JawaPos Radar

Sering Ngamuk Bawa Parang, Bahar Kini Ditolak Warga

12/08/2018, 20:50 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Bahar ngamuk, bahar berau kaltim, bahaw bawa parang
Bahar dijaga ketat aparat kepolisian. (Prokal.co/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sekretaris Dinas Sosial Berau, Kaltim, Jance Keka menyayangkan adanya penolakan warga RT 1 Kelurahan Gunung Tabur, Berau terhadap Bahar. Menurutnya, meski Bahar kerap melakukan aksi yang meresahkan masyarakat, upaya pengusiran juga dinilainya bukanlah solusi terbaik.

Apalagi Bahar sampai saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai. "Yang penting sehatkan dulu dia (Bahar) di rumah sakit. Kalau sudah membaik, saya kira warga Gunung Tabur khususnya di RT 1, bisa menerima dia kembali," harapnya sebagaimana dikutip dari Prokal.co (Jawa Pos Group), Minggu (12/8).

Sebelumnya, ulah Bahar, 32, yang mengamuk di rumahnya dan Mapolsek Gunung Tabur pada Selasa (7/8) lalu, membuat kesabaran warga RT 1 Kelurahan Gunung Tabur habis. Pasalnya, dari informasi yang dihimpun Berau Post (Jawa Pos Group), Bahar memang kerap membuat resah tetangganya di RT 1 Gunung Tabur, dengan mengamuk tanpa sebab sambil membawa parang.

Hal itu juga dibenarkan Ketua RT 1 Gunung Tabur Zarmili. "Ulahnya ini sudah yang ketiga kalinya. Jadi ketika dia ngamuk, sangat mengganggu ketenangan warga," ujarnya.

Puncaknya, warga RT 1 kini menolak kehadiran Bahar. Karena menurutnya, warga di lingkungannya sangat khawatir dengan keberadaan Bahar. Bahar bisa saja nantinya kembali berulah hingga akhirnya melukai warga, seperti yang dilakukannya kepada aparat kepolisian saat mengamuk di Mapolsek Gunung Tabur, Selasa lalu. "Jadi ini bukan keinginan saya melainkan keinginan warga RT 1," tambahnya.

Lurah Gunung Tabur Lutfi Hidayat menambahkan, ulah Bahar memang sangat mengganggu kondusivitas kehidupan masyarakat di sekitarnya. Bukan di lingkungan RT 1 saja, karena Bahar juga pernah melakukan aksi penyetopan bus perusahaan yang membawa puluhan karyawan.

“Jadi puncaknya kemarin (Selasa) saat Bahar mengamuk yang membahayakan warga sekitar. Bahkan saat itu ada anak yang ingin berangkat sekolah, masyarakat yang ingin bekerja, dan lain sebagainya. Jadi banyak rentetan-rentetannya yang menjadi alasan Bahar tidak diperkenakan lagi tinggal di wilayah sini (RT 1 Gunung Tabur)" jelasnya.

Pihak kelurahan, ujar dia, bukannya tidak menerima kehadiran Bahar di lingkungannya. Tetapi karena ulah Bahar sendiri yang kerap meresahkan warga, membuat dirinya tidak memungkinkan lagi untuk menetap di RT 1 Gunung Tabur.

“Kalau sekali mungkin bisa dimaklumi, tapi ini sudah ketiga kalinya, sehingga tidak menutup kemungkinan perbuatannya akan diulanginya kembali,” sambungnya.

Hal senada disampaikan salah seorang warga RT 1 Eko Waluyo. Dikatakannya, pada 2017 lalu, Bahar sudah berulah dengan menghalang-halangi warga yang ingin beribadah ke masjid. "Kami kira itu sudah selesai, tetapi baru-baru ini berulah lagi. Ya kami sebagai masyarakat ingin kondisi tetap aman dan kondusif. Selain itu kami harapkan ada tindakan untuk memberi efek jera. Kalau memang ranahnya hukum, diproses secara hukum. Kalau ranahnya kedokteran (karena gangguan kejiwaan), silakan direhabilitasi. Disembuhkan,” pungkasnya.

(fab/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up