JawaPos Radar

Pasca Penyerangan, Jemaat Gereja St Lidwina Lakukan Ini

Bentuk Tim Trauma Healing

12/02/2018, 10:04 WIB | Editor: Soejatmiko
Pasca Penyerangan, Jemaat Gereja St Lidwina Lakukan Ini
Pembersihan di Gereja Katolik Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin (12/2) pagi. (ridho hidayat/jawapos.com)
Share this

JawaPos.com -- Masyarakat sekitar beserta umat Gereja Katolik Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan bersih-bersih, Senin (12/2).  Selepas pukul 23.00 WIB sehari sebelumnya, pihak kepolisian telah melepas garis polisi.

Salah satu jemaat gereja, Watiyo mengatakan, aparat kepolisian sudah mengijinkan beraktivitas di dalam gedung Gereja sejak Minggu (11/2) malam. Pembersihan bercak darah di lantai, kursi, maupun barang-barang yang rusak akan dilakukan sampai Kamis (15/2) mendatang. "Jumat nanti mulai bisa digunakan lagi untuk beribadah," katanya, ditemui di Gereja pada Senin (12/2) pagi.

Jir Harsani, 30, Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, yang rumahnya tak jauh dari Gereja mengatakan, kegiatan ini dilakukan karena merasa risih melihat berserakannya ruangan gedung itu. "Ikut bersih-bersih saja, kebetulan rumah tak jauh dari sini," kata perempuan berjilbab tersebut.

Pasca Penyerangan, Jemaat Gereja St Lidwina Lakukan Ini
Bercak darah (bawah) masih tercecer (ridho hidayat/jawapos.com)

Dari pantauan di lokasi, bercak darah yang masih banyak menempel di lantai dan kursi. Sementara patung-patung lilin yang ada di depan mimbar juga belum dipindahkan.

Pastur Gereja Santa Lidwina Yohannes Dwi Harsanto berharap kejadian pada Minggu (11/2) pagi lalu menjadi yang terakhir di Indonesia. "Kami juga mengapresiasi pihak kepolisian yang telah bekerja dengan cepat. Serta berharap ketegasannya dalam mengungkap kasus ini," katanya.

Sebagaimana diketahui, peristiwa penyerangan terjadi di sebuah gereja di Sleman, menyebabkan beberapa jemaat dan 1 anggota polisi mengalami luka. Korban dibawa ke Panti Rapih Yogyakarta. Sementara pelaku yang dilumpuhkan dibawa ke RS Bhayangkara Yogyakarta dalam kondisi kritis.

Bentuk Tim Trauma Healing

Untuk mengobati rasa trauma terhadap khususnya pada anak-anak dan para orangtua yang melihat secara langsung peristiwa penyerangan yang terjadi pada Minggu (11/2), Gereja membentuk tim trauma healing. 

Pastur Gereja Santa Lidwina Yohannes Dwi Harsanto mengatakan, tim tersebut akan bekerja sesuai dengan kebutuhan para umat nantinya. "Sudah kami bentuk tim, yang juga melibatkan para psikolog. Tim ini sudah punya metodenya untuk mengetahui kebutuhan pasien," katanya, ditemui di Gereja Santa Lidwina, Senin (12/2).

Dikatakannya seluruh umat yang mengalami peristiwa penyerangan itu harus segera bangkit. Kembali berbadah seperti biasa, dan semakin khusyuk. "Kami harus membenahi diri dan bangkit," ucapnya.

Peristiwa penyerangan itu, setidaknya 3 jemaat harus dilarikan ke rumah sakit karena terkena sabetan pedang oleh pelaku. Beberapa diantaranya pun harus menjalani operasi di bagian kepala dan leher.

Selain luka karena fisik, pada psikis umat yang melihat secara langsung peristiwa itu juga diakuinya menimbulkan bekas. Terlebih mereka yang masih anak-anak. "Setiap Minggu kan banyak anak-anak," ucapnya.

Selain pembenahan pada diri umat, pihaknya juga akan memasang Circuit Closed Television (CCTV). Untuk mengantisipasi terulangnya kejadian nahas tersebut.

Dalam perkembangan kasusnya, Mapolda DIY akan menggelar rilis pada Senin (12/2) siang nanti. Mengenai kelanjutan nasib dan keterangan dari pelaku penyerangan bernama Suliono, warga asal Krajan, Rt 2/1, Desa Kandangan, Kecamatan Pasanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

(dho/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up