Ingin Ambil Bola di Rumah Kosong, Bocah 10 Tahun Tertancap Pagar Besi

12/09/2018, 19:59 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Bocah berinisial FAS dioperasi karena tertancap pagar besi di bagian dagu. (Gobang Mahardika/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Musibah tragis harus menimpa FAS, bocah berusia 10 tahun karena dagunya tertancap pagar. Kejadian itu pada saat korban sedang ingin mengambil bola di rumah kosong kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Akibat kejadian ini, FAS harus dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh, Senen, Kota Jakarta Pusat.

Kejadian ini berawal ketika FAS dan kelima orang temannya yang masih duduk di kelas IV SDN 01 Pagi Bungur, Senen, Jakarta Pusat bermain bola seusai salat Jumat di Masjid Darrusalam, Jumat (9/9). Mereka bermain sepak bola dekat sekolah karena masih jam istirahat.

Kondisi bocah 10 tahun yang dagunya tertancap pagar besi usai operasi. (Gobang Mahardika/ JawaPos.com)

FAS dan kelima temannya asik bermain, namun bola yang sedang dimainkannya tersangkut ke dalam rumah kosong di Jalan Mahoni No. 6 RT 05 RW 08 Kelurahan Bungur, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

Saat ingin mengambil bola, FAS memanjat pagar rumah kosong itu. Namun, saat berada di tengah pagar, dia terpeleset besi yang jadi pijakannya. Alhasil, besi runcing yang berada di pagar tertancap di dagunya hingga menembus mulut.

Mengetahui hal itu, kelima teman korban merasa panik dan berteriak minta tolong ke warga sekitar. Lalu warga berdatangan dan melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Mendengar informasi warga, pihak Polsek Senen dan Unit Rescue Pemadam Kebakaran langsung membantu korban.

"Iya, saya bersyukur Alhamdulillah banyak yang nolongin Fikri, ada dari Polsek, Damkar, dan saya juga sempat panggil 'tukang las' untuk memotong besi yang masih tertancap di dagu anak saya" ujar Nina Ariyanti, 41, ibunda FAS saat ditemui di RSPAD Gatot Subroto.

Dari hasil diagnosa dokter, kata dia, FAS mengalami luka robek yang cukup dalam di sekitar dagu, kulit, dan, gusi yang rusak karena besi yang menancap. Pada saat sampai di RSPAD Gatot Subroto, FAS langsung mendapatkan penanganan tepat dari pihak rumah sakit.

Proses operasi yang berlangsung sekitar empat setengah jam berhasil dilakukan dengan bantuan beberapa dokter spesialis khusus anak. "Alhamdulillah ini anak kuat, dokternya bilang super duper kuat, dia gak ngerasain sakit nangispun enggak mas," kata Perempuan berjilbab hitam kepada JawaPos.com.

Pihak RSPAD mengatakan kepada Nina, kalau FAS beruntung luka akibat besi yang tertancap tidak merusak Panca Inderanya. "Alhamdulillah kata dokter lidah sama pendengarannya gak kena(rusak)" ujar Nina.

Namun, Ibunda bocah berusia 10 tahun itu, merasa masih belum bisa merasa tenang jika setelah diagnosa lebih lanjut akan terdapat hal yang tidak diinginkan. "Cuma kita masih belum tahu, kepastian kedepannya seperti apa kan, karena ini masih dalam proses lehernya dulu," ungkap Nina.

Efek nyeri dari pascaoperasi yang dialami Fikri cukup memperihatinkan. Ia mengalami nyeri dan muntah hingga suhu badan yang tinggi selama dua hari setelah operasi dilakukan namun Fikri enggan menampakkan kesedihannya.

"Selama dua hari berturut-turut dia muntah terus, badannya panas sempat juga tambah beberapa kantong darah(transfusi darah). Nangis pun enggak, sampai sekarang ekspresinya begitu aja, diem gitu. Setahu saya dia cuma ngalamin hal itu aja sama lemes gitu" pungkas Nina Ariyanti.

(dik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi