alexametrics

Pemilik Barak Sempat Mengira Terduga Teroris sebagai Jamaah Tabligh

12 Juni 2019, 17:34:55 WIB

JawaPos.com – Penggerebekan terduga teroris di Kota Palangka Raya cukup menghebohkan. Selain belum dikenal dan baru 10 hari menetap di Kota Cantik, 12 penghuni barak dua pintu itu dikenal sangat tertutup. Hal tersebut didasarkan pada pengakuan pengurus dan pemilik barak tujuh pintu di Jalan Pinus Permai III, Kelurahan Panarung.

“Kami melihat mereka hanya saat keluar membeli gas, galon, dan sayur. Kebetulan saya juga menjual sayur keliling,” kata pengurus barak Suwarti, ketika berbincang dengan Kalteng Pos (Jawa Pos Grup), Selasa (11/6).

Dikisahkannya, para terduga menyewa dua pintu barak. Bahkan salah satu di antara mereka pernah bertemu dengannya untuk membicarakan soal harga sewa barak sebelum ditempati.

“Ada dua orang laki-laki yang sempat bertemu dengan saya. Belum sampai sebulan mereka menyewa. Diperkirakan baru 10 hari sebelum digerebek. Mereka telah memberikan uang sewa barak senilai Rp1,2 juta. Untuk satu barak Rp600 ribu,” akunya.

Diakuinya, laki-laki yang pernah bertemu dengannya, salah satunya berperawakan pendek, berkulit putih, memiliki jenggot, dan diketahui berasal dari Banjarmasin. Sementara satunya lagi merupakan orang Sulawesi dengan perawakan agak kurus dengan rambut acak-acakan.

“Kalau yang perempuan menggunakan cadar semuanya. Total penghuni barak itu 12 orang, yakni 4 laki-laki, 4 perempuan, dan 4 anak,” imbuhnya.
Para penghuni dua pintu barak tersebut sama sekali tak berkomunikasi dengan tetangga kamar. Tidak ada hal-hal yang cukup mencurigakan selama menempati barak tersebut.

“Saat mereka masuk, kami hanya melihat mereka membawa ransel besar saja. Tidak tahu kalau mereka bawa saat waktu lain. Sementara barang lainnya, kami tak berani untuk melihat ke dalam rumah,” tuturnya.

Sementara itu, Ati yang merupakan pemilik barak mengungkapkan, yang ia ketahui bahwa perempuan penghuni barak miliknya itu mengenakan cadar.
“Saya awalnya mengira mereka itu jemaah tabligh, karena memang kebanyakan mengenakan cadar. Tetapi jemaah tabligh itu kalau salat tidak pernah ketinggalan, baik di masjid maupun di musala,” tuturnya.

“Saya kemudian langsung menyampaikan kepada adik saya untuk hati-hati dengan mereka dan jangan sampai lengah dengan kondisi tersebut,” lanjutnya.
Ati pun menyesal karena belum sempat berkomunikasi langsung dengan penghuni barak miliknya.

“Padahal ada niat untuk nengok lagi ke sini. Tetapi saat ke sini, sudah digerebek polisi. Saya sangat terkejut,” jelasnya sembari mengisahkan bahwa dirinya sangat ketakutan saat adanya penggerebekan. Ia terkejut karena secara tiba-tiba polisi bersenjata mendatangi mereka menjelang magrib.

Dirinya pun mengakui bahwa selama ini ia tidak memberi laporan kepada ketua RT maupun ketua RW ketika ada orang baru yang menempati barak miliknya.
“Makanya ini menjadi pelajaran buat saya ke depan, agar lebih berhati-hati dalam menerima penghuni barak. Minimal meminta fotokopi KTP. Kalau tidak ada, saya tidak akan menerima,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua RT 03 RW XIV, Lamberi mengungkapkan, dirinya tidak mengenal penghuni barak yang telah ditangkap karena diduga teroris. “Mereka tidak ada melapor ke kita. Soalnya rata-rata kalau di barak, jarang untuk melapor ke ketua RT. Kecuali orang baik-baik saja,” ungkapnya kepada Kalteng Pos di Jalan Pinus Permai, Selasa (11/6).

Kapolda Kalteng Irjen Anang Revandoko saat konferensi pers penangkapan teroris di Kalimantan Tengah, Selasa sore (11/6).

Dirinya pun cukup terkejut setelah adanya penggerebekan oleh polisi. “Saya juga belum pernah menemui terduga yang saat ini sudah diamankan oleh polisi. Saat diciduk pun saya tidak melihat dan atau mengetahui wajah terduga. Saya hanya melihat anaknya saja saat mau diangkut,” jelasnya.

Adanya kejadian ini pun menjadi pelajaran berharga baginya dirinya, agar selalu memantau warga baru yang mendiami kompleksnya.
“Menurut aturan harus ada laporan dalam 1 x 24 jam. Itu sangat penting sebagai antisipasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ke depan,” harapnya.

Tata Kembali RT Over-Kapasitas

Peristiwa penangkapan terduga teroris di sebuah barak di Kota Palangka Raya menyita perhatian publik, termasuk Pemerintah Provinsi Kalteng.
“Kami mendorong untuk penataan kembali rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW), terutama yang melebihi 50 kepala keluarga (KK),” kata Penjabat Asisten II Sekda Pemerintah Provinsi Kalteng Nurul Edi, di Aula Eka Hapakat, Selasa (11/6).

Menurutnya, peristiwa penangkapan terduga terorisme di Kota Palangka Raya menandakan bahwa kamtibmas sedang terancam. Perlu dilakukan antisipasi untuk keadaan yang akan terjadi ke depannya.

“Selama ini kita ketahui bersama bahwa Kalteng dalam kondisi aman. Tetapi kita harus tetap waspada. Ini merupakan kejadian yang kesekian kalinya, karena sebelumnya juga sudah ada yang diamankan,” tuturnya.

Kalteng memiliki badan formal yang cukup lengkap, seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (Bais), Polri, dan lainnya. Perlu adanya kewaspadaan dini dalam penanganan terorisme di Kalteng.

“Salah satu persoalan di Kalteng ini adalah RT yang terlalui oven kapasitas dan tak sesuai ketentuan peraturan Menteri Dalam Negeri,” tuturnya.
Dijelaskannya, seharusnya dalam satu RT dihuni 30-50 KK. Kenyataan saat ini bisa mencapai 250 bahkan lebih kepala keluarga dalam satu RT.
“Hal ini yang menyulitkan seorang ketua RT untuk mengawasi dan memantau penghuni lingkungan sekitarnya,”ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong kepada pemerintah kabupaten/kota agar melalui kelurahan kembali menata keberadaan RT dan RW.
“Perlu segera dilakukan pemekaran. Jumlah maksimal dalam satu RT adalah 50 KK. Satu RW terdiri atas 3-6 RT. Sementara dalam satu kelurahan ada 3-9 RW,” terangnya.

Berdasarkan data survei keberadaan RT, kelebihan KK dalam satu RT terjadi di Kota Palangka Raya, Kuala Kapuas, dan Pulang Pisau.

Rehabilitasi Anak Terpapar Paham Radikalisme

Sejumlah anak dari para pelaku dan juga terduga teroris yang saat ini sudah diamankan oleh densus 88 dan juga Polda Kalteng, akan direhbilitasi oleh Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kalteng. Hal ini disampaikan oleh salah satu anggota tim Koordinator LDP Dinsos Kota dan provinsi Eka Raya, Selasa (11/6).

“Berdasarkan permintaan dari pihak Polda dan juga menjadi bagian dari dari tanggung jawab kami, maka beberap anak yang berasal dari keluarga yang terpapar teroris dan juga ajaran radikal ini akan direhabilitasi oleh LDP Kalteng,” ujar Raya usai pres rilis di Polda Kalteng kemarin sore.

Jumlah anak yang akan direhabilitasi oleh LDP rencananya lima orang yang berasal dari palangka Raya, sedangkan dari hasil pengakapan di Gunung Mas, sejauh ini masih belum dipastikan jumlahnya.

Buku Tegar di Atas Tauhid yang menjadi barang bukti penangkapan teroris di Kalimantan Tengah. (Kalteng Pos)

“Kalau yang nanti diserahkan ke kami itu sejauh ini informasinya baru lima orang anak-anak dari para tersangka dan juga terduga teroris yang ditangkap di Palangka Raya. Untuk yang diamankan di wilayah Gumas masih belum ada informasi yang pasti terkait jumlahnya,” kata Raya.

Tidak hanya anak-anak, Raya juga mengatakan ada sejumlah ibu-ibu yang terpapar ajaran paham radkalisme di dua tempat di Kalteng ini yang akan direhabilitasi atas permintaan dari pihak keamanan.

“Dari Polda juga minta rehab dengan yang ibu-ibu usia dewasa atau orang tua dari anak-anak tersebut,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk yang di Palangka Raya jumlah Ibu-ibu usia dewasa yang nanti diserahkan ke LDP itu ada empat orang. Sedangkan dari Gumas belum ada informasi. Total keseluruhan antar ibu dan anak yang direhab diperkirakan dua puluh orang.

Berkaitan dengan proses rehabilitasi yang akan dilakukan, Raya menjelaskan akan terlebih dahulu melakukan konseling psikososial dan sejumlah permainan atau game yang pada intinya mengarakan atau menyadarkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan sebelumnya itu salah dan tidak benar.

“Nanti treatment awalnya itu konseling psikososial dulu lalu dilanjutkan dengan permainan atau game serta membina komunikasi sosial dengan sesama serta menyadarkan bahwa mereka sebelumnya sudah salah langkah atau jalan,” pungkasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : nue/old/ce/ala