JawaPos Radar

Pungli Sumbar

Sopir Angkot Dipungut Uang "Bagak" (1)

12/03/2017, 20:16 WIB | Editor: Ilham Safutra
Sopir Angkot Dipungut Uang "Bagak" (1)
Sopir angkot di Kota Padang kerap jadi sasaran pungli oleh oknum masyarakat dengan mengatasnamakan uang keamanan dan lainnya. (Sy Ridwan/Padang Ekspres/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Upaya pemberantasan pungutan liar (pungli) seperti yang digalakkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum memberikan efek yang signifikan di daerah.

Padahal pemerintah daerah telah membentuk Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). Akan tetapi tim ini belum menunjukkan tajinya. Sehingga praktik pungli di tengah masyarakat tetap saja merajalela.

Seperti halnya di Kota Padang. Sopir angkutan kota (angkot) kerap menjadi sasaran pungli oleh oknum masyarakat. Pungli itu disebut oleh kalangan sopir sebagai uang "bagak".

Data yang dihimpun Padang Ekspres (Jawa Pos Group), praktik pungli itu dialami oleh sejumlah sopir angkot dengan jurusan yang berbeda.

Ditemukan ada oknum pemuda yang meminta uang pada sopir angkot. Para sopir angkot ini menyebutnya uang ”bagak”. Para sopir mengaku paling sering terjadi di kawasan Air Mancur Pasar Raya Padang.

Pertama, pungli yang dialami angkot jurusan Pasar Raya-Indarung. Terpantau ada tiga titik para sopir angkot dimintai uangnya. Ada juga yang berdalih dengan memberikan tisu dan air mineral. Ada juga yang meminta secara langsung. Lokasinya seperti di Bandarbuat, Indarung dan Pasar Raya Padang.

Untuk angkot jurusan Pasar Raya-Lubukbuaya, terlihat ada dua titik di mana para sopir angkot membayar uang ”bagak”. Yakni di Jalan Diponegoro dan Pasar Raya Padang. Uang tersebut dibayarkan ke oknum masyarakat.

Sedangkan angkot jurusan Pasar Raya-Teluk Bayur, juga terlihat ada dua titik para sopir yang membayar uang ”bagak” kepada oknum, yakni di Pasar Gaung dan Pasar Raya Padang.

Rafles, 26, pengemudi angkot jurusan Pasar Raya-Lubukbuaya mengatakan, dalam sehari dia mengeluarkan uang sebanyak Rp 15 ribu untuk hal-hal semacam ini.

Dia menceritakan ada oknum yang berdalih menjual air mineral dan tisu. Meski tak dirasa perlu, namun sopir ini mesti membayar. ”Kadang kami resah akan hal itu, tapi harus bagaimana kami mencari sesuap nasi kami harus mengikuti. Jadi kami berharap kepada pemerintah setempat tolong di basmi hal yang seperti itu,” ungkapnya seperti dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Minggu (12/3).

Erika, 33, pengemudi angkot jurusan Pasar Raya-Telukbayur mengatakan, dalam sehari dia mengeluarkan uang sebesar Rp 20 ribu bahkan lebih. Di Pasar Raya Padang yang lebih banyak dia mengeluarkan uang. Bahkan ada preman yang memakai senjata tajam untuk menggertak. ”Kalau tidak membayar kami diancam,” katanya.

Hamsen, 30, pengemudi angkot jurusan Pasar Raya-Indarung mengatakan setiap pagi ia membayar uang ”bagak” kepada preman di sekitar Pasar Bandarbuat. Kalau di Pasar Raya dia hanya membayar seperlunya kepada preman. Kalau tidak dibayar, mobilnya akan digores.

”Kalau pungutan yang saya katakan itu tak ada karcisnya. Kalau yang resminya ada juga. Yang resmi pakai karcis,” tandasnya. (e/iil/JPG)

Alur Cerita Berita

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up