JawaPos Radar | Iklan Jitu

Terungkap di Persidangan, Kronologi Para Perampok Bunuh Sopir Taksi

11 Desember 2018, 22:30:40 WIB
Terungkap di Persidangan, Kronologi Para Perampok Bunuh Sopir Taksi
Jaksa saat memediasi keluarga di ruang mediasi Pengadilan Klas IA Palembang (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Fakta aksi perampokan disertai pembunuhan sopir taksi online di Palembang terungkap dalam sidang terdakwa FR, 16, yang divonis 10 tahun penjara. Mereka melakukan aksinya sangat sadis hingga merenggut nyawa Sofyan, 43.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purnama Sofyan mengatakan, berdasarkan fakta persidangan keempat terdakwa datang dari Dusun III Rompok Betung Desa Sungai Lanang Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara menuju ke Palembang.

Kemudian, sesampainya di Palembang keempat terdakwa menginap di kosan di daerah Balayudha Palembang serta merencanakan aksi tersebut.

"Akbar (buron) menyampaikan aksi ini kepada tiga terdakwa lainnya untuk melakukan pencurian dan memastikan ketiga terdakwa lainnya berani melakukan pembunuhan. Kedua terdakwa Acun dan Ridwan pun menyatakan berani," kata Purnama usai sidang vonis FR di Pengadilan Klas IA Palembang, Selasa (11/12).

Kemudian, pada Senin (29/11) keempat ini menjalankan aksinya dengan memesan taksi online. Tapi, taksi online pertama merupakan keluarga dari Akbar sehingga aksi pun sempat batal.

Kemudian, keempat terdakwa ini pun berkumpul di SPBU di KM 5. Kembali, Akbar mengingatkan rencana aksi dan peran masing-masing terdakwa.

Barulah, kemudian keempat ini meminjam telpon milik saksi TY untuk memesan grab dengan alasan ke tempat travel karena ingin pulang ke Linggau.

TY pun memesankan taksi online dengan tujuan dari SPBU KM5 menuju ke KFC simpang empat Bandara SMB II Palembang. Lalu, didapatlah korban Sofyan dengan menggunakan mobil Sigra.

"Dari fakta persidangan, saat di bawah flyover simpang Polda menuju arah Betung terdakwa akbar ini mengirim pesan ke Ridwan kita rampok mobil ini," jelasnya.

Kemudian, saat di jalan KM 8 Palembang, Akbar pun meminta stop sebentar dan keluar dari mobil untuk mengingatkan aksi dan peran para terdakwa.

Mendekati tujuan, Akbar kembali meminta berhenti taksi online. Namun, ketiga terdakwa tidak melakukan seperti yang direncanakan sehingga keempat terdakwa kembali turun untuk mengingatkan aksi tersebut.

Hingga, sesampainya ditujuan Akbar meminta kembali berhenti. Kemudian, Acundra pun langsung merangkul leher korban. Kemudian, korban pun dibawa ke tengah.

Akbar kemudian, menindih tubuh dan kaki korban agar tidak berontak. Kemudian, FR pun ditugasi untuk mencekik korban dengan kedua tangannya.

Untuk memastikan korban benar-benar tewas, Ridwan kemudian menginjak kepala korban tepat di konsole box hingga berbunyi "krek" dan keluar darah dari hidung dan mulut korban.

"Barulah mereka mengambil posisi berbeda agar tidak terlihat mencurigakan," terangnya.

Dalam pledoi memang FR ini hanya ikut saja karena mendapatkan ancaman. Namun, ada beberapa kesempatan untuk menghindari kejadian tersebut. 

Karena itu, hakim memberikan vonis pasal 340 tentang pembunuhan berencana. Meskipun begitu, dikarenakan FR masih berusia 16 tahun sehingga masuk dalam pasal UU perlindungan anak dengan hukuman pidana penjara 10 tahun.

Meskipun begitu, nantinya vonis ini bakal berkorelasi dengan tuntutan para tiga terdakwa lainnya. Untuk yang dewasa nantinya juga dituntut Pasal 340 dengan ancaman 20 tahun penjara, seumur hidup hingga hukuman mati.

"Saat ini Akbar masih buron sedangkan dua tersangka lainnya masih kelengkapan berkas. Jika lengkap maka akan langsung disidangkan," tutupnya.

Untuk diketahui, selama persidangan vonis FR berjalan lancar. Meski sedikit kisruh lantaran kecewa dengan vonis. Namun, keluarga korban mengerti jika vonis tersebut merupakan vonis terberat untuk anak-anak.

Editor           : Yusuf Asyari
Reporter      : (lim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up