JawaPos Radar

Pungli Sumbar

Kontraktor Sasaran Pungli Paling Ampuh (2)

12/03/2017, 20:46 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kontraktor Sasaran Pungli Paling Ampuh (2)
Ilustrasi (Rikip/Kaltim Post/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Selain sopir angkutan kota (angkot), kalangan yang tidak kalah sering menjadi sasaran pungutan liar (pungli) di Sumatera Barat (Sumbar), yakni kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintahan daerah.

Pungli untuk kalangan ini disebut dengan "uang takut" yang dilakukan oleh oknum preman atau pemuda daerah lokasi pengerjaan proyek. “Kalau tidak diberi, bahan bangunan dan alat-alat pekerjaan kita bisa hilang,” kata Ahi Dt Rajo Johan, 39, salah seorang kontraktor di Kabupaten Solok seperti Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Minggu (12/3).

Kata Ahi, pungutan uang takut ini hampir terjadi di setiap lokasi pengerjaan proyeknya. Bahkan, ketika mendapat pekerjaan pembangunan di Kecamatan Lembahgumanti, Ahi sudah membayar uang keamanan pada pemuda setempat, namun bahan bangunan tetap saja hilang.

Ahi menyebutkan, berbagai alasan oknum pemuda nagari (desa) ini datang kepada kontraktor ketika mengerjakan suatu proyek pemerintah. Permintaannya pun beragam. Ada yang meminta uang langsung, ada pula yang meminta pekerjaan. Seperti memasukan bahan batu, kerikil, pasir dan sebagainya.

”Tapi, ketika sudah kita berikan kepercayaan, bahan yang diantarnya sering tidak sesuai pesanan. Kalau diingatkan, langsung marah dan tidak mau bertanggung jawab,” bebernya.

Ada pula pemilik tanah yang minta ganti rugi pada kontraktor karena pembebasan tanahnya tidak diselasaikan. ”Kadang di lapangan itu, kita sebagai kontraktor sering seperti kena peras,” sebut Ahi yang enggan menyebutkan besaran uang yang diberikan pada oknum pemuda dan preman itu.

Kendati demikian, pihaknya sebagai pemborong tentu tidak ingin rugi. Melainkan mencari akal, sehingga proyek tetap sesuai spesifikasi pekerjaan. “Pastilah kita cari jalan keluarnya,” sebut Ahi tanpa merinci cara yang dimaksudkan.

Di lain hal, Ahi menilai, keterbukaan lelang pengadaan barang/jasa secara online justru dianggap sebatas tuntutan undang-undang (UU). Untuk menghilangkankan kecurigaan para pemborong dan masyarakat terhadap kinerja daerah.

Selain di Solok, pungli terhadap kontraktor proyek pemerintahan juga terdapat di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar). Seperti yang disampaikan salah seorang kontraktor asal Pasbar yang namanya diminta tak disebutkan. Dia mengatakan, saat memulai pekerjaan ada juga oknum masyarakat di sekitar lokasi  yang meminta uang.

Misalnya, setiap mobil truk yang melintas di persimpangan lokasi proyek harus setor Rp 10 ribu. Lalu ada juga pemuda setempat yang meminta ”jatah”. Kalau tidak diberikan uang, kegiatan proyek itu tidak dijamin keamanannya. Kalau nilainya bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta.

”Saya berkecimpung di bidang kontraktor ini baru sekitar satu tahun ini. Rupanya banyak juga uang keluar yang anggarannya tidak ada dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB),” katanya.

Dia menyebut, padahal di Pasbar, pengukuhan tim Saber Pungli ini telah dilakukan. Hal serupa juga terdapat di Kota Solok.Alasan keamanan dan kelancaran proyek selalu menjadi alasan oknum ini melakukan pungli kepada kontraktor. Bila keinginan oknum itu tidak dipenuhi, tak jarang akan muncul masalah. Ujung-ujungnya pengusaha jasa kontruksi harus berpandai-pandai mencarikan uang sesuai tuntutan.

Seperti yang diakui, Sofinal, 52, salah seorang kontraktor dan pemilik CV Anisa. Dia mengaku tidak sekali dua kali menjadi sasaran pungli atas pengerjaan proyek fisik milik pemerintah daerah. Bahkan saking kesalnya, dia pernah terlibat adu jotos dengan oknum preman.

”Mengerjakan proyek pemerintah tidaklah segampang yang dibayangkan. Justru sangat beragam tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah pungutan liar. Padahal pembangunan tersebut gunanya untuk kepentingan masyarakat juga,” kata Sofinal.

Pengalaman terbaru, pada awal 2016 lalu, mantan Pengurus Kadin era 1990-an ini sempat terlibat cekcok dengan seorang oknum preman di daerah Batusangkar.  Karena ngotot minta uang keamanan senilai Rp 10 juta atas pekerjaan gedung pemerintah. Itu pun uang keamanan sebelumnya juga pernah diminta oleh sejumlah pemuda setempat dengan dalih uang sumbangan sukarela.

”Dia meminta secara paksa, gayanya uring-uringan, hingga saya sempat terpancing emosi mengajaknya berkelahi saja. Setelah sebelumnya dicoba dijelaskan secara baik-baik, malah tidak diterima,” aku Sofinal.

Kontraktor asal Solok lainnya, Yazit Kasim, juga memiliki segudang pengalaman menjadi sasaran pemalakan oleh berbagai pihak terkait pelaksanaan proyek pembangunan di berbagai lokasi. Jumlah uang yang diminta cukup bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga di atas Rp5 juta. Dalihnya rata-rata uang keamanan dan sosial.

Semakin tinggi nilai proyek, akan semakin banyak dan semakin besar pula jumlah uang yang diminta. Hingga membuat kontraktor cenderung tertekan. Kadang memeras dilakukan dengan jalan mencari-cari kesalahan, serta membuat opini yang meresahkan.

Kendati demikian pihaknya terus berusaha agar pekerjaan fisik yang dipercayakan pemerintah tetap terlaksana dengan baik, sesuai kontrak, Rencana Angaran Biaya (RAB). (rch/roy/atn/iil/JPG)

Alur Cerita Berita

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up