JawaPos Radar

Bunuh Orang Utan dengan 130 Peluru, Empat Pelaku Divonis Hanya 7 Bulan

12/07/2018, 05:45 WIB | Editor: Estu Suryowati
Bunuh Orang Utan dengan 130 Peluru, Empat Pelaku Divonis Hanya 7 Bulan
Salah seorang tersangka, Nasir, 55, memeragakan dirinya menembak orang utan, saat rekonstruksi Februari lalu. (dok. Bontang Post/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Kasus pembunuhan orang utan di Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang terjadi Februari lalu, kini menemui babak akhir. Saat diotopsi, tim forensik menemukan 130 peluru tertanam di tubuh orang utan nahas tersebut.

Pengadilan Negeri (PN) Kutim pun menetapkan empat orang sebagai terdakwa yakni Andi, 37, Rustam, 37, Muis, 36, serta Nasir, 55. Mereka terbukti bersalah dan divonis tujuh bulan dan denda Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan.

Menanggapi vonis tersebut, Manager Perlindungan Habitat Centre for Orangutan Protection (COP) Ramadhani menyebut vonis yang diberikan pengadilan terlalu ringan. Menurutnya hukuman tersebut tak memberikan efek jera bagi pelaku maupun masyarakat lainnya.

"Selain itu, Hakim juga tidak mempertimbangkan efek kerugian nilai dari upaya pelestarian orang utan di Taman Nasional Kutai (TNK) yang dilakukan sudah sejak lama," ungkapnya dikutip dari Bontang Post (Jawa Pos Group), Kamis (12/7).

Semestinya lanjut dia, Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dipandang sebagai UU yang sangat penting.

"Karena UU tersebut untuk menjaga keberlangsungan konservasi di Indonesia, terutama bagi satwa-satwa langka dan dilindungi oleh negara," ujarnya.

Dhani mengatakan, kasus pembunuhan orang utan yang mendapat vonis rendah, juga terjadi di PN Buntok, Kalimantan Tengah (Kalteng). Kasus pembunuhan orang utan yang ditemukan tanpa kepala di Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, Kalteng itu terjadi 30 Januari 2018.

Polres Barito Selatan menetapkan 2 tersangka atas kasus tersebut. Pada 14 Mei 2018 PN Buntok menyatakan kedua tersangka terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan menjatuhkan pidana penjara selama 6 bulan.

"Namun denda atas perkara tersebut sangat ringan yakni Rp 500 ribu subsider 1 bulan. Ini tentu hukuman yang ringan bagi mereka, dan kami anggap tidak seimbang dengan tewasnya satu orang utan," terang dia.

Namun demikian, COP tetap mengucapkan terima kasih atas kerja cepat kepolisian dalam mengusut tuntas kasus pembunuhan orang utan.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up