, hanya menyebutkan 'ada tiga laptop bu' dalam aksen logat orang Papua.

"Waktu saya tanya, saudara Nirigi bilang 'ada tiga laptop bu'," ungkap Edi di hadapan peserta sidang.

Edi melanjutkan, usai memeriksa isi tas dan memang mendapati barang-barang seperti yang dikatakan Fran. Dia pun kembali menemui Cindy dan menyampaikan adanya kekeliruan pendengaran tersebut.

Kesaksian Edi, diperkuat oleh kesaksian atasannya yang juga menjadi saksi, Rudi Sanjaya. Rudi, menyebutkan bahwa dirinya turut melakukan interogasi awal usai peristiwa tersebut.

Menurut Rudi, Fran sama sekali tidak ada menyebutkan kata bom. Fran juga berulang kali hanya menyebutkan 'awas ada laptop bu'. "Saat di interogasi, Pak Frantinus sempat termenung dan terdiam selama sekitar sepuluh menit," ungkap Rudi.

Rudi juga mengungkapkan bahwa pihaknya hanya melakukan interogasi awal terhadap Fran, sebelum interogasi lanjutan diserahkan kepada pihak kepolisian.

Meski sudah memberikan kesaksian di awal persidangan, pada pemeriksaan saksi keenam, yakni Edi, Cindy dipanggil kembali oleh majelis hakim. Namun, Cindy bersikukuh bahwa yang didengarnya saat itu adalah kata bom.

Bantahan Frantinus

Dalam persidangan ini, Fran diberikan kesempatan untuk menanggapi kesaksian para saksi. Kesaksian dari Cindy dibantah langsung olehnya.

Menurut Fran, ada beberapa kesaksian Cindy yang menurutnya tidak benar. Fran yang duduk di samping kuasa hukumnya mengungkapkan, saat itu dirinya baru tiba dan duduk di kursi sambil memangku tas yang dibawanya.

Dia juga mengatakan bahwa saat itu tidak dalam kondisi sedang kebingungan. Cindy kemudian datang menghampirinya dan meminta untuk meletakkan barang di tempat bagasi.

Usai meletakkan barang miliknya, Fran kemudian duduk kembali. Dia kemudian melihat Cindy memasukkan tas miliknya itu dengan kasar tepat di tempat bagasi yang ada di atas kursinya saat itu.

"Saya bilang, awas Bu, ada tiga laptop di situ (dalam tasnya, Red). Tidak ada bilang bom," tegas Fran.

Bahkan majelis hakim juga terlihat mengernyitkan dahi untuk mendengarkan dan memastikan kalimat yang diucapkan Fran dengan logat kental Papua tersebut. "Jadi intinya, saudara tidak ada bilang 'awas ada bom', tapi 'awas bu' ya," tanya ketua majelis hakim, I Komang Dediek Prayoga kepada Fran untuk meyakinkan.

Sementara itu, kuasa hukum Fran, Andel meminta barang bukti berupa pesawat Lion Air JT-687 dihadirkan dalam persidangan lanjutan nantinya. Pesawat tersebut menurutnya merupakan barang bukti tempat dimana peristiwa kepanikan penumpang itu terjadi.

"Pesawat juga kita minta dihadirkan, tapi tak bisa dihadirkan. Padahal pesawat itu barang bukti lho," ujar Andel, dari Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Andel & Associates.

(jpg/ce1/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up