JawaPos Radar

Pertama di Bali, Klungkung Ubah Sampah Jadi Energi Alternatif

12/01/2018, 20:05 WIB | Editor: Imam Solehudin
Ilustrasi Sampah
Bupati Klungkung Bali, I Nyoman Suwirta saat melakukan proses pengelolaan sampah menjadi briket di Desa Pikat pada Jumat (12/01). (Ist/Jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Terobosan demi terobosan terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Klungkung, Bali.

Mereka meluncurkan teknologi pengubah sampah menjadi energi alternatif di Desa Pikat, Jumat (12/1).

Hal tersebut sebagaimana Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2016. Dalam beleid teresbut, pemerintah menetapkan percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah menggunakan teknologi proses thermal incinerator atau pembakaran.

Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta mengatakan, pihaknya menggandeng Sekolah Tinggi Teknik (STT) PLN Jakarta dalam mengimplemensikannya.

"Program ini diberi nama Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) dan merupakan yang pertama di Bali," kata Suwirta dalam keterangan tertulisnya kepada Jawapos.com, Jumat (12/1).

Suwarta optimis bahwa program TOSS akan mengurangi pencemaran lingkungan dan bermanfaat, karena menjadi bahan baku untuk energi alternatif.

“Program ini penting untuk dikembangkan karena dapat menyelesaikan masalah sampah di Klungkung. Polusi, bau, pemandangan tak sedap yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah bisa dihilangkan, bahkan diolah menjadi listrik," jelas dia.

Adapun dalam acara peluncuran tadi siang turut dihadiri General Manager (GM) Indonesia Power, Igan Subawa Putra.

Dijelaskan Suwirta, program ini memiliki dua metode, yaitu peuyeumisasi dan briketisasi. Peuyeumisasi adalah teknik mengubah sampah menjadi gas menggunakan alat bio activator.

Gas tersebut digunakan sebagai bahan bakar menggerakkan generator untuk memproduksi listrik.

"Sementara briketiasi adalah teknik mengubah sampah menjadi bahan bakar briket. Briket nantinya bisa dijual kepada pihak Indonesia Power,” ungkapnya.

Dia menjamin produk briket yang dihasilkan tidak akan menimbulkan aroma tidak sedap pada makanan yang dimasak.

“Jika SOP nya benar, maka saya berani jamin dalam waktu 3 hari bau sampah akan hilang, dan briket tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk proses memasak. Dengan demikian program TOSS ini bernilai ekonomis dan juga ramah lingkungan," pungkasnya.

Sementara, Igan Subawa Putra menyambut positif program ini. Klungkung, kata dia, akan mampu menghasilkan listrik kerakyatan.

“Untuk mendukung rencana pemerintah meratakan kelistrikan dengan program 35 ribu Mega Watt (MW). Kami optimis program ini dapat mereduksi hingga 32 ton sampah dan merubahnya menjadi listrik hingga 5 megawatt," beber dia.

"Jika konsisten, saya yakin bahwa permasalahan sampah di Klungkung akan bisa teratasi melalui program TOSS Gema Santi ini," pungkas Igan.

(mam/rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up