JawaPos Radar

17 Dokter Spesialis Mundur, RS Sulbar Tolak Semua Pasien

11/12/2017, 14:38 WIB | Editor: Ilham Safutra
17 Dokter Spesialis Mundur, RS Sulbar Tolak Semua Pasien
Ilustrasi dokter (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com - RS Regional Sulbar membuat kebijakan ekstrem dalam pelayanan kesehatan. Setelah 17 dokter spesialisnya mengundurkan diri, kini rumah sakit besar itu menolak pasien.

Sejak pengunduran diri para dokter ahli pada Jumat (8/12), sudah dua pasien yang ditolak masuk ke RS Regional. Pertama pada Sabtu, pasien diare atas nama Bulan Indah Sari, 17, warga Karema Selatan, harus dirujuk ke RS Mitra Mamuju. Hal serupa dirasakan Srywahyuni, 2, warga Botteng, Kecamatan Simboro, yang demam tinggi dan harus dirujuk ke RS Mitra.

Kendati demikian, pihak rumah sakit tetap berusaha memberikan pelayanan kesehatan meski harus kerja ekstra. Pasalnya, banyak tugas kontrol yang seharusnya dilakukan dokter spesialis kini diambil alih dokter umum.

17 Dokter Spesialis Mundur, RS Sulbar Tolak Semua Pasien
Ilustrasi ruang perawatan (Pixabay.com)

Salah seorang pasien, Wahid, menceritakan bahwa sejak adanya aksi pengunduran diri yang dilakukan 17 dokter spesialis, pelayanan yang diterima sedikit berubah. Biasanya, dia mendapat jadwal kunjungan pemeriksaan pukul 10.00-11.00 Wita. Namun, pada Sabtu (9/12) pemeriksaan dilakukan sekitar pukul 13.00 Wita oleh dokter yang berbeda.

"Saya awalnya gelisah karena tidak ada dokter yang memeriksa kondisi saya. Namun, setelah tidur siang, anak saya membangunkan karena mau dicek dokter. Kalau saya perhatikan, jadwal pemeriksaan dokter saja yang berubah. Kalau cek infus, obat, dan pengantaran makanan tetap seperti biasa. Entah dengan pasien lainnya," ungkapnya.

Adnan, anak Wahid, menambahkan bahwa pelayanan yang diterima ayahnya tidak terlalu ada perubahan. Hanya, keadaan RS Regional sedikit sepi dibanding hari sebelum aksi pengunduran diri tersebut.

"Biasanya banyak dokter yang lalu lalang, tapi tiga hari ini sedikit. Yang banyak hanya pegawai RS Regional yang membawa makanan atau mengangkut stok obat. Kalau saya amati, yang tutup itu hanya poli, Pak. Karena jika saya disuruh mengambil obat, tetap ada orang. Begitu juga di rekam medik, selalu terbuka," paparnya.

Direktur RS Regional Sulbar dr Andi Munasir membenarkan adanya penolakan pasien di RS Regional. Dia menyatakan, penolakan tersebut dilakukan karena dokter jaga di IGD tidak mampu menangani pasien yang datang.

"Kami takut terjadi apa-apa sehingga langsung kami rujuk. Untuk sementara, IGD hanya dijaga dokter umum. Jadi, jika penyakit pasien parah, akan langsung dirujuk," kata Andi Munasir kemarin (10/12).

Terpisah, Sekda Ismail Zainuddin menyatakan bahwa salah satu langkah konkret yang harus dilakukan adalah mendatangkan dokter pengganti jika 17 dokter spesialis itu mengundurkan diri. Pihaknya juga memerintah direktur RS Regional Sulbar dan Dinas Kesehatan Sulbar untuk menyiapkan dokter pengganti.

"Kami tetap harus melakukan pelayanan kesehatan. Apalagi gedung baru RS Regional akan segera rampung, masak dokternya se­dikit. Ketersediaan dokter yang memadai, utamanya spesialis, sangat dibutuhkan untuk peningkatan status RS Regional menjadi BLU yang kini bergulir," ungkapnya.

Saat dikonfirmasi, Ketua Komite Medik RS Regional Sulbar dr Harpandi Rahim menyatakan, tekadnya untuk mengudurkan diri telah bulat. Dia bersama dokter lainnya tidak bisa bekerja di bawah manajemen yang tidak sejalan.

"Intinya, kalau seorang PNS mengundurkan diri, berarti masalahnya besar. Siapa sih yang nggak mau jadi PNS. Mengenai kelan­jutan nasib kami, tetap menjadi dokter tetapi tanpa ikatan kontrak," pungkasnya. 

(edo/c21/ami)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up