JawaPos Radar | Iklan Jitu

Hasil Sidak di Pasar Lawang

23 Tahun Jual Boraks, Pedagang: Yang Beli Pembuat Bakso dan Kerupuk

11 Desember 2018, 05:40:59 WIB
23 Tahun Jual Boraks, Pedagang: Yang Beli Pembuat Bakso dan Kerupuk
Boraks yang disita Tim Satgas Pangan dari Pedagang Pasar Lawang, Senin (10/12). (Tika Hapsari/ JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - 68 bungkus boraks disita Tim Satgas Pangan saat melakukan sidak di Pasar Lawang, Senin (10/12). Boraks yang disita dari para pedagang ini bermerek Mawar dan Macan.

Warnanya oranye, bentuknya bubuk serta bongkahan menyerupai garam krosok. Pada bungkusnya tertera tulisan 'Happy Gold'.

Untuk ukuran kecil, boraks dijual dengan harga Rp 700 per bungkus. Sekecil itu bisa digunakan untuk satu kilogram bahan. Sedangkan untuk yang bongkahan besar, berukuran sekitar 250 gram, harganya Rp 2.500.

Boraks ini dikenal juga dengan nama kethek atau bleng. Para pedagang mengatakan, barang ini sering dibeli oleh pedagang bakso dan kerupuk. Mereka menganggap boraks bisa membuat bakso serta kerupuk lebih baik dan tahan lama.

Padahal, menurut salah petugas Dinkes yang ikut dalam sidak, bleng ini digunakan untuk membersihkan plak atau kerak pada keramik maupun porselen. Sehingga jelas tidak aman untuk dikonsumsi. Bisa dibayangkan, bagaimana boraks masuk ke dalam tubuh melalui makanan dalam jangka waktu lama.

Bagi oknum-oknum yang ingin mengeruk keuntungan semata, boraks biasa dicampurkan ke makanan. Tanpa memedulikan kesehatan konsumennya, oknum-okum itu menganggap bahwa boraks bisa lebih menghemat biaya. Sebab, dengan tahan lamanya suatu makanan, mereka bisa menyimpan dan kembali menjualnya 2-3 hari setelah dimasak.

Celakanya, ulah oknum-oknum itu juga didukung oleh pedagang boraks di Pasar Lawang. Para pedagang itu tidak tahu bahaya boraks jika masuk ke tubuh. "Saya sudah menjual ini selama 23 tahun. Rata-rata yang beli adalah pembuat bakso dan kerupuk biar hasilnya bagus. Saya tahunya ya itu, dipakai buat bikin makanan," beber Wardoyo pemilik salah satu toko di Pasar Lawang yang kedapatan menjual boraks usai disidak oleh Tim Satgas Pangan.

Wardoyo menambahkan, selama menjual boraks di Pasar Lawang, dia tidak pernah kena sidak. Dia pun mempertanyakan sidak yang dilakukan Satgas Pangan itu. "Kenapa baru sekarang ada kayak gini. Dari dulu nggak pernah ada. Satu deret ini semuanya jual bleng," kilahnya.

Sementara itu, salah satu pedagang lain yang juga kedapatan menjual boraks, Mujiatun mengaku bahwa dirinya mendapat boraks dari seseorang yang mengaku sales. Setiap dua bulan sekali, sales itu mengirim barang. "Kalau buat bakso, bleng itu katanya biar mekar dan kenyal," kata perempuan yang sudah berdagang di Pasar Lawang sejak 30 tahun lalu itu

Setelah sadar bahwa boraks berbahaya buat kesehatan, Mujiatun hanya bisa pasrah. "Saya akan bilang ke pembeli, boraks itu bukan untuk makanan. Saya sudah nggak jual itu," tandasnya.

Editor           : Dida Tenola
Reporter      : (tik/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini