alexametrics

Prof Ashari, Orang Asing yang Kini Pimpin ITS

12 Januari 2019, 05:55:08 WIB

JawaPos.com – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memiliki rektor baru. Adalah Prof. Mochamad Ashari yang akan menjabat periode 2019-2024.

Ashari terpilih melalui serangkaian tahapan yang ditentukan Majelis Wali Amanat. Penetapannya sebagai Rektor ITS Surabaya juga melalui e-voting atau pemilu rektor dengan 14 calon.

Lalu, apa saja kegiatan Ashari selama berupaya mendulang suara? Hampir sama seperti pemilu di dunia politik. Dia juga harus kampanye untuk mendulang suara dari para civitas akademika ITS.

Ashari mengaku sempat hadir 4 kali sehari pada acara dialog dengan mahasiswa dan dosen selama 1 dari 2 bulan total masa kampanye. Dia dan kandidat rektor lain wajib memaparkan visi, misi, dan program yang dinilai mampu memajukan ITS.

Meski ada kalanya, Ashari juga kebetulan bertemu dengan mahasiswa atau dosen saat jam istirahat kuliah. Namun saat bertemu, Ashari tidak pernah membicarakan soal pencalonannya sebagai Rektor ITS.

“Tapi kalau benar-benar blusukan, nggak ada waktu saya. Capek sekali. Sehari ada 4 departemen se-ITS yang mengundang saya selama sebulan kampanye,” kata Ashari di Kampus ITS Surabaya, Jumat (11/1).

Selama itu, Ashari mengaku merasa asing dan kurang populer di kalangan civitas akademika di ITS. Maklum, dia menghabiskan lima tahun sebagai Rektor Universitas Telkom Bandung. Tepatnya periode 2013-2018.

Apalagi 14 kandidat lain yang menjadi lawannya sudah punya nama dan jabatan masing-masing di ITS Surabaya. Mulai dari dekan, ketua LPPM, kepala departemen dan lain-lain.

“Terus terang ketika diundang berbicara (di depan para mahasiswa dan dosen), saya nggak kenal. Arek enom-enom kabeh (Anak muda-muda semua, red). Apalagi mahasiswa tiap tahun ganti,” tutur lulusan Teknik Elektro ITS Surabaya pada 1989 itu.

Selama sebulan kampanye, usaha Ashari berbuah manis. Mayoritas dosen, mahasiswa, dan karyawan ITS memilihnya. Dia berhasil mendulang perolehan suara tertinggi dan mengalahkan kandidat lain.

Meski demikian, tugasnya belum selesai. Ashari masih perlu merealisasikan banyak hal. Salah satunya membaur dengan kehidupan para civitas akademika ITS.

Dia telah menyiagakan beberapa akun sosial medianya untuk memantau aktivitas mahasiswa. Namun hanya memantau saja, bukan secara aktif berinteraksi.

“Enggak masalah. Ada banyak media (untuk mengenal mahasiswa). Lha anak-anak muda, lihatnya dari Instagram. (Prof punya Instagram?) Ada. Facebook, juga ada. Tapi sudah nggak aktif, hanya monitor saja,” ulasnya penggemar media sosia itu.

Selain itu, Ashari akan mengemban tanggung jawab membawa ITS mendapat predikat kampus inovasi dan riset kelas dunia. Langkah kongkretnya dengan membawa kampus ITS ke arah transformasi digital dan pembukaan program studi internasional.

“2025, kami ditargetkan jadi The World Class Research and Inovation University. Itu target yang telah disusun Majelis Wali Amanat (MWA). Kami, rektor bertugas untuk mencari cara bagaimana itu tercapai,” tutur Ashari.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Aryo Mahendro



Close Ads
Prof Ashari, Orang Asing yang Kini Pimpin ITS