JawaPos Radar

Sumbar Kekurangan Penyuluh Pertanian

11/10/2018, 19:30 WIB | Editor: Budi Warsito
Sumbar Kekurangan Penyuluh Pertanian
Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno saat memberikan paparan dalam pertemuan koordinasi dan sinegritas DPW, DPD Perhiptani dengan instansi terkait provinsi dan kabupaten/kota di Padang, Kamis (11/10). (Riki Chandra/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sumatera Barat (Sumbar) dikenal sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya bertumpu pada sektor pertanian. Namun, meski sudah dibantu pemerintah dengan bantuan berbagai alat pertanian. Sampai hari ini para petani belum beradaptasi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Candra mengatakan, salah satu penyebab lambatnya adaptasi petani dengan teknologi adalah karena kurangnya jumlah penyuluh pertanian.

Saat ini, terang Candra, Sumbar hanya memiliki 1.348 orang penyuluh pertanian. Idealnya, Sumbar memiliki 2.700 orang penyuluh. "Penyuluh kita masih sangat sedikit. Padahal perannya penting. Penyuluh ini adalah mediator dalam menyampaikan teknologi terbaru pertanian pada petani," kata Candra dalam pertemuan Koordinasi dan Sinergitas Perhiptani dengan instansi provinsi dan kabupaten/kota di Padang, Kamis (11/10).

Pertemuan penyuluh pertanian bertema Meningkatkan Profesionalisme Penyuluh Pertanian Dalam Mendukung Swasembada Pangan dan Menyongsong Pentas Tani Se-Sumbar ini, juga dihadiri Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Lebih lanjut, Candra menerangkan, di tengah keterbatasan jumlah, penyuluh pertanian tetap berupaya menyasar berbagai daerah. "Tujuan banyak penyuluh ini tak lain untuk mencerdaskan petani. Jika petani cerdas dan mampu mengimplementasikan kemajuan teknologi dengan baik, diyakini produksi pertanian pun meningkat," katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, selain kurangnya jumlah penyuluh pertanian, honorium yang diterima penyuluh juga terbilang rendah. Padahal, penyuluh bekerja hampir 24 jam.

"Kerjanya berat, tapi honornya rendah dan hanya setara UMR. Kita ingin, melalui pendekatan Perhibtani ada sebuah kawasan yang mereka (penyuluh) bisa berkegiatan di sana dan menghasilkan keuntungan," kata Irwan.

"Jadi, meningkatnya suatu produksi juga akan berimbas kepada penyuluh. Bisa saja sistem keuntungan produksi itu dibagi untuk penyuluh pertanian," sambungnya.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up