alexametrics

Semua Panik, Tak Ada Tempat Menghindar

Oleh MASANAH*
11 November 2018, 12:08:46 WIB

JaaPos.com – Kami memang menyadari, itu (viaduk, Red) adalah jalur kereta. Sewaktu-waktu kereta bisa saja melintas. Tapi harus bagaimana lagi? Kami terpaksa naik viaduk agar bisa menyaksikan anak kami yang akan tampil di drama kolosal Surabaya Membara.

Jika menonton dari badan Jalan Pahlawan, tidak akan kelihatan. Karena itu, mau tidak mau, kami harus naik ke viaduk.

Meski berjubel, kami tetap mendapatkan tempat. Kami memilih lokasi di sisi selatan tembok pembatas. Agar lebih jelas melihat penampilan putri kami. Saat itu semua masih normal. Acara belum dimulai. Semua orang di atas viaduk masih saling bercanda.

Kami sama sekali tidak sadar ada kereta api yang mendekat. Maklum, semua mata tertuju pada persiapan pentas drama di Jalan Pahlawan. Saya sebenarnya sudah mendengar suara klakson kereta samar-samar. Tapi, kami semua tidak menyangka kereta itu sudah begitu dekat.

Kami baru sadar ketika lampu kereta terasa sangat menyorot. Saat itulah semua panik. Saya melihat banyak orang berlarian ke sana kemari. Sebagian besar berebut menuju pinggir viaduk yang ada cekungannya itu. Tapi, tempat itu terlalu sempit. Kami tidak ada pilihan lain. Mau lari ke tempat lain sudah tidak mungkin. Sebab, kereta mulai memasuki ujung viaduk. Akhirnya kami terpaksa bertahan di cekungan itu.

Saat kereta melintas, jarak kami hanya sekitar 3-4 jengkal dengan gerbong. Kami saling berpegangan satu sama lain. Ada yang saling melindungi. Ada pula yang saling dorong. Maklum, kondisi saat itu panik. Sulit untuk berpikir jernih. Tujuan utama kami sama, yakni selamat.

Satu per satu gerbong kereta melewati kami. Dalam hati, saya terus berdoa dan memikirkan putri sulung kami. Saya hanya bisa pasrah dan berharap dapat bertahan sampai seluruh gerbong lewat. Kami tidak tahu apa yang terjadi di sebelah kami. Sekilas memang terlihat ada orang yang tersenggol sisi samping gerbong. Namun, mereka tidak jatuh karena dipegangi orang lain.

Kami hanya bisa bertahan dengan berpegangan pada tembok pembatas. Terus bertahan. Hingga akhirnya, menjelang tiga gerbong terakhir, petaka itu terjadi. Gerbong kereta itu mengenai kami. Inginnya bertahan, tapi tidak bisa. Kami terjatuh dari viaduk.

Sebelum jatuh, tubuh saya dipeluk suami. Saat melayang jatuh pun, suami tetap memeluk tubuh saya. Tapi, saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semua berjalan begitu cepat. Yang saya tahu kemudian, terdengar suara sirene ambulans. Apa pun suara yang melewati gendang telinga saya, serasa ada angin lewat. Tiba-tiba saya sudah berada di rumah sakit.

Yang saya dengar hanya suara putri saya. Saya dengar dia berkata: “Ibu, maafin aku, Bu. Coba saja Ibu sama bapak tidak datang di acaraku, nggak mungkin sampai kayak gini. Sepurone, Bu.”

Ya, cuma itu. Saya bahagia. Tapi juga sedih. Teringat banyak korban berjatuhan akibat peristiwa itu. Bahkan, ada yang meninggal dunia. Kami hanya bisa berharap kejadian seperti itu tidak terulang di masa mendatang.

*) Warga Kedinding Tengah yang jatuh dari viaduk

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (dan/c9/oni)

Semua Panik, Tak Ada Tempat Menghindar